Tenun Ikat Kota Kediri Harus Digelorakan

oleh
Wali Kota Kediri dengan para desainer yang akan meramaikan Dhoho Street "Pride of Jayabaya".

KILASJATIM.COM, Kediri – Agenda Dhoho Street Fashion digelar Pemerintah Kota Kediri untuk kelima kalinya. Tema yang diambil tahun ini ialah Pride of Jayabaya. Rencananya acara tersebut akan digelar Kamis, (5/12) di Hutan Joyoboyo.

Sehari sebelumnya di tempat yang sama, Pemerintah Kota Kediri menggelar Press conference yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, Ketua Dekranasda Ferry Silviana Abu Bakar beserta para desainer baik lokal maupun nasional seperti Priyo Oktaviano, Didiet Maulana serta Samira M Bafagih. Selain itu, pagelaran Dhoho Street Fashion melibatkan pula siswa-siswi dari SMKN 3 Kediri. Press conference tersebut dihadiri pula oleh para awak media dan admin medsos.

Mas Abu panggilan akrab Wali Kota Kediri mengatakan bahwa sekarang ini tenun ikat sudah mulai dipakai oleh banyak orang. Tidak hanya warga Kota Kediri, namun juga luar kota. “Saya ucapkan terima kasih atas kerja sama yang selama ini terjalin. Tenun ikat saat ini coraknya juga sudah mulai beragam,” kata Mas Abu.

Selain itu, Mas Abu juga mengatakan ada transfer knowledge juga dari para desainer baik itu ke penenun ataupun ke siswa SMK. Ini merupakan hal yang luar biasa. Artinya semakin beragam dan tenun ini bisa diaplikasikan dalam beberapa hal. Misalnya ada yang dipakai tas, baju, dan lainnya.

BACA JUGA: Peternak Lele Kediri Butuh Bantuan Program Kampung Lele

“Kita terus berupaya maksimal agar tenun ini terus menjadi andalan di Kota Kediri bahkan Bu Gubernur juga mengatakan bahwa tenun ikat di Kota Kediri ini harus digelorakan terus di Provinsi. Insya Allah kita akan kemas kampung tenun ini dengan Provinsi Jawa Timur sehingga kampung tenun bisa lebih produktif lagi,” ujarnya.

Mas Abu juga berterimakasih karena melihat beberapa waktu lalu juga sudah mulai muncul anak-anak muda di kampung tenun. “Mereka mau menenun, membikin corak-corak baru dan membikin banyak terobosan. Mudah-mudahan ke depan akan semakin baik dan semakin maju lagi, karyanya juga semakin bagus-bagus lagi dan ini mengedukasi masyarakat Kota Kediri bahwa kain tenun ini juga bisa dipakai untuk jas,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar menyampaikan tahun ini dhoho street fashion kembali bekerjasama dengan ikat Indonesia. “Sangat senang sekali karena mereka ini melakukan sesuatu untuk Kota Kediri khususnya tenun ikat kediri,” kata Bunda Fey.

Seperti yang sudah disampaikan tadi, ini merupakan upaya dari dewan kerajinan daerah Kota Kediri mengupayakan untuk terus mempromosikan tenun ikat Kediri sebagai wastra lokal yang memiliki nilai histori yang sangat panjang. Tenun ikat ini bukan kain lokal yang baru kita ciptakan atau kita create tapi ini produk lama yang punya sejarah di Kota Kediri.

BACA JUGA: Bapenda Jatim Gelar Pengobatan Gratis di Kediri  

Jadi upaya untuk mempromosikan adalah tanggungjawab kita bersama. Harapannya agar tenun ikat Kota Kediri terus dikenal di dalam spot yang sangat luas sehingga ketertarikan masyarakat untuk mengenakannya juga meningkat sehingga efek ekonomi terhadap pengrajin juga semakin tinggi dan tumbuh percaya diri kepada perajin dan penenun muda untuk terus berkarya di dunia tenun.

“Karena tanpa mereka tentu tenun ikat kediri tidak akan bisa kita jumpai pada anak-anak kita, generasi yang akan datang. Jadi tenun ikat kediri bisa kita harapkan terus menjadi salah satu nilai budaya yang bisa kita temui di beberapa tahun mendatang,” papar Bunda Fey.

Menurut Bunda Fey, di Bandar Kidul sekarang banyak dijumpai pengrajin-pengrajin muda dan itu harus terus didorong. “Mereka harus diberi kepercayaan diri. Untuk yang membedakan di tahun ini adalah tema yang kita angkat dan kita senang dengan tema-tema lokal yang kita punya. Saya juga senang mengeksplor ruang terbuka hijau yang kita punya. Diambilnya tema pride of jayabaya karena kediri adalah kerajaan lama yang sebenarnya sangat disegani pada masanya. Kemegahan dan kejayaan raja jayabaya pada masa itu yang saya baca pada banyak artikel dan literatur dan sebenarnya banyak tertuang pada cerita-cerita sejarah,” jelasnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, desainer nasional Priyo Oktaviano mengatakan bahwa tenun ikat kediri memiliki keistimewaan tersendiri dibanding tenun dari daerah lain. “Saya sudah mendesain beberapa tenun dari Bali, dari Kalimantan, Makassar. Kualitas untuk tenun Kota Kediri bagus sekali. Permainan warnanya benar-benar warna yang menjadi tren sekarang, warnanya neon,” jelasnya. (hms/kj14)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *