Mengintip Sejarah Tahu Takwa, Tahu Kuning Enak Ikon Kota Kediri Sejak 1912

oleh -1390 Dilihat

KILASJATIM.COM, Kediri – Jika saat ini kamu sedang berkunjung ke kota Kediri, Jawa Timur, pasti melihat toko oleh-oleh berjejer yang menjual tahu berwarna kuning.

Ya, nama tahu khas Kediri itu tahu takwa. Tahu ini merupakan ikon di kota Kediri sejak tahun 1912 lho! Selain terlihat unik karena warnanya, tahukah kamu, kalau rasanya juga enak dan gurih sekali. Tahu ini bahkan bisa dimakan tanpa digoreng.

Hingga saat ini, tahu takwa sendiri mengalami berbagai macam perkembangan. Mulai dari segi produk, proses pembuatan, cara berjualan dan masih banyak lagi. Nah, intip yuk sejarah tahu takwa yang merupakan oleh-oleh khas Kediri.

Sejarah Tahu Takwa

Sejarah tahu takwa sendiri diawali dengan adanya imigran dari suku Tiongkok yang datang ke Kediri pada tahun 1900. Pada saat itu, kebiasaan warga Tiongkok, ketika ada sebuah perayaan mereka akan membuat banyak sekali olahan dari tahu.

Dulunya, di wilayah Kediri belum ada orang yang memproduksi tahu. Saat warga Tiongkok melihat tekstur air antara Kediri dan Tiongkok sama, mereka tertarik untuk memproduksi tahu.

Dalam sejarah Chu Ku Fei dari China, awalnya warga Tiongkok membuat tahu berwarna putih. Namun, karena melihat kota Kediri memiliki identik dengan bangunan nuansa kuning di sepanjang jalan, maka dibuatlah tahu kuning sebagai simbol hubungan Tiongkok dan Kediri. Selain itu, tahu kuning juga bisa disebut dengan tahu T
Takwa.

Nama tersebut berasal dari suku Hokkian yang bernama ‘Kwa’, sehingga dengan adanya peleburan pelugatan dari Tiongkok ke Jawa penyebutannya menjadi ‘Takwa’.

Kampung Tahu Tinalan Kota Kediri

Kota Kediri saat ini juga memiliki salah satu objek wisata yang merupakan sentra pembuatan tahu takwa, yakni Kampung Tahu.

Kampung ini sudah ada sejak tahun 1950-an, akan tetapi baru berdiri secara resmi dan disahkan oleh Wali Kota Kediri Samsul Ashar pada Agustus tahun 2019.

Lokasi dari kampung tahu sendiri berada di Kelurahan Tinalan Gg. 4, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Ketua Paguyuban Kampung Tahu, Jamal, menjelaskan, kampung tahu ini dulunya merupakan sebuah daerah yang mayoritas penduduknya kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin dan penjual tahu.

Kemudian seiring dengan perkembangan zaman, Pemerintah Kota Kediri melihat adanya potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut untuk dijadikan sebuah objek wisata sekaligus pusat dari pengrajin tahu.

“Kalo dari produksi tahunya sendiri, ini turun temurun dari keluarga dan sudah sampai pada generasi ketiga, salah satunya saya.” ujarnya.

Produk yang ditawarkan di kampung tahu sendiri dulunya adalah tahu sayur biasa atau tahu putih.

Cara  berjualannya pun masih berkeliling menggunakan sepeda dari kampung ke kampung.

Tetapi setelah adanya beberapa orang yang mengikuti pelatihan dari Pemerintah Kota Kediri, mereka mulai merambah membuat Tahu Takwa.

Kemudian, terus berkembang memunculkan berbagai produk sampai saat ini. Di antaranya  tahu takwa, stik tahu, tahu walik, tahu coklat dan masih banyak lagi.

Baca Juga :  Peternak Lele Kediri Butuh Bantuan Program Kampung Lele  

Pada proses pembuatannya tidak ada yang berubah. Hanya peralatan yang digunakan saat ini lebih bagus dan lebih memudahkan dalam pembuatan tahu.

Dulunya dalam  pembuatan tahu menggunakan batu sebagai media penindih. Namun saat ini sudah menggunakan alat press yang jauh lebih efektif serta efisien.

Jamal juga menjelaskan perbedaan bahan antara pembuatan tahu sayur dan tahu takwa. Perbedaan yang sangat terlihat adalah banyaknya kedelai yang digunakan.

Tahu takwa dalam pembuatanya membutuhkan lebih banyak bahan bahkan hingga dua sampai tiga kali lipat dibanding tahu sayur.

Karena, tahu takwa sendiri memiliki tekstur yang lebih padat dan kenyal serta memiliki kadar air yang lebih rendah daripada tahu sayur.

Untuk bahan kedelai yang digunakan, saat ini mayoritas penjual tahu menggunakan kedelai impor, dikarenakan sulitnya memasok kedelai lokal yang sebenarnya memiliki kualitas yang lebih bagus.

Jadi, untuk tetap bisa memproduksi tahu takwa setiap harinya, mereka harus menggunakan kedelai impor dengan tetap  memilih kualitas kedelai yang bagus juga.

Dalam proses pemasarannya, dulu masyarakat melakukan penjualan secara konvensional seperti dipukul atau berkeliling memakai sepeda.

Jarak yang ditempuh juga jauh bisa hingga Mrican dan Grogol.

Namun, untuk saat ini penjualan sudah dilakukan di outlet atau di rumah mereka masing-masing.

