BankJatim Siap Dengan Masa Transisi New Normal Jaga Stabilitas Kinerja 2020

oleh

 

KILASJATIM.COM, Surabaya –
Selama masa pandemi Covid19 BankJatim merasakan dampak yang cukup signifikan pada kinerja.

Pejabat pengganti sementara (Pgs) Direktur Utama Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha mengatakan, ada tiga hal utama yang terdampak. Pertama adalah 0Dana Pihak Ketiga DPK. Di Bank Jatim dananya ada dana pemerintah daerah baik kota maupun provinsi yang alokasinya beberapa ada yang dialihkan ke penanganan Covid19.

“Sebagian dana yang sebelumnya untuk project dialihkan untuk bantuan, dampaknya secara tidak langsung terhadap beberapa proyek secara tidak langsung terjadi penundaan karena dananya dialihkan.” ujar Ferdian, pada Diskusi virtual bersama IDX di Waktu Indonesia Berprestasi, dengan tema “BJTM Menahan Laju Covid19”, Selasa, (16/6/2020), yang dipandu Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Timur Dewi Sriana R.

Selain itu adanya physical distancing juga berpengaruh pada layanan Bank Jatim. Sebagian besar nasabah BankJatim adalah UMKM yang masih awam dengan pemberlakuan phisycal distancing .

Namun demikian secara kinerja Bank Jatim pada Triwulan I 2020, DPK tumbuh 11,48% atau menjadi kurang lebih Rp. 57, 7 Triliun. Ini lebih tinggi dari industri perbankan nasional di angka 9,45%.

“Untuk Kredit Bank Jatim Rp. 38,4 Triliun atau naik 14,02% yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan perbankan nasional di angka 7,95% dan laba Bank Jatim juga tumbuh, meningkat 8,33% yoy atau Rp. 439 Miliar,” jelasnya.

Upaya mempertahankan peningkatan kinerja tersebut dilakukan BankJatim dengan POJK 11 tahun 2020 terkait stimulus ekonomi nasional, yang dinilai sangat membantu perbankan di tanah air termasuk Bank Jatim, sehingga bisa melakukan langkah restrukturisasi kredit yang bermanfaat tidak hanya bagi bank melainkan juga bagi nasabah.

Dijelaskan Ferdian, ada lima langkah utama sebenarnya yang akan dilakukan BankJatim, pertama penurunan suku bunga, perpanjangan atau perubahan jangka waktu kredit, penundaan pembayaran pokok atau bunga, penambahan akses pembiayaan ataupun kombinasi dari empat poin tadi.

“Ini cukup bisa membantu menjaga stabilitas kinerja Bank Jatim di 2020,” urainya.

Dalam memasuki era new normal Bank Jatim juga semakin meningkatkan layanan lain dalam rangka mendukung protokol kesehatan selama masa transisi. Layanan tersebut terbagi dalam dua konsep.

“Konsep yang diusung pertama kegiatan perbankan kepada pemerintah daerah. Yakni, Electronic keuangan daerah (E-KD). Yang kedua, adalah konsep layanan yang ditujukan kepada nasabah retail (pelaku UMKM) dan consumer,”jelasnya.

Sedangkan untuk nasabah, dengan mengakses produk funding dan lending. Contohnya, produk E-Multiguna yang dapat diakses nasabah consumer yang ingin mengajukan kredit.

“Temen-temen nasabah yang ingin mengajukan kredit, tinggal memasukkan datanya, tinggal foto E-KTP dan lainnya. Dalam hitungan jam sudah cair,” tambah Ferdian seraya menambahkan, kinerja Bank Jatim terus tumbuh sejak 2011-2019. Dari 758 titik jaringan di 2011, sekarang ada 1.745 titik.

“Total aset Bank Jatim di 2011 Rp. 24,8 Triliun, saat ini sudah mencapai Rp. 76.7 Triliun di 2019. Kredit juga demikian, naik dari Rp. 16 Triliun di 2011 menjadi Rp. 38,3 Triliun di 2019. DPK dari Rp. 21,1 Triliun menjadi Rp. 60,5 Triliun di 2019.” pungkasnya. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *