Sumber Warna Biru Alami Bunga Telang, Tanaman Asli Indonesia  

oleh -5.392 views
Sri Uripiyati, S Pd, M Pd Guru Kimia SMAN 1 Driyorejo Gresik.

KILASJATIM.COM, Gresik – Di zaman modern seperti saat ini, kita boleh miris dengan zat pewarna buatan yang digunakan dalam makanan yang dijajakan di sekolah. Anak-anak secara umum menyukai makanan yang berwarna-warni, tetapi mereka tidak pernah mengetahui bahkan orang tua pun tidak sadar bahwa zat pewarna makanan sangat tidak baik bagi kesehatan terutama bagi anak-anak.

Banyaknya makanan yang beredar di masyarakat, membuat kita tidak tahu apakah makanan tersebut sehat atau tidak jika dikonsumsi oleh tubuh. Kita tidak tahu proses pembuatannya seperti apa dan bahan apa saja yang digunakan dalam makanan.Terlebih lagi jika makanan yang kita konsumsi, ternyata mengandung pewarna dan pemanis buatan yang memiliki  efek berbahaya bagi tubuh.

Sebagai orang tua, mungkin kita bisa membedakan mana makanan yang diberi pewarna dan pemanis buatan, mana yang tidak. Namun bagaimana dengan Si Kecil? Tentu belum bisa. Makanya orang tua perlu cermat dalam mengawasi apa saja makanan yang dikonsumsi oleh anak. Zat pewarna makanan biasanya digunakan untuk memperindah penampilan makanan-makanan yang disajikan.

Memang tidak ada salahnya menggunakan zat pewarna makanan, jikalau bahan yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.

BACA JUGA: Batik Peranakan Dan Selop Manik-Manik

Contohnya tomat, wortel, kunyit, daun pandan, daun suji, dan sebagainya. Warna-warna yang dihasilkan dari tanaman tersebut, tentu tidak akan berbahaya karena terbuat dari tumbuhan.

Berbeda ceritanya jika pewarna makanan yang digunakan berasal dari zat aditif yang berbahaya. Tentu saat dikonsumsi oleh manusia, akan menimbulkan gangguan kesehatan dari yang ringan hingga serius, seperti zat pewarna sintesis.

Jika digunakan secara berlebihan dan terus-menerus, pewarna sintesis ini akan menumpuk dalam tubuh, hingga akhirnya merusak fungsi organ tubuh, terutama hati dan ginjal. Hati terpaksa bekerja keras untuk merombak zat tersebut untuk dikeluarkan dari hati, padahal kemampuannya terbatas.

Dari hati, pewarna sintesis ini akan masuk dalam sistem peredaran darah, lalu dibawa ke ginjal. Sama seperti hati, ginjal juga harus bekerja keras untuk mengeluarkan zat berbahaya ini dari dalam tubuh. Jika gagal dikeluarkan, zat pewarna makanan ini akan menyebabkan penyakit kanker.

BACA JUGA: Asah Kreatifitas, Ketua Korcab V DJA ll Ikuti Pelatihan Ecoprint Bersama Ketum Jalasenastri

“Zat pewarna makanan dapat memicu berbagai macam penyakit mulai dari kanker hingga autisme,” kata Joy Dubost, seorang ahli diet dan ilmuwan makanan terdaftar di District of Columbia.

Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman hayati, termasuk zat pewarna alami. Salah satu pewarna alami yang kini sedang banyak digemari karena memunculkan warna biru alami adalah bunga telang.

Bunga telang atau Clitoria ternatea memiliki manfaat sebagai bahan pewarna alami yang bahannya aman dan tidak memiliki efek samping bagi tubuh. Untuk mendapatkan warna tersebut, tanaman ini perlu difermentasi, direbus, atau direndam.

Disamping kelebihannya, sebagai pewarna alami, bunga telang memiliki warna yang tidak stabil, mudah pudar dan warnanya kurang cerah sehingga untuk proses pewarnaan jumlah bahan yang dibutuhkan relatif banyak.

BACA JUGA: Corine de Farme Luncurkan Dua Buah Produk Perawatan Kulit Wajah

Pemanfaatan bunga telang selain sebagai bahan pewarna alami juga bisa digunakan sebagai pakan ternak, tanaman obat, serta tanaman hias dan sayuran. Pemanfaatannya sebagai tanaman obat secara tradisional yang biasa digunakan adalah dedaunannya berguna untuk obat memar.

Akar tanaman bersifat purgatif, narkotik dan dapat menyebabkan kehilangan ingatan, bahkan pingsan. Penampilan bunganya yang cantik terutama bunga biru-keunguan atau putih dapat dijadikan sebagai tanaman hias. Pemanfaatan bunga telang sebagai cover crop dan pakan ternak banyak dilakukan di Australia dan Brasil.

Bunga telang adalah jenis tanaman merambat. Batangnya bulat dengan jumlah anak daun 3-5 buah dan bentuk daunnya majemuk. Tanaman ini mulai berbunga saat umurnya 8—9 minggu setelah tanam.

Pembungaan terjadi sepanjang tahun, selama kebutuhan air tercukupi. Bunga berupa bunga tunggal, terbentuk pada ketiak daun, warna mahkota biru keunguan, ungu muda, atau putih dengan bagian tengah berwarna agak lebih pudar.

BACA JUGA: Ada Kebaikan Dalam Setiap Jajanan

Bunga telang (Clitoria ternatea) sebenernya tidak asing bagi masyarakat kita. Tanaman merambat ini biasa ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan rumah. Orang zaman dulu memanfaatkan bunga telang sebatas untuk membersihkan mata bayi agar terlihat jernih dan bersih. Namun, saat ini bunga telang  merupakan sumber pewarna alami indigo (biru) yang diperoleh dari mahkota bunga.

Untuk sumber indigo, diekstrak dari bunga yang berwarna biru keungu-unguan.Warna indigo dari bunga telang termasuk golongan anthosianin. Anthosianin dan anthoxantin tergolong pigmen flavanoid yang pada umumnya larut dalam air. Anthosianin tersusun oleh sebuah aglikon berupa anthosianidin yang teresterifikasi dengan molekul gula, bisa satu atau lebih.

Selain bunga telang, beberapa pewarna alami yang sering digunakan dan aman antara lain warna merah dari angkak (beras yang ditanami jamur tertentu), kesumba, kulit buah, pencampuran kunyit dan kapur sirih, warna hijau (daun suji, pandan), kuning (kunyit), hitam (telang), dan biru (bunga telang).

Bagi kebanyakan orang, warna biru mungkin bukanlah warna untuk makanan. Berbeda dari warna kuning, hijau, dan merah yang terasa lebih pas. Sebagian mengidentikkan warna biru sebagai warna racun. Mungkin, karena itulah warna biru kurang populer dalam sajian tradisional Indonesia.

BACA JUGA: Kampanye Revlon Live Boldly dan Peluncuran Revlon Ultra HD Gel Lip Color

Tapi, lain dulu, lain sekarang. Kini warna biru tak lagi memberi kesan menakutkan. Minuman berwarna biru juga belakangan cukup populer tersaji disajikan di kafe-kafe.Membuat makanan yang berwarna-warni tentunya dapat meningkatkan daya tarik dan membuat perut yang lapar semakin meronta untuk di isi.

Bunga Telang memiliki bunga yang berwarna biru cerah hingga keunguan yang awalnya dikenal sebagai tanaman hias. Namun, kini pemanfaatan Bunga Telang telah berkembang dan nilai guna serta nilai fungsinya pun meningkat. Cara yang umum digunakan guna mengambil warna biru dari Bunga Telang adalah mengekstrak bunga tersebut. Kuntum bunga dipetik pada saat mekar sempurna dan dalam kondisi baik yang selanjutnya ditumbuk dan dilarutkan dengan air.

Larutan air yang telah dicampur dengan Bunga Telang akan berubah warna menjadi warna biru gelap. Air yang berwarna biru tersebut masih mengandung atau tercampur dengan potongan-potongan Bunga Telang, maka lakukanlah penyaringan sehingga ampas Bunga Telang dapat dipisahkan dari air warna biru.

Warna biru yang terdapat pada air sisa saringan  tersebut yang dapat digunakan sebagai pewarna alami untuk makanan. Air ekstrak Bunga Telang tersebut dapat digunakan sebagai pewarna pada adonan kue, agar-agar, pewarna minuman hingga dapat digunakan sebagai pewarna pada nasi.

BACA JUGA: Perluas Jangkauan, PGN Lakukan “Gas In” untuk Industri Tali Sepatu di Pasuruan

Tidak seperti kebanyakan pewarna alami yang menyisakan sedikit aroma dan rasa dalam makanan atau minuman, ekstrak pewarna dari bunga telang tidak mengubah aroma dan rasa.

Selain itu, saat bercampur dengan asam, seperti jeruk lemon atau jeruk nipis, warna birunya akan berubah menjadi keunguan. Selain bermafaat sebagai pewarna alami, Bunga Telang juga memiliki beragam manfaat lainnya yang baik untuk kesehatan. Ekstrak Bunga Telang dapat digunakan sebagai teh yang memiliki warna yang cantik juga dapat meredakan cemas dan stres. Ayo, mulai budidaya Bunga Telang, minimal sebagai tanaman hias yang dapat menambah nuansa segar di rumah.

Oleh: Sri Uripiyati, S Pd, M Pd Guru Kimia SMAN 1 Driyorejo Gresik

No More Posts Available.

No more pages to load.