Rapat dengan Bos BTN, Mufti Anam Sampaikan Keluhan Pengembang Susah Akses Restrukturisasi Kredit

oleh
Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, Mufti Anam.

KILASJATIM.COM, JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, Mufti Anam, meminta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) untuk terus mendorong penyaluran kredit ke sektor properti dengann tidak mempersulit para pengembang lokal.

Mufti mengatakan, baru bertemu dengan sejumlah pengembang di Jawa Timur, termasuk dari REI Jatim. ”Ada sejumlah keluhan ke BTN. Teman-teman pengembang berharap BTN lebih cepat bergerak untuk mendorong pemulihan ekonomi, tapi kenyataannya malah lambat,” ujar Mufti seusai rapat dengar pendapat dengan BTN, BNI, dan RNI secara hybrid, Kamis (9/9/2021).

Mufti mencontohkan sejumlah hal. Di antaranya tidak adanya penerapan beberapa klasifikasi pengembang. Selama ini, di BTN ada klasifikasi pengembang, di antaranya silver, gold, dan platinum. Tergantung kondisi kinerja pengembang tersebut.

”Tapi sekarang ada keluhan, itu hanya sebatas judul dalam tanda kutip. Tidak ada bedanya antara silver, gold dan platinum. Semuanya kesulitan berkomunikasi dan mengakses BTN,” jelas politisi muda mantan ketua HIPMI Jawa Timur tersebut.

Selain itu, lanjut dia, para pengembang menghadapi kesulitan dalam pengurusan restrukturisasi, di mana ada yang menilai pengembang yang mengajukan restrukturisasi sebagai pengembang cacat, padahal pengembang yang mengajukan tersebut masih berstatus kol-2 (kolektibilitas 2).

”Nah itu teman-teman pengembang susah ajukan restrukturisasi. Sudah dinilai cacat, dinilai buruk banget, yang itu nantinya dia bisa-bisa susah cari kredit tambahan. Padahal baru Kol-2. Dan kalau soal restrukturisasi, kan bisa Kol-2 disetujui tanpa harus dia Kol-3. Restrukturisasi ini penting untuk menjaga cashflow pengembang dan tetap menggerakkan sektor properti,” ujarnya.

Mufti menambahkan, ada pula keluhan dari pengembang soal lambannya pengurusan kredit. ”Ada yang proses 2-3 bulan lebih, bahkan 6 bulan kemudian tidak disetujui. Ada banyak pengajuan kredit ditolak dan atau dikurangin plafonnya. Nah, teman-teman pengembang kemudian pindah ke bank lain dan disetujui. Tentu ini harus dicari solusinya. Kalau penyaluran kredit lama, otomatis ekonomi juga akan sulit bergerak cepat,” jelasnya.

Dia mengatakan, sektor properti adalah salah satu kunci pemulihan ekonomi. Sektor properti memiliki 175 industri kaitan, seperti industri baja, aluminium, semen, keramik, batu bata, genteng, baja, kaca, kayu, cat, furnitur, alumunium, peralatan rumah tangga, alat kelistrikan, tekstil, AC, elektronik, konsumsi dan masih banyak lagi. Jika sektor properti bergerak, penyerapan tenaga kerja di industri-industri tersebut juga otomatis akan semakin banyak.

”Maka ini harus jadi perhatian bersama, sehingga kita berharap ada akselerasi dari bank-bank BUMN untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pengembang,” paparnya. kj1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *