Ubaya Top 10 Pemohon Hak Cipta Tertinggi

oleh -67 Dilihat

KILASJATIM.COM, SURABAYA – Ubaya (Universitas Surabaya) masuk ke dalam top 10 perguruan tinggi swasta dengan permohonan hak cipta tertinggi di Indonesia timur. Penghargaan tersebut berasal dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham RI).

Ubaya tercatat sebagai perguruan tinggi dengan jumlah permohonan pencatatan ciptaan top 10 tertinggi di Indonesia tahun 2022. Ubaya berada di peringkat 6 nasional dan jadi satu-satunya perguruan tinggi swasta di Indonesia Timur yang masuk sepuluh besar. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Hukum dan HAM RI, Prof. Yasonna H. Laoly, S.H., M.Sc., Ph.D., kepada Rektor Ubaya, Dr. Ir. Benny Lianto, M.M.B.A.T.

Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan kontribusi Ubaya berperan aktif dalam memacu pertumbuhan kreativitas dan inovasi kekayaan intelektual dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. Benny mengatakan pencapaian ini meneguhkan komitmen Ubaya sebagai kampus yang terus mendorong tumbuhnya iklim inovasi di dalam kampus. “Saya apresiasi dan bangga atas upaya dan produktivitas Ubaya dalam menghasilkan karya-karya inovasi untuk pengembangan dan hilirisasi ilmu pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat,” terang Benny Lianto.

Manajer Legal dan Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI), Direktorat Manajemen Inovasi Ubaya, Irta Windra Syahrial, S.H., M.S., menambahkan, Ubaya selalu konsisten menggali karya inovasi dosen dan mahasiswa untuk didaftarkan hak ciptanya. Hal ini dibuktikan dengan adanya 2.960 permohonan hak cipta yang sudah didaftarkan dari tahun 2020-2022. “Untuk tahun 2022 sendiri sudah ada 990. Jumlah ini menunjukkan kalau civitas akademika Ubaya semangat menghasilkan banyak karya intelektual,” ungkapnya.

Karya yang paling banyak didaftarkan adalah karya tulis berupa buku dan modul. Selain itu, ada juga video, literatur, poster dan inovasi matching fund. Irta menambahkan, karya cipta tidak berhenti pada proses pengajuan permohonan dan mendapat sertifikat saja. Menurutnya, perlu ada komersialisasi agar pencipta karya mendapat manfaat ekonomi. “Ubaya saat ini sudah mulai mengomersialkan karya-karya. Kami mencari industri untuk memperbanyak dan memproduksi karya tersebut, sehingga inventor bisa dapat royalti,” tambah Irta.

Penghargaan diserahkan oleh Yasonna H. Laoly saat gelaran Roving Seminar Kekayaan Intelektual. Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, Yasonna mengajak lembaga pendidikan untuk menggali potensi wilayah, terus berkreasi, berkarya, dan berinovasi untuk memahami pentingnya perlindungan kekayaan intelektual. “Kemudian menjaga kualitasnya, mengembangkannya dan membuatnya semakin bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat menjadi pemacu transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Yasona.

Sementara itu, melalui pencapaian ini, Benny berharap akan lebih banyak lagi civitas akademika Ubaya yang mencatatkan ciptaannya. “Karya dosen dan mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam mendorong kemajuan bangsa di masa depan,” harap Benny.(tok)