Pakai Gas, Anti Kempes  

oleh
Kue selalu mengembang bagus bila mengoven dengan menggunakan jaringan gas.

KILASJATIM.COM, Mojokerto – Wangi roti tercium sampai ke jalan Kyai Haji Usman, mengundang selera untuk mampir dan membawa pulang. Ya, aroma itu berasal dari Bogarasa Cokies yang berdiri sejak sembilan tahun lalu.

Esti Wahyuni, pemilik Bogarasa Cokies mengisahkan, usaha pembuatan roti diawali pada 2011 lalu. Saat itu ia mengerjakan usahanya sendiri dibantu asistennya. Hingga kini usahanya berjalan pesat dan menyediakan bermacam jenis kue basah maupun roti dan kue kering.

Peningkatan usahanya diiringi dengan dibutuhkannya asisten dalam pengolahan kue. Lebih-lebih saat musim hajatan seperti bulan Maulud atau Besar, pemesanan kue sehari bisa meningkat sampai tiga ribu kue. Harga bahan baku yang meningkat dan persaingan usaha. Saat itulah Perusahaan Gas Negara Tbk, (PGN) hadir. Melalui bahan bakar murah yang ditawarkan.

“Ekonomis, praktis, dan hemat tentunya. Dari segi keuangan pasti, apalagi produksi. Dulu kalau pas ngoven roti elpiji habis. Pasti roti kempes, bantat rusak. Sekarang pakai gas sudah stabil mau bikin roti berapa saja jalan terus, sekuatnya,” katanya sambil menunjukkan hasil oven roti yang mengembang sempurna.

Dengan jargas tidak perlu khawatir kehabisan saat membuat kue.

Ia mengisahkan, sebelum berlangganan PGN pada 2017 lalu. Ia sering kali dibuat repot gonta-ganti tabung gas. Harus bisa kira-kira cukup atau tidak untuk mengoven roti. Kalau salah perkiraan dipastikan roti dalam oven tidak mengembang. Karena kompor mati di tengah proses oven. Pengalaman lain, memakai tabung LPG, kalau tinggal sedikit dipastikan tidak bisa dipakai.

“Kompor tidak mau nyala. Kalau gasnya tinggal sedikit, sayangkan dibuang,” ungkapnya.

Saat memakai bahan bakar LPG. Setiap hari habis dua tabung. Per tabung isi 12,5 kg seharga Rp 115 ribu atau Rp 230 ribu, jika dihitung sebulan bisa Rp 6,9 juta. Yang membuat tidak terasa mahal karena bayar setiap hari. Sedang menggunakan jaringan gas berlangganan setiap bulan sekitar Rp 660 ribu.

Bagi ibu dua anak ini, keuntungan dari bahan bakar selain di tabung juga untuk pengembangan usaha, menambah varian kue. Dengan begitu usahanya lebih lancar dan pelanggannya pun bertambah.

Sementara pemanfaatan jaringan gas (jargas) juga dinikmati pengusaha kecil, penjual gorengan Surabaya. Mariam (65) warga Jl. Wonorejo 1, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Tegalsari.

BACA JUGA: Jargas Kota Dumai Rampung, 4743 Rumah Tangga Menikmati Gas Bumi

Sejak empat tahun terakhir, janda empat anak ini berjualan pisang goreng dan kerupuk yang dititipkan ke sejumlah warung kopi.

Awal usahanya pada akhir 2015, saat suaminya sakit stroke sampai meninggal awal 2016. Setiap pukul 24.00 tengah malam sudah mulai menggoreng pisang, dua jam berikutnya ia mengirim ke warung kopi 24 jam tak jauh dari rumahnya. Istirahat sejenak, pukul 04.00 subuh ia kembali membuat adonan pisang goreng untuk warung kopi lain yang buka pagi.