Pada saat ini penjualan mereka sudah berkembang dan memiliki beberapa mitra salah satunya di daerah Kertosono.

Peran dan Dukungan Pemerintah

Keberadaan Kampung Tahu pastinya tidak terlepas dari peran dan dukungan Pemerintah kota Kediri.

Mulai dari mengadakan pelatihan hingga bimbingan, yang saat ini bisa menjadikan Kampung Tahu sebagai salah satu ikon dari Kota Kediri.

Kepala Seksi Produksi dan Pengembangan Usaha Mikro, Dinas Koperasi dan UMKM, Agus Subono menjelaskan, keberadaan Kampung Tahu dulunya hanya memproduksi jenis tahu sayur saja.

Kemudian salah satu penjual tahu mengikuti pelatihan yang diadakan Pemkot Kediri dan mendapatkan masukan dari berbagai pihak agar mereka mencoba untuk memproduksi Tahu Kuning atau tahu takwa.

Berkat dukungan dan motivasi yang diberikan, akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba memproduksi tahu takwa.

Selain itu, Pemkot Kediri juga memfasilitasi para penjual tahu untuk membantu promosi mereka dengan menggunakan website resmi dan mengupayakan mereka dapat bekerjasama dengan marketplace.

Hal ini juga bertujuan untuk menjaga identitas atau ikon Kediri sebagai ‘Kediri Kota Tahu’.

Agus Subono juga berharap, agar penjual di Kampung Tahu bisa lebih berinovasi dari segi produksi, serta penjualan. Nantinya, Pemkot Kediri juga akan mengupayakan kerja sama dengan biro jasa perjalanan untuk menjadikan Kampung Tahu sebagai salah satu tujuan wisatanya.

GTT (Gudange Tahu Takwa)

Selain di wilayah Kota kediri, keberadaan pengrajin tahu juga tersebar di wilayah Kabupaten Kediri.

Salah satu pengrajin tahu yang sudah memulai usahanya sejak 1993 yaitu Gatot Suswanto.

Yang mana pada saat itu Gatot berjualan dengan cara berkeliling ke pasar dan ke terminal, dan  dijalani selama 17 tahun.

Baca Juga :  Warnai Harimu! Inspirasi Vlog “A Day in My Life” Dengan Samsung Galaxy M54 5G

Hal tersebut berlanjut hingga pada tahun 2007. Pada saat itu terjadi krisis formalin,  yang mengakibatkan masyarakat banyak yang berprasangka bahwasanya tahu takwa menggunakan formalin.

Kejadian tersebut tidak membuat Gatot putus harapan, ia malah berusaha mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa dalam pembuatan tahu tidak menggunakan borak.

Melainkan memang proses pembuatan tahu dan bahan kedelai yang lebih banyak sehingga menjadikan tahu tersebut kenyal dan padat.

Dan karena momentum tersebut Gatot akhirnya bangkit dengan mendirikan badan hukum CV yang legal pada tahun 2008.

Gatot memilih mendirikan usaha tahu takwa karena banyaknya permintaan masyarakat akan produk tahu takwa.

Jika ada wisatawan yang datang ke Kediri dan akan kembali ke kota asalnya tidak afdol jika tidak membawa oleh-oleh yaitu tahu takwa.

Pada awalnya usaha Gatot hanya mempunyai 2 karyawan. Sekarang ia sudah memiliki 46 tenaga kerja yang terbagi mulai dari bagian produksi dan toko.

Pada saat ini ia juga sudah memiliki beberapa mitra yang tersebar di daerah Ngadiluwih, Kandat, Nganjuk, dan Wates.

Cara pembuatan tahu takwa sendiri juga beda dengan cara pembuatan tahu sayur. Yang mana perbedaan yang sangat mencolok yaitu pada proses perendaman kedelai dan pendiaman adonan tahu yang lebih lama.

Dimana tahu takwa memakan waktu 2 hingga 3 kali lebih lama dari tahu sayur atau tahu biasa.

“Biasanya untuk pendiaman adonan tahu takwa itu lebih lama dibandingkan tahu biasa. Misalnya jika tahu biasa didiamkan selama 1 jam maka tahu takwa bisa sampai 2 jam,” jelas Gatot.

Kedelai yang digunakan Gatot pada saat ini adalah kedelai impor dikarenakan kualitas dan harga yang lebih murah.

“Awalnya pada tahun 90 an semua petani setiap selesai panen padi, pasti menanam kedelai dan memiliki kualitas yang bagus, tapi lama kelamaan datanglah kedelai impor dengan harga lebih  murah dan sudah bersih. Maka beralihlah kami menggunakan kedelai impor,” jelasnya.

Jika saja petani lokal mau menyortir terlebih dahulu kedelai panen nya, pasti kedelai local akan sangat dicari karena memang memiliki kualitas yang sangat bagus.

Akan tetapi petani kedelai lokal saat ini menjual hasil panen mereka apa adanya, sehingga ia membutuhkan tenaga kerja lebih untuk hal itu.

Dan, sebab hal itu petani lokal sudah mulai jarang menanam kedelai dikarenakan kurangnya peminat dari kedelai lokal.

Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus bangsa, sudah sepatutnya untuk menjaga semua warisan yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita.

Terutama masyarakat kota kediri yang mana harus menjaga kelestarian dari tahu takwa yang menjadi ikon kediri.

Dan juga agar warisan tersebut tidak hilang oleh zaman, maka diperlukannya kontribusi dari para penerus bangsa untuk membuat inovasi-inovasi yang hebat. (bbs/rie)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.