Mei Sejarah Kelam Reformasi 1998 Dalam Ingatan

oleh -625 Dilihat

Foto: Tqi

KILASJATIM.COM,Malang – Mei 26 tahun silam. Dunia ramai membicarakan demo mahasiswa yang menuntut pertanggung jawaban Presiden Soeharto, atas terjadinya krisis ekonomi, penegakan supremasi hukum dan pelanggaran HAM.

Peristiwa itu menjadi berjarak dengan generasi sekarang. Seolah ada yang sengaja di hilangkan dalam buku pelajaran sejarah. Sebab jarang dibahas. Melalui novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, terbitan Gramedia pada September 2012, Ratna menolak lupa.

Dalam buku setebal 322 halaman, menceritakan masing-masing tokoh dan latar belakang keluarga aktivis, terutama mahasiswa Universitas Brawijaya. Perjalanan membangun kesadaran dan jaringan pertemanan, dengan intel, informan yang memberi info dan masukan soal pergerakan pada mahasiswa.

Sampai pada kejatuhan orde baru dan mundurnya presiden Soeharto, sebab desakan massa. Karena ekonomi tidak stabil, sentimen etnis terutama pada China, meninggalkan kisah tersendiri bagi mahasiswa dimasa itu, juga saya.

Lebih getir lagi, pada Mei, 26 tahun lalu terjadi penjarahan pada etnis Tionghoa disertai dengan kekerasan seks pada perempuan keturunan. Kisah itu turut diramu di sana. Melalui pendekatan Kota Malang yang tidak luas dan saling mengenal. Hingga aksi brutal yang terlihat sistematis tak berjalan baik, seperti di kota lain Jakarta, Medan atau Surakarta.

Dalam novel karya penyandang disabilitas itu, disampaikan aktivis yang hilang tidak mati secara fisik. Tapi dimatikan secara identitas. Seperti dalam kabar yang beredar, para aktivis yang hilang umumnya ditahan, disiksa setelahnya ada yang dimatikan, dikembalikan pada keluarga dan hilang identitas pindah ke luar negeri.

Sosok Neno adalah satu dari aktivis yang hilang identitas dan tinggal di Amerika, sebagai pekerja.

“Saya sepakat jika sastra adalah jembatan, menghubungkan manusia satu dan lainnya. Menghubungkan zaman dan generasi,” kata Cak Hari Pendek pegiat sastra dan pemilik toko buku Bintang Kecil saat berbincang di Kopi Nori, Jl. Dirgantara.

Baca Juga :  Musim Kemarau dan Permainan Tarik-Ulur Benang

Cak Hari Pendek memang benar. Ketika sekolah dan media tak lagi membicarakan sejarah 1998. Maka sastra lah yang merawatnya, menyampaikan pesan sejarah kelam reformasi dari generasi ke generasi. (tqi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.