Belajar Suport Sistem dari Gen Z

oleh -1051 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang – Berdagang bukan menjadi cita-cita utama. Ketika bocah-bocah beranjak sekolah dan saya tidak lagi bekerja di media, mulailah membuka toko ATK di rumah. Selain toko kue di Pasar Tawangmangu, Malang setiap pagi.

Awalnya tidak ada saingan, langganan yang jaraknya dua, gang dari rumah mulai membuka usaha yang sama. Dari satu toko kini ada tiga toko serupa di gang lain.

Sebab mental saya bukan sepenuhnya pedagang. Rasa jengkel ada, tetapi tidak mungkin marah, sebab mereka pun ingin menambah penghasilan seperti saya. Saya berusaha berdamai saja membunuh rasa marah. Sekali pun kecil, toko ini menyediakan segala perintilan kebutuhan tugas sekolah, dari jarum, kain flanel, dacron, stik es krim, kelereng, meteran baju, apa saja yang tidak disediakan toko rumahan umumnya.

Diantara yang paling ramai kertas kado langsung jadi. Sesuatu yang saya produksi sendiri, setelah mendapat ilmu dari pelatihan Dinas Koperasi Kota Malang beberapa waktu lalu.

Saya buat sendiri, saya jual sendiri. Untungnya berlipat dua dari kita membeli di pusat grosir. Lantas, para tetangga yang membuka usaha serupa mulai berdatangan, membeli dan dijual lagi. Semula saya tidak suka. Tapi, Bulan-Jingga mengiyakan, menurunkan harga dua ratus rupiah dari harga jual, dengan catatan mereka membeli sepuluh lembar.

“Lumayan, mereka beli di kita. Barang cepat laku. Perputaran uang lebih baik, untuk membangun ekosistem yang baik,” katanya, Rabu (8/11/2023).

Begitulah, Gen Z itu menceramahi saya. Tentang ekosistem dan suport sistem yang baik. Saling menguntungkan, menghilangkan persaingan dengan berkolaborasi. Ya, ini sesuatu yang baru baru bagi saya.

Diskusi kecil kami, tentang kolaborasi bersama pesaing membuka cara pandang baru soal berdagang. Dan membenarkan ciri Gen Z, yang mudah bekerjasama dan menerima perbedaan.

Baca Juga :  11 Ribu Langkah Kenali Kota

Generasi Stroberi yang melekat pada Gen Z, yang dikenal rapuh, mudah tergores dan tidak tahan lama, telah mengajarkan saya pada cara pandang urusan dagang. Dari kerjasama kecil, kini beberapa toko sekitar rumah, malah mengambil dagangan pada saya. Dari kertas kado sampai ATK, karet rambut sampai pita-pita.

Tak banyak saya mengambil untung. Sampai tidak sama sekali, langsung saya berikan harga pokoknya saja. Sebab ia juga memberikan harga pokok pada beberapa kebutuhan memasak yang saya pesan padanya.

Dari ini saya belajar banyak hal, tentang menghargai sesama pedagang. Saling bantu sesama perempuan. Yang pasti tentang membangun suport sistem agar menjadi ekosistem yang baik dan sehat diantara kita. (tqi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.