“Dulu masih pakai tabung gas, kalau habis tengah malam susahnya bukan main. Adonan sudah jadi, kalau tidak cepat diolah takut kecut. Kulkas belum punya. Sekarang alhamdullilah ada pe ge en, mau bikin jam berapa pun lancar. Dulu tengah malam beli gas di mana tutup semua,” katanya di sela menyiapkan bahan.

Sebab itu pada pertengahan 2016, mendapat info jargas akan beroperasi di kampungnya ia sangat gembira. Tidak khawatir kehabisan gas dimalam hari. Lebih-lebih setelah tiga anaknya menikah dan tidak tinggal serumah, sedang seorang anak laki-lakinya bekerja sebagai driver Go jek dan pulangnya tidak menentu jamnya.

BACA JUGA: 4.055 Warga Probolinggo Bakal Menikmati Jargas PGN

“Meski anak-anak sudah mentas, saya tidak mau tergantung pada mereka. Lebih enak cari uang sendiri bebas. Mau beli ini-itu. Kemarin saja mereka heran saya membetulkan rumah sendiri. Uangnya dari mana? Ya dari jualan ini,” ceritanya bangga.

Selama berjualan ia mengaku harus pandai mengolah keuangan. Setiap hari ia menyisihkan uang minimal Rp 5 ribu per hari, kadang juga lebih, jika ada tetangga yang minta bantuan bersih-bersih rumah atau setrika.

Ibu tiga cucu ini mengaku tidak pernah mematok jasa untuk tenaganya. Berapa pun bayaran ia terima. Tidak heran ia bisa ikut arisan Rp 300 ribu per minggu. Uang dari arisan itulah yang dipakai membetulkan rumah.

Ia juga menceritakan untuk pembayaran  iuran bulanan gas, listrik, dan air. Sejauh ini tidak mengalami kendala. Sebab sejak awal ia berkomitmen tidak akan mengambil uang slempitan dalam dompet kecilnya. Sebab ia tidak ingin gas, listrik, dan air dicabut oleh pemerintah.

BACA JUGA: Tahun 2020 Warga Kota Pasuruan Bakal Menikmati 7.004 SR Jargas

“Meski saya miskin, jangan sampai gas, listrik, dan air dicabut negara. Itu sudah prinsip saya, biar tidak makan sehari tidak apa yang penting semua aman,” ujarnya.

Adapun per bulan tagihan gasnya sekitar Rp 35 ribu, lebih hemat dibanding memakai tabung melon Rp 18.500 per minggu atau Rp 74 ribu per bulan. Di tengah harga jargas yang murah ia khawatir apakah ada kenaikan dikemudian hari. Sementara usahanya menjual pisang goreng dan kerupuk tidak bisa ditentukan, laris setiap hari.

Menanggapi kekhawatirannya, Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama, menyampaikan sesuai dengan regulasi, harga gas bumi untuk rumah tangga ditetapkan oleh BPH Migas sebesar Rp 4.250/m3 untuk Rumah Tangga (RT)-1 yang meliputi rumah susun, rumah sederhana, rumah sangat sederhana sekali dan sejenisnya. Sedangkan untuk RT-2 meliputi konsumen menengah, menengah ke atas, rumah mewah, apartemen, dan sejenisnya sebesar Rp 6.000/m3.

Untuk kebutuhan rumah tangga normal, konsumsi gas bumi berkisar antara 4-15 meter kubik sehingga harga jual yang ditetapkan tidak akan memberatkan masyarakat.

BACA JUGA: PGN Target Selesaikan Jargas 20 Pelanggan Rumah Tangga di Surabaya Selesai November 2019

Sejak 2013 tepatnya selama tujuh tahun, PGN belum pernah menaikkan harga berlangganan baik untuk keperluan industri maupun untuk kebutuhan rumah tangga.

“PGN berkomitmen terus memberikan layanan terbaik dan saling bersinergi bersama seluruh pihak yang terlibat untuk kemajuan pemanfaatan gas bumi yang aman, efisien, dan ramah lingkungan. Demi ketahanan energi nasional yang berkeadilan dalam jangka panjang,” Rahmat. (kj5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *