Profesi Akuntan 30 Tahun Lagi Akan Punah? Begini Ulasan Ketua IAI Jawa Timur

oleh -121 Dilihat

Dari ki-ka:  Prof. Dr. Tatik Suryani, Psi., M.M. (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHW Perbanas),  Dr. Yudi Sutarso, S.E., M.Si. (Rektor UHW Perbanas),  Prof. Dr. Dian Agustia, SE, M.Si, Ak. CA., CMA. (Ketua Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik),  Prof. Drs. Basuki., M.Com(HONS), Ph.D., Ak., CMA., CA., ACPA., ASEAN CPA. (Ketua Ikatan Akuntan Indonesia Wilayah Jawa Timur) saat memberikan keterangan kepada media di Surabaya, Selasa (12/7/2022)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Prof Dian Agustia, Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jawa Timur Kompartemen Akuntan Pendidik, memprediksi profesi Akuntan akan tergeser dengan perkembangan teknologi jika masih mengandalkan sistem keuangan debit-kredit manual. Pasalnya laporan keuangan seperti ini akan digantikan dengan Artificial Intelligence (AI). Dibutuhkan inovasi dan penyajian data keuangan terbaru agar profesi Akuntan bisa sesuai dengan kebutuhan perusahaan di era digital.

“Upaya mempertahankan agar profesi akuntan tetap bisa bertahan di era yang serba milenial dan serba digital ini, dibutuhkan inovasi dan penyajian data keuangan terbaru agar profesi Akuntan bisa sesuai dengan kebutuhan perusahaan di era digital,” ujar Dian Agustia dalam sambutannya di acara pembukaan .
Konferensi Regional Akuntansi (KRA) IX Tahun 2022 di Universitas Hayam Wuruk Perbanas selama dua hari, Selasa-Rabu (12-13/7/2022).

Dian mengungkapkan 30 tahun lagi profesi Akuntansi akan hilang jika masih bertahan menyajikan laporan keuangan debit-kredit secara manual. Pasalnya laporan keuangan seperti ini akan digantikan dengan Artificial Intelligence (AI).

“Kontribusi akuntan tidak berhenti hanya pada pelaporan keuangan saja, melainkan jauh lebih panjang pada perencanaan masa depan perusahaan yang didukung oleh kemampuan akuntan dalam mengeksplorasi big data, artificial intelligent, dan internet of things.

“Estimasi 30 tahun ini jika profesi akuntansi tidak memberikan informasi yang tepat. Sesungguhnya bukan hilang, justru menghadapi tantangan dalam inovasi produknya agar sesuai dengan perusahaan dan intitusi,” ungkapnya secara gamblang di sela pembukaan konferensi yang mengusung tema “The Futures Skills for Accountant in Digital Disruption Era”  yang berlangsung di kampus Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya , Selasa (12/7/2022)

Iapun mencontohkan Akuntansi debet-kredit manual akan tergeser dengan AI meskipun profesi Akuntansi tidak hilang. Karena perusahaan di era digita aan membutuhkan laporan keuangan yang terintegrasi dengan tanggung jawab sosial perusahaan.

“Laporan akuntansi tidak hanya laporan keuangan tetapi integrated reporting. Karena perusahaan tak hanya membutuhkan laporan keuangan, tetapi juga harus memberikan tanggung jawab sosial hingga lingkungan, maka akuntan bisa menyajikan kinerja sosial dan lingkungan dari perusahaan,” tegasnya.

Konferensi yang digelar kali ini
selain diikuti para praktisi juga didukung 42 perguruan tinggi di Jawa Timur sebagai co-host. Diharapkan KRA ke IX dijadikan wadah para praktisi dan akademisi untuk berdiskusi yang berkaitan dengan kajian empiris maupun praktis di ranah bidang ilmu akuntansi dan keuangan.

Dalam konferensi ini dan dihasilkan berbagai riset dan pengabdian masyarakat praktisi dan akundan pendidik yang diterbitkan dalam jurnal Sinta 2 dan Sinta 3.

Tak hanya itu, para ketua program studi Akuntansi dari berbagai perguruan tinggi juga akan mengadakan forum untuk bekerjasama membahas kurikulum merdeka yang mungkin bisa diterapkan antar institusi.

“Nantinya inovasi yang dibuat pratisi ini juga bisa dikembangkan menjadi kurikulum yang sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini,” tandasnya.

Sementara itu, Prof Basuki, Ketua IAI Wilayah Jatim menambahkan jika semua aspek terpengaruh dengan perkembangan teknologi yang pesat ini. Termasuk Akuntan yang sebagian perannya mungkin akan digantikan dengan AI.

“Akuntan tidak akan hilang sepenuhnya, karena hal-hal seperti pengambilan keputusan atau judgement yang tidak bisa digantikan dengan mesin. Sehingga didalam ilmu akuntansi tidak hanya mengajarkan debit kredit secara manual. Tetapi harus ada redesign kurikulum akuntansi dan mahasiswa untuk disiapkan di era baru ini,” pungkas Basuki. (kj2)