Perayaan HPN 21 Tahun Lalu

oleh -760 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang – Hari ini sekian tahun lalu, cukup spesial dalam perjalanan kepenulisan saya. Ketika sebuah perusahaan penerbitan memecat empat karyawannya, pada 9 Februari, setelah aksi boikot tidak masuk kerja selama tiga hari. Karena tuntutan kesejahteraan, kenaikan gaji seperti yang dijanjikan.

Dalam perjanjian awal, kami sepakat dibayar pas-pasan. Sebab koran ini masih baru berdiri, tentu oplah dan pendapatan iklan masih terbatas. Mampu menutupi biaya operasional sudah bagus.

“Baiklah, jika sampai Januari oplah diatas lima ribu gaji wartawan dinaikkan,” begitu janji Kepala Biro setempat.

Setahun kami berjuang memperbaiki kualitas tulisan. Mencari celah agar berbeda dari kompetitor dalam satu kota. Bahu membahu bersama bagian iklan dan sirkulasi. Bagaimana cara menjual lembar demi lembar media kriminal. Agar pengiklan berdatangan dan laris berjualan di lapangan.

Saya bekerja sepenuh hati. Bersedia ditugaskan kemana saja, dari pendidikan, keliling kampus dan sekolah di Malang Raya, kriminal, kesehatan sering kali juga menulis sepak bola Arema FC yang berjaya dimasanya.

Sayangnya setiap kali rapat, Kepala Biro merangkap manager iklan selalu menyampaikan penjualan sepi. Oplah belum memenuhi target. Saya percaya saja, sebab ia paling tahu urusan tersebut. Satu lagi yang membuat saya kesal, kami para wartawan selalu disalahkan dan harus bertanggung jawab atas segala pembiayaan penerbitan.

Saya terima dan selalu intropeksi diri. Mungkin kami semua belum bekerja maksimal. Hingga media ini harus menanggung kerugian. Seluruh tim selalu berusaha agar lebih baik menyajikan berita. Hingga pada Nopember dua ribu sekian, oplah mencapai 5.100, dengan retur tidak sampai lima persen. Tidak besar memang oplah kami, jika ditambah pemasukan iklan hasilnya lumayan untuk kesejahteraan karyawan dan pemilik modal.

Membaca laporan tersebut saya bersyukur dan berharap sebentar lagi ada kenaikan gaji. Hingga berganti tahun, pada Januari oplah mencapai 5.400 dengan jumlah retur makin minim. Bahkan seringkali tak tersisa.

Kami menagih janji. Kesejahteraan dan diangkat sebagai karyawan tetap, pada Februari. Para manager dan pemilik otoritas, tak memberi jawaban. Mengabaikan.

“Jika sampai tiga hari mendatang tidak ada perubahan kita boikot saja. Tidak usah masuk kerja, semua hape dimatikan,” saya mengusulkan.

Enam kawan seangkatan setuju. Selama tidak masuk kerja mereka ke rumah, membahas rencana berikutnya sambil ngopi. Setelahnya kami main ke Batu makan es tepi jalan dan kembali pulang. Setelah tiga hati hape baru dinyalakan. Panggilan bertubi-tubi dari nomor kantor dan para senior.

Hari ke empat, kami datang ke kantor. Pejabat dari Surabaya datang, marah besar. Satu persatu di panggil. Tiga kawan dipecat sore itu juga. Saya berpikir, kita harus melawan. Malamnya giliran saya yang diberhentikan.

“Kantor tidak bisa memperkerjakan kamu lagi. Kamu dianggap sebagai penggerak aksi ini,” kata pejabat asal Surabaya yang mewakili perusahaan.

Saya sudah menduga ini bakal terjadi. Saya terima gaji terakhir untuk bulan ini. Dari orang yang wajahnya merah padam.

Esoknya saya datang ke kantor, mengemasi semua barang dalam laci. Sebuah buku yang turut saya amankan, kamus lengkap bahasa Indonesia, yang diberikan pada saya saat pindah tugas ke Malang dari Surabaya.

Manager iklan berwajah dingin. Puas melihat saya angkat kaki. Saya pandangi sekeliling ruang redaksi, ruang rapat dimana saya pernah diluruk Aremania sebab isi berita yang tak mereka harapkan. Ruang sirkulasi, tempat saya mencari koran sisa untuk dibawah pulang.

Kini setelah 21 tahun berlalu. Saya berterimakasih pada kawan-kawan yang menemani proses kepenulisan, kerja keras dan pengalaman tiga hari yang menyenangkan. Pada A. Fathoni, Yuli Ahmada, A. Syaikhu, Yanuar dan Dhani.

Selamat Hari Pers Nasional (HPN) 2024. Tetap independen dalam menyampaikan informasi. Sesuai tema yang diangkat ‘Mengawal Transisi Kepemimpinan Nasional dan Keutuhan Bangsa’, insan Pers diajak untuk berpartisipasi secara positif pada Pemilu 2024. Diantaranya dengan menyajikan informasi Pemilu secara akurat dan berkeadilan. Seperti kata Puan Maharani. (tqi)

No More Posts Available.

No more pages to load.