Masih Ada Jalan Menuju Paris

oleh -1147 Dilihat

Oleh: M. Eri Irawan
Penggemar sepak bola dan pemerhati isu perkotaan

Menyaksikan tim sepak bola Indonesia melawan Uzbekistan dalam babak semifinal Piala Asia U23 di Qatar, Senin (29/4//2024), bagaikan meletakkan harapan pada roller-coaster. Naik turun. Meliuk. Kadang di atas. Kadang di bawah. Menjerit bahagia sesaat. Berteriak kecewa ketika wasit mengambil keputusan yang kita anggap tak adil.

Saat anak asuhan Shin Tae-yong kalah 0-2, kita pun kembali menapak bumi. Setelah Timnas Indonesia mengempaskan Australia 1-0, Jordania 4-1, dan Korea Selatan dalam adu penalti, kita seperti bertamasya ke tanah yang dijanjikan: sebuah prestasi dan kejutan. Kita tak hanya menatap masa depan sebagai Macan Asia yang sedang bangkit, tapi juga mendekap harapan menuju Olimpiade di Paris, Juli 2024 mendatang.

Namun kekalahan melawan Uzbekistan bukanlah akhir segalanya. Masih ada perebutan juara ketiga yang menjadi tiket otomatis menuju Olimpiade, Kamis (2/5/2024). Ini artinya masih ada jalan menuju Paris. Namun lebih dari itu, dari Rizky Ridho dan kawan-kawan kita belajar bahwa bangsa ini sebenarnya bisa bermain sepak bola dengan benar.

Ada tiga hal yang menjadi kunci sukses STY. Pertama, memilih pemain yang benar untuk memperkuat tim ini. Tidak semua pemain yang bertalenta dan berteknik tinggi cocok bermain untuk sebuah tim. The right man in the right place. Pemain yang menguasai teknik dasar bersepak bola dengan benar dan bisa bekerja sama tim lebih dibutuhkan daripada pemain bintang yang tidak memiliki chemistry dengan rekan-rekan satu timnya.

Didier Deschamps, pelatih tim nasional Prancis di Piala Dunia, pernah menegaskan sikapnya dalam memilih skuad. “*I built the best squad, I did not pick the 23 best French players*,” katanya—saya kutip dari sebuah artikel di ESPN. Deschamps membawa Prancis juara Piala Dunia 2018.

Baca Juga :  Ideologi “Mental Pemenang” Erick Thohir Terbukti, Bawa Garuda Muda Jadi Juara

Kedua, mentalitas. STY menggembleng pemain sehingga punya mentalitas bagus. Tidak gentar menghadapi lawan. Bagaikan banteng yang menyeruduk harimau sebagaimana dalam lukisan Raden Saleh. Dengan mentalitas yang baik, para pemain Timnas U23 kita mampu menghadapi semua lawan, bahkan yang lebih kuat di atas kertas.

Ketiga, organisasi. STY punya kemampuan menciptakan organisasi tim di luar dan dalam lapangan. Semua diikat dalam satu kepentingan. *Tak ada lagi perbedaan antara pemain keturunan dan sentimen “local pride”.* Mereka dinilai bukan karena latar belakang, melainkan kemampuan dan kebutuhan tim terhadap mereka. Seorang pemain bintang bisa dibangkucadangkan jika tidak sesuai dengan kebutuhan tim menghadapi lawan tertentu.

Itu semua terlihat saat Indonesia menggilas Australia, Jordania, dan Korea Selatan. Tiga kunci sukses itu dijalankan dengan baik oleh STY. Para pemain pun bersedia untuk bertempur dengan semangat mati di lapangan. Pantang menyerah, sehingga membuat lawan kalang kabut.

Tinggal pertandingan melawan Irak untuk menentukan tempat ketiga sekaligus memastikan satu tiket ke Olimpiade. Tinggal satu kemenangan lagi yang membuka jalan menuju Paris dan meletakkan tim ini ke lapis teratas legenda sepak bola Indonesia. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.