11 Tahun Perjalanan Tumbler Tupperware

oleh -2195 Dilihat

Foto: Tqi

KILASJATIM.COM, Malang – Tumbler ukuran 470 mili liter tergeletak diantara tumpukan barang yang baru dikeluarkan dari gudang. Sembilan tahun setengah kamar berisi perlengkapan memasak dan membuat kue tak dibuka.

Wajan sebesar parabola terlentang bersama panci lurik, dandang bermacam ukuran, kompor gas, blender, mixer, loyang, bak, toples, gelas, cetakan kue dan masih banyak lagi memenuhi halaman kosong di Jl. Lely, Malang (22/1/2024). Saking banyaknya membuat tercengang. Tak sempat mengabadikan.

Anak pemilik lahan menghubungi saya, agar mengambil barang peninggalan ibunya. Sekali pun tidak baru, tapi cukup berguna. Sebab, ia tahu saya suka membuat kue.

Saking berlimpahnya, membuat saya tertegun, apa yang hendak dibawah pulang dan bagaimana caranya. Jaraknya lumayan jauh dari rumah. Baik lah saya memilih mesin adonan pembuat roti. Entah masih bisa bekerja atau tidak. Loyang, cetakan aluminium, open, pisau, gelas ukur, dua panci, dua gorden warna merah jambu dan sebuah meja kayu. Semua disisihkan ditepi jalan.

Ia heran mengapa saya tidak mengambil panci presto yang bertebaran atau dandang yang tak terhitung, toples dan bak untuk adonan yang menggunung. Sebelum warga sekitar ambil bagian. Sebab sejak tadi mereka menunggui kami sambil berbisik-bisik.

Saya kira ini lebih dari cukup. Lantas ia persilahkan warga mengambil apa yang di inginkan. Dari tukang ojek, tukang parkir sampai penjual bakso yang melintas turut rebutan ini-itu.

Ditengah keriuhan itu, saya melihat tumbler hijau tergeletak diantara barang. Seperti tak ada yang melihat.

“Lho ini tupperware,” kata saya, pada anak pemilik barang.

“Ambil saja kalau mau,” jawabnya.

Tumbler itu mengingat kan kami. Sebelas tahun lalu, ketika usaha jualan Tupperware masih ramai-ramai nya. Omset sebulan menyentuh 30 juta-an. Ibunya yang gemar ikut pengajian, pernah bercanda agar ia diciprati tempat minum.

Saya memberinya gelas hijau tersebut. Agar digunakan untuk pengajian, cocok dimasukkan dalam tas dan bisa dibawa kemana-mana. Setelah itu kami tidak bertemu, ia tinggal bersama anaknya di Jawa Barat dan meninggal di sana.

Ketika menyerahkan barang tersebut. Saya sempat terpikir, jika meninggal gelas itu untuk siapa? Begitulah pikiran pelit ini bekerja. Sebab ekonomi anak-cucunya sangat berkecukupan.

Peristiwa itu sangat lama. Saya sudah lupa, setelah seratus harinya, Sabtu (20/1/2024) kemarin dan anaknya membongkar gudang hari ini. Betapa terkejut nya, tumbler turut disimpan. Lebih terkejut lagi wadah minum itu kembali ke tangan saya.

Warga yang berebut, seperti tak melihat adanya tumbler itu. Ketika saya mengatakan ini Tupperware, baru mereka mengoyak kardus tempat benda tersebut menggelinding, menjumpai saya. (tqi)

No More Posts Available.

No more pages to load.