Mayangsari : Hidup Jangan Seperti Air Mengalir, Harus Adaptif dan Produktif Selama Pandemi,

oleh

Master Trainer Hearty Service Expert & Master Communication, Agni Shanti Mayangsari

KILASJATIM.COM, Surabaya –
Master Trainer Hearty Service Expert & Master Communication, Agni Shanti Mayangsari membagikan tips yang cukup jitu dalam menghadapi kondisi sekarang ini akibat pandemi covid 19. Dimana dampaknya sangat luar biasa , yakni mampu mengubah seluruh kebiasaan di masyarakat.

“Sebelum pandemi kita dengan mudah berinteraksi dengan tatap muka tanpa ada pembatasan. selama.oandemi kebiasaan tesebut berubah drastis dengan banyaknya aturan pembatasan yang tujuannya meminimalisir penularan dan penyebaran virus asal Wuhan,” ujar Agni Shanti di awal diskusi secara virtual yang digelar SKK Migas dengan topik “Be an Adaptive & Productive People”, Selasa (15/6/2021).

Perubahan tersebut tentu membuat masyarakat bingung . Bahkan meubah seluruh kehidupan termasuk perekonomian mereka.
Bahkan akibat yang paling sadis. banyak PHK, bisnis menjadi macet dan serba tidak karuan.

Lalu bagaimana agar masyarakat bisa tetap adaptif dan produktif di masa pandemi. Tips yang diberikan Mayang, diperlukan sejumlah langkah dan upaya yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam menata diri, hati dan pikiran.

“Hidup jangan seperti air yang mengalir karena belum tentu air mengalir ke samudra, bisa juga air tersebut justru mengalir ke selokan dengan berbagai keburukannya. Untuk itu, diperlukan sejumlah tips atau trik agar tetap berjalan pada rule-nya hingga mencapai apa yang diinginkan,” jelasnya.

Yang harus dilakukan, pertama-tama , temukan tujuan atau “the time machine . Karena tanpa tujuan, manusia tidak akan bisa bergerak.   Kita bayangkan berada di 10 tahun kedepan dari sekarang, anda akan jadi seperti apa. Misalnya saya  ingin menjadi pengusaha dengan  berapa gerai dan berapa karyawan, itu kita detailkan. Ketika sudah mendapat gambarannya, kita akan bisa merasa apa saja yang kita butuhkan untuk menjadi seperti yang kita bayangkan.

“Kita akan merasakan sekaligus mengetahui apa sebenarnya yang kita inginkan. Dan biasanya, yang diinginkannya itu juga akan menginginkannya, sehingga akan terjadi gaya tarik-menarik. Jika sudah melakukan trik tersebut dan telah mengetahui impiannya, maka seseorang diharuskan mengikuti tiga rule yang ditentukan agar tetap adaptif dan produktif untuk capai 10 tahun kedepan,” terangnya.

Diuraikan Mayang, ada tiga rule itu adalah menentukan atau mendefinisikan identitas diri atau self identity, mendefinisikan konektifitas sosial atau social connectivity dan tujuan yang jelas atau goals clarity.

“Dalam menentukan identitas diri, maka kata kuncinya adalah bukan tentang kita  akan menjadi siapa, tetapi bagaimana kita bisa hidup dengan nilai-nilai yang kita pegang teguh. Yang perlu dikenali adalah saya ingin menjadi seperi apa. Apa nilai yang harus kita pegang teguh sehingga kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Ini lebih pada nilai diri. Kalau identitas diri tersebut bisa dipegang teguh, maka kita akan menjadi orang tua, karyawan, atau pemimpin yang kita idamkan,” jelasnya.

 

Untuk menguatkan self identity, maka bisa dibangun dengan pembiasaan hal baru yang baik. Menurutnya, ada prinsip 20 per 20 per 20. Dalam 24 jam, manusia butuh satu jam saja untuk Istiqomah dan konsisten melakukan hal baru ini di pagi hari untuk me-reset dirinya.

“20 menit pertama untuk kelembutan hati, bisa dilakukan dengan mengingat Tuhan, sehingga hati akan menjadi jernih dan tenang. 20 menit untuk intelektualitas kita, ini bisa dilakukan dengan membaca atau melihat pengetahuan. Ini berguna untuk memberikan nutrisi pada otak kita tentang sesuatu yang positif. Dan 20 menit terlahir untuk hand atau fisik kita, bisa dilakukan dengan olahraga selama 20 menit saja. Sehingga hati kita oke, pikiran kita oke dan tubuh kita juga oke,” katanya.

Selanjutnya adalah konektifitas sosial atau social connectivity, yaitu bagaimana menjalin hubungan dengan orang sekitar. Ini jadi kunci bagaiman seseorang akan menjadi adaptive and productivity people.

“Karena hidup ini bukan tentang diri kita sendiri tetapi bagaiman menjadi sumber kemanfaatan bagi orang lain,” tandasnya.

Untuk keseimbangan hidup, maka pendekatan Yin dan Yang juga harus dilakukan. Yin dan Yang adalah gambaran tentang energi di dunia yang merepresentasikan maskulin dan feminim.

“Ini bukan tentang gender, tetapi lebih pada energi yang bisa dipilih. Kalau feminim lebih dominan feeling atau perasaan tetapi maskulin lebih dominan pikiran,” tutupnya. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *