Sebuah Keputusan yang Salah, Cerita Di Balik Karya Penghuni Lapas

oleh -2372 Dilihat

Foto: Kilas Jatim/Tqi

KILASJATIM.COM, Malang – Menulis bentuk terapi dan sarana mengirim pesan moral. Seperti yang dilakukan penghuni LP Perempuan Kelas IIA, Malang dalam buku antologi cerpen “Cahaya Hati Di Balik Jeruji” di Gedung MCC, Senin (22/5/23).

Buku kumpulan cerita pendek tersebut ditulis oleh 38 dari 50 perempuan penghuni Lapas peserta pelatihan menulis yang digelar Lembaga Kebudayaan UMM.

Eva salah satu penulis yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan. Dengan menulis turut meringankan beban psikologisnya. Selain bisa bermanfaat bagi orang lain yang membaca tulisannya.

“Saya berharap agar orang-orang berpikir panjang sebelum mengambil keputusan. Biar tidak seperti saya, gara-gara narkoba saya begini,” kata perempuan yang tahun depan habis masa tahanannya.

Dalam kumpulan cerpen tersebut, ia menulis cerita berjudul “Sebuah Keputusan yang Salah” menceritakan kisahnya yang ingin mendapat penghasilan besar dalam waktu singkat. Sedang orangtuanya telah mengingatkan jika hal yang dilakukan salah, tetapi tidak mendengar nasihat keluarga. Sebab, itu ia menyesal dan tidak ingin orang lain bernasib sama.

Hal serupa disampaikan Indah Nur, menulis kisah tentang pernikahan beda agama yang ditentang keluarga. Ditengah perjalanan pernikahan suaminya selingkuh yang berujung pada pemakaian narkoba. Cerpen tersebut diberi judul Diferensi.

Sedang Kepala Lembaga Kebudayaan UMM, Daroe Iswatiningsih menyampaikan jika kegiatan penulisan dan penerbitan buku ini, hasil kerjasama pihak kampus dan lapas. Kumpulan cerpen ini merupakan buku kedua yang diterbitkan. Buku pertama diterbitkan tahun lalu.

“Antusias menulis mereka sangat tinggi. Saya bandingkan materi kuliah 16 SKS bagi mahasiswa, bisa terserap dan di praktekan dalam waktu singkat. Dalam waktu sebulan mereka sudah bisa membuat karya, meski ditulis tangan dan dalam keterbatasan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dewan Minta Walikota Tindak Tegas PNS Yang Sering Bolos

Sebab itu, ia berharap pada pembaca buku antologi ini agar berkarya. Terutama pada mahasiswa yang memiliki banyak waktu luang, fasilitas dan kebebasan.

Sedang pembicara lain M. Nashir, budayawan dan pengamat sastra menyampaikan, jika menulis adalah terapi dengan menulis beban seseorang akan berkurang. Selain menulis juga harus membaca, untuk membuka wacana dan memperkaya kosa kata.

Untuk mendukung minat baca penghuni lapas, Lilik Sulistiyowati, Plt Kepala LP Perempuan Kelas IIA, berjanji akan membantu distribusi buku hasil karya warga binaannya ke seluruh lapas se Indonesia. Dengan harapan kisah tersebut jadi bahan bacaan sekaligus pembelajaran berharga. (tqi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.