Bayar Gas Seribu Sehari

oleh
Jaringan gas sangat membantu usaha.

KILASJATIM.COM, Surabaya – Siang menjelang dhuhur akhir November, Mufifah (75) warga Jl. Wonorejo I, Tegalsari membuka kaleng bekas rokok, menghitung uang receh, beberapa lembar uang dua ribuan. Setelah itu dimasukkan dalam plastik bersama nomor pelanggan PT Perusahaan Gas Negara Tbk, (PGN).

“Setiap hari saya menyisihkan uang seribu, buat bayar gas,” katanya, Selasa (26/11) siang.

Dengan menyisihkan Rp 1.000 setiap hari, nenek 11 cucu ini merasa ringan membayar tagihan gas PGN setiap bulannya. Per bulan rata-rata Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu, itu tagihan paling mahal selama tiga tahun berlangganan PGN. Untuk tagihan paling rendah Rp 18 ribu dan itu hanya sekali saja terjadi.

Perempuan 71 tahun ini mengaku selama berlangganan PGN ia tidak lagi was-was kehabisan gas. Siang malam bebas menjerang air atau memasak. Dulu saat jaringan gas PGN belum masuk di kampungnya, jika kehabisan LPG melon, ia bingung karena tidak ada yang memasangkan.

Petugas dengan sigap mengontrol jaringan gas.

“Semua anak sudah berkeluarga tinggal di luar kota. Saya tidak bisa memasang selangnya. Pernah masang sendiri ngowos, di TV ada gas yang meledak, jadi ngeri. Kalau habisnya malam ya nunggu sampai pagi,” ceritanya.

Sebab itu pada pertengahan 2016, saat jaringan gas masuk dan beroperasi di kampungnya, ia menyambut baik. Sebelum beroperasi petugas sudah menerangkan cara mematikan gas, bila terjadi kebocoran. Dengan memutar kran pengaman di samping rumah.

“Enak ada gas ini tidak ada habisnya. Untuk pembayaran kita bisa melihat habisnya berapa ada meterannya,” terangnya sambil menunjukkan meteran gas.

Selain itu ia menyampaikan, sejauh ini tidak pernah ada masalah kebocoran atau gas ngowos. Mengenai pembayaran selama ini dititipkan pada Jumariani, pedagang jamu langganan. Dan Jumariani membayarkan ke Indomart.

BACA JUGA: 4.055 Warga Probolinggo Bakal Menikmati Jargas PGN

“Dulu waktu masih memakai tabung, sebulan habis dua tabung. Sekitar empat puluh ribuan sak masang e,” ceritanya.

Ia menceritakan sekali mengganti tabung mengeluarkan uang Rp 20 ribu. Harga per tabung Rp 18 ribu (sekarang Rp 18.500), sisanya untuk mas-mas yang mengirim sekaligus memasangkan tabung. Begitu bertahun-tahun.

Sementara Ismi, warga yang sama mengaku, sejauh ini tidak ada kendala dalam pemakaian PGN. Mengenai pembayaran setiap bulan rata-rata Rp 50 ribu. Pemakaian itu selain untuk rumah tangga juga untuk jualan mie rebus dan kopi di rumah.

Menurutnya dalam pemakaian gas berlangganan sehari-hari tidak ada kendala. Hanya setahun lalu gas pernah ngowos akibat karet selang sambungan ke kompor dimakan tikus.

BACA JUGA: Tahun 2020 Warga Kota Pasuruan Bakal Menikmati 7.004 SR Jargas

“Itu blai slamet, anak saya langsung lari ke luar mematikan kran gasnya. Kalau pakai LPG, sudah habis rumah saya,” ceritanya mengenang kejadian setahun lalu.

Saat itu juga, ia menghubungi petugas PGN, petugas pun datang dan mengganti selang bocor. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran untuknya agar lebih sering merawat kebersihan kompor.

Mengenai pembayaran tagihan, ia mengaku menabung setiap hari, menyisihkan Rp 2 ribu pada kaleng bekas rokok. Dengan begitu ia tidak merasa keberatan saat bayar tagihan. Biasanya ia membayar setiap tanggal 6 di awal bulan.

Sementara menurut Ketua RT 2/RW 3, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Tegalsari, Martini, sejak pemasangan PGN pada 16 Mei 2016, tercatat 60 warga dari 100 kepala keluarga yang berlangganan PGN.

BACA JUGA: PGN Target Selesaikan Jargas 20 Pelanggan Rumah Tangga di Surabaya Selesai November 2019

Adapun warga yang sudah tidak berlangganan ada tiga orang. Pemutusan karena warga menunggak bayar tagihan hingga lebih dari tiga bulan. Belajar dari sana, ia menyarankan pada warga agar menyisihkan uang meski Rp 1.000 setiap hari, untuk membayar tagihan gas. Ia sendiri setiap bulan rata-rata membayar Rp 25 ribu, jumlah ini lebih kecil dibanding memakai LPG melon, yang mencapai Rp 54 ribu untuk tiga tabung.

“Sejauh ini tidak ada komplain dari warga, hanya Bu Ismi saja. Saat itu juga ditangani, itu pun kesalahan pada pelanggan. Saya selalu menyarankan pada warga, jangan sampai telat bayar. Sayang kalau diputus, sudah diberi fasilitas negara harus dijaga,” terangnya.

Himbauan itu sering kali disampaikan dalam perkumpulan PKK, saat kegiatan Posyandu maupun saat bincang santai dengan warga. Semua itu dilakukan agar warga tidak lupa. Mengingat banyak warga daerah lain yang ingin berlangganan jaringan gas, namun belum terpenuhi.

Sementara Sekretaris PT PGN Tbk, Rahmat Hutama, dalam keterangannya menyampaikan, pihaknya akan konsisten membangun infrastruktur gas bumi nasional guna meningkatkan pemanfaatan produksi gas bumi. Sampai saat ini, PGN telah mengelola jaringan infrastruktur pipa gas lebih dari 10.000 km.

BACA JUGA: Peringatan HUT 74 th Kemerdekaan RI, HCML Dukung Program Menteri ESDM Wujudkan Jargas Bisa Dinikmati Masyarakat Pasuruan

Dari infrastruktur tersebut, PGN telah menyalurkan gas bumi sebagai energi untuk pelanggan pada berbagai segmen, seperti pelanggan komersial (restoran, hotel, rumah sakit), industri manufaktur, pembangkit listrik, dan Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM), serta pelanggan rumah tangga yang tersebar di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, dan Sorong.

Adapun PGN sendiri memiliki tugas penting dalam menyukseskan pemanfaatan gas bumi domestik, serta berperan nyata dalam mencapai target bauran energi nasional sebagai upaya menjaga ketahanan energi nasional khususnya pencapaian target 4,7 juta sambungan jaringan gas bumi rumah tangga untuk menekan subsidi energi.

“PGN berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dan saling bersinergi bersama seluruh pihak yang terlibat untuk kemajuan pemanfaatan gas bumi yang aman, efisien, dan ramah lingkungan,” kata Rachmat. (kj5)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *