Mengenang 13 Tahun Kepulangan Pengarang Ratna Indraswari Ibrahim

oleh -1175 Dilihat

Foto: Ist/Dok. Pribadi

KILASJATIM.COM, Malang – Terpotong-potong ingatan saya akan dirinya. Setelah 13 tahun waktu berlalu, dengan berjuta alasan sibuk dan kehabisan waktu. Tak sempat menulis sepotong kisahnya.

Waktu itu saya belum genap tiga puluh dua tahun. Ketika langit mendung nan syahdu menemani kami di halaman depan. Saya suapi roti bakar yang telah dipotong kecil, sangat kecil ukuran saya. Dengan garpu saya masukkan satu persatu, sampai suapan ketiga bibirnya tak merespon. “Mbak,” saya tepuk pipinya. Ia diam memandang saya.

“Permisi ya mbak,” saya lihat mulutnya dari bawah. Potongan roti itu tak ditelan, terselip antara gigi dan gusi. Nampaknya ia sulit menelan. Saya ambil dengan tusuk gigi, agar lebih nyaman. Saya suapi air dengan sendok. Karena tak mau makan, jus jambu saya berikan. Dua sendok masih ia telan, pada sendok ketiga jus itu meleleh di ujung bibir. Ambil tisu, bersihkan. Saya khawatir.

Langit mendung, ia diam hanya memandang tanpa suara. Sebelum sarapan, anak kelima dari 10 bersaudara ini masih ngobrol dan berpesan beberapa hal yang saya iyakan.

Saya tak menyangka, jika itu hari terakhir kami bicara. Tiga hari kemudian Senin (28/3/2024) perempuan yang seperti ibu, saudara dan kawan bagi saya, juga bagi semua orang yang mengenalnya, pergi untuk selamanya. Setelah mendapat perawatan di Kamar Melati RSUD dr. Saiful Anwar.

Pagi itu saya bersama Jingga ke rumah sakit. Kesehatannya semakin menurun, layar monitor menunjukkan grafik tak beraturan, suara nafasnya makin keras memburu, membuat dada berdetak kencang.

Saya tak tahan melihat dokter menempelkan alat kejut listrik jantung (defibrillator) pada tubuh ringkih yang dipasangi selang. Badannya tersentak, terangkat sampai dua kali. Dan saya tidak bisa melihatnya untuk sekali lagi. Meski setelah itu nafasnya kembali. Lima belas menit kemudian kabar kematian itu datang ketika kami tiba di rumah.

Baca Juga :  Semoga Tidak Ada Nyawa Seharga Tepung di Gaza

Ya, ia adalah Ratna Indraswari Ibrahim. Seorang pengarang difabel yang produktif. 500 karya dari cerpen, novel dan puisi lahir darinya.

Sekalipun ia tak sempurna, tapi ia merasa tidak cacat. Meski ia sering merasa kesulitan dalam menulis, terutama ketika ide di kepalanya muncul tapi tidak ada yang membantu menuliskan. Sebab tangannya tak bisa digerakkan seperti umumnya, akibat rachitis (radang tulang) yang menyerang persendian tulangnya. Menyebabkan penyempitan tulang tangan dan kaki, setelah mengalami demam tinggi di usia 10 tahun.

“Cacat yang paling mencelakakan adalah cacat hati dan pikiran,” begitu ia pernah berucap.

Pemikiran yang terbuka, membuatnya memiliki banyak teman. Rumahnya menjadi jujukan seniman, budayawan, aktivis dan politisi negeri ini ketika datang ke Malang.

Ini dibuktikan dengan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan, seperti Yayasan Kebudayaan Pajoeng, Direktur LSM Entropic, Pendiri Forum Kajian Ilmiah Pelangi dan masih banyak lagi.

Bagi aktivis era 1990-2000, pasti mengenal Ratna. Sebab, rumahnya kerap menjadi ajang pertemuan dan diskusi politik. Ancaman menjadi hal biasa baginya.

Bagi putri pasangan Saleh Ibrahim dan Siti Bidasari yang berdarah Minang, perlawanan ketidak adilan bukan hanya dilakukan secara fisik, melalui demo atau ajang debat. Juga melalui tulisan. Seperti dalam novel Lemah Tanjung, yang diangkat dari kisah nyata. Perjuangan Bu Hindarsih dan Pak Rahmad yang mempertahankan hutan kota dan daerah resapan air di kawasan Tanjung, Jl. Ir Rais. Yang sekarang berdiri perumahan elit Ijen Nirwana.

Juga novel 1998, yang mengangkat kisah nyata aktivis 1998 dalam proses penumbangan Orde Baru, era Presiden Soeharto. Begitu pula dalam cerpennya, keberpihakannya pada yang lemah terutama perempuan sangat kentara. Seperti pada novelet Batu Sandung, Bukan Pinang di Belah Dua dan masih banyak lagi.

Baca Juga :  Nasi Bhuk dan Aneka Jeroan Cocok Buat Sarapan

Ratna telah berpulang tiga belas tahun lalu. Kemarin, Rabu (24/04/2024) hari kemahirannya. Dan saya baru teringat sekarang. Selamat Ulang Tahun, Al Fatihah. (tqi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.