Kasus Kematian Ibu dan Bayi, Banyak Ditemukan di Daerah Terpencil

oleh

Surabaya, kilasjatim.com – Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menilai kasus kematian ibu dan bayi, banyak ditemukan di daerah terpencil. Ini karena mereka kesulitan akses layanan kesehatan.

“Bersama dengan pihak terkait terus berupaya mencari sistem yang tepat agar mampu mengurangi tingkat kematian ibu dan bayi,” katanya kepada wartawan usai menghadiri  acara Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) 2019 di Gedung Negara Grahadi, Selasa (23/4/2019).

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, jumlah kematian ibu dan bayi baru lahir di Jawa Timur (Jatim) saat ini masih tergolong tinggi. Pada tahun 2017, jumlah kematian ibu sebanyak 580 kasus. Kemudian angka rata-rata kematian sebanyak 91/100.000 angka kelahiran.

Di Jatim, sekitar 54 persen kematian ibu terjadi pada masa nifas atau 0 – 42 hari setelah masa bersalin. Sementara 25 persen terjadi ketika ibu hamil dan 21 persen ketika bersalin. Adapun kematian bayi, 42 persen disebabkan akibat berat badan lahir yang rendah. Sekitar 25 persen dikarenakan asfiksia dan 16 persen akibat kelainan bawaan.

“Untuk ibu hamil yang tempat tinggalnya jauh dari layanan kesehatan, kita siapkan rumah singgah. Tapi kebanyakan mereka tidak betah karena harus jauh dari rumahnya,” ungkapnya.

Menurut Emil, ada banyak sekali masalah yang dihadapi kaum perempuan terkait reproduksi. Ketika reproduksi tidak sehat, maka potensi kematian ibu dan bayi ketika proses melahirkan semakin besar. Kemudian masalah kanker serviks.

Salah satu pemicu dari penyakit tersebut adalah pernikahan di bawah umur. “Nah, ini yang perlu diketahui oleh anak-anak (usia sekolah). Mereka tidak perlu tabu untuk membicarakan masalah reproduksi. Sehingga mereka memahami apa saja resiko ketika menikah usia dini,” ujarnya.

Meski demikian, mantan bupati Trenggalek tersebut menyebut, jumlah kasus kematian ibu dan bayi di Jatim tiap tahun terus menurun. Namun begitu, dirinya tidak fokus pada seberapa besar penurunannya. “Yang pasti satu nyawa tetap berharga untuk diselamatkan,” ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, Kohar Hari Santoso mengungkapkan, ada tiga penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi di Jatim. Antara lain pendarahan, preeklamsi dan eklamsi, serta infeksi. Jatim sendiri telah membentuk forum Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi (Penakib).

“Kami juga merencanakan kursus pra-nikah menjadi syarat bagi dua sejoli yang ingin berumah tangga. Nantinya, kursus pra-nikah ini akan ditangani Kantor Urusan Agama (KUA),” ujarnya. (Wah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *