COVID-19 Hancurkan Ekonomi Global, Fintech P2P Lending Bantu Selamatkan Ekonomi Nasional

oleh

KILASJATIM.COM, Jakarta – Perkembangan situasi COVID-19 menyita perhatian dunia dan
semakin memprihatinkan di berbagai negara. Pemerintah juga mengumumkan bahwa di Indonesia terjadi peningkatan tajam atas jumlah pasien positif COVID-19 yang telah mencapai lebih dari 100 orang.

Dampak dari COVID-19 sendiri mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi akan melambat dan di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat anjlok, serta kondisi pasar modal juga dibuat gelagapan.

Berkaca dari krisis global yang terjadi pada 2008-2009 lalu, industri fintech mulai lahir di tengah krisis dimana perpaduan antara praktik finansial di institusi keuangan konvensional berpadu dengan kemajuan teknologi yang menjadi industri krusial dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Salah satu fintech yang akan menstimulasi pemulihan tersebut ialah fintech lending yang bergerak melayani pinjaman produktif, seperti pelaku UKM. Berkembangnya UMKM yang bahkan tidak berkurang pasca krisis ekonomi 1997-1998 dan malah justru bertambah memberikan harapan bagi pelaku UKM untuk terus aktif
di tengah kondisi ekonomi seperti ini, apalagi, banyak dari UKM tersebut yang telah beralih ke digital.

Mark Bruny selaku Chief Financial Officer (CFO) KoinWork mengatakan , Fintech seperti
KoinWorks akan selalu hadir, siap, dan gesit untuk kelak membantu dunia kembali pulih.

“Kami akan tetap siap mendampingi pelaku bisnis UKM yang mengalami kesulitan di tengah perubahan ekonomi seperti sekarang dan kami juga akan terus berupaya melindungi pengguna dengan meyakinkan mereka bahwa dana yang ada di KoinWorks tetap aman. Pelayanan konsumen juga akan tetap beroperasi seperti biasa
untuk memastikan adanya perlindungan yang kami berikan untuk pengguna,” kata Mark.

Dalam hal ini KoinWorks bersama dengan fintech lain siap menjadi gerbang terdepan pelayanan keuangan bagi semua pelaku UKM yang usahanya tetap harus berjalan di tengah perubahan perilaku masyarakat yang telah disesuaikan dengan anjuran Pemerintah untuk melakukan
social distancing dan work from home.

Tidak seperti krisis keuangan yang pernah terjadi di Indonesia
sebelumnya, dimana layanan keuangan kehabisan modal karena adanya kredit macet, KoinWorks
menyalurkan pembiayaan langsung dari para pendana dalam upayanya mendukung usaha kecil dan menengah.

Bagi pelaku digital UKM, adanya himbauan dari Presiden Jokowi yang menganjurkan untuk bekerja dan beraktivitas di rumah justru membuat lonjakan transaksi secara daring meningkat tajam. Untuk menjawab kebutuhan modal tambahan akan peningkatan stock ataupun untuk kebutuhan mengatasi krisis
pasca COVID-19, fintech dapat membantu memberikan akses finansial yang mudah dan aman untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.

Menurut penelitian Imam Sugema, Krisis Keuangan Global 2008-2009 dan Implikasinya pada Perekonomian Indonesia, ekonomi Indonesia bisa dikatakan sebagai self sustaining economy karena memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar.

Alhasil, sekalipun ekonomi global
tengah goyah, Indonesia tetap mampu mengelola permintaan pasar domestik dan menjaga daya beli masyarakat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi di tengah krisis ekonomi global karena keberadaan
UKM.

“Dasar tersebut semakin menegaskan bahwa peran fintech lending menjadi sangat vital pada situasi seperti sekarang dan fintech seperti KoinWorks akan terus berupaya aktif memberikan layanan dengan ketersediaan akses yang seamless dan contactless,” kata Imam Sugema.

Selain itu, tidak sama halnya dengan situasi pasar modal, pengguna diharapkan tidak perlu ragu pada penggunaan layanan keuangan digital, yang terpenting ialah dengan memastikan fintech yang dipilih telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kami ingin menekankan kembali bahwa atas perubahan ekonomi yang terjadi, KoinWorks tetap beroperasi seperti biasa dengan menyelesaikan pendanaan Seri B pada bulan November 2019 merupakan saat yang tepat untuk mendukung UMKM terus
berjalan, didukung oleh peran mitra kami yang berasal dari perusahaan investasi dan perbankan terkemuka seperti, Mandiri Capital Indonesia, Gunung Sewu, Convergence Venture, Quona Capital, EV Growth
dan Saison Capital. Kami juga hanya menyediakan pinjaman produktif bagi UKM Digital dengan kelengkapan informasi yang telah diverifikasi secara digital. Hal tersebut yang akhirnya membantu kami untuk menjaga nilai gagal bayar sekitar 1%, lebih rendah dibandingkan sesama pemain fintech lending,” tutup Mark. (kj8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *