Porang Berpotensi Besar Tingkatkan Ekonomi Di Pasar Global

oleh

Harmanta, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur


KILASJATIM.COM, Surabaya – Porang tanaman yang menjanjikan, hal ini disassrka dari tingginya permintaan ekspor Porang yang terus mengalami peningkatan. Di tahun 2019 – 2020 ekspor porang sebesar 20,5 Juta Kg Chips atau setara dengan 136 Juta Kg Porang Basah. Jika dirata-ratakan produktivitas lahan porang adalah sebesar 70ton/Ha.

Dengan potensi porang yang cukup besar terutama di pasar global, diharapkan pasar dalam negeri juga dapat didukung serta diperkuat dalam menyerap produk hasil pengolahan porang, ditengah tantangan branding produk porang yang cenderung masuk ke produk kelas menengah ke atas.

Harmanta, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menjelaskan, Porang, tanaman umbi-umbian tengah populer dibicarakan masyarakat, tanaman liar yang sekarang menjadi viral. Namun demikian, potensi porang memang sangat besar melihat kebutuhan dan manfaatnya pada beberapa industri.

“Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.” jelasnya melalui virtual Rabu (17/03/2021).

Ditambahkan Harmanta, pengembangan porang dari hulu sampai hilir juga memiliki peluang yang besar. Pengolahan porang dari mulai umbi, chip porang sampai dengan produk akhir memiliki added value yang besar, sehingga memiliki potensi nilai ekonomis yang besar dan mampu masuk ke pasar global.

Pasda kesempatan yang sama, Didik Kuswandani, Kepala Desa Klangon, menuturkan, sejak jaman dahulu, mata pencaharian utama masyarakat desa Klangon adalah berkebun di lahan Perhutani dan masuk dalam impres desa tertinggal.

“Salah satu tanaman yang menjadi komoditas tanam pada lahan hutan tersebut adalah berbagai macam tanaman rempah-rempah sampai dengan tanaman Porang. Dari berbagai macam tanaman tersebut pada tahun 1985 dibentuk kerjasama antara Desa Klangon dengan Perhutani untuk pengembangan tanaman Porang, dimana pada saat itu harga porang masih rendah yakni sebesar Rp 100,-/kg,” ujarnya.

Melalui Kerjasama dibentuklah demplot percontohan budidaya tanaman porang. Berawal dari hal tersebut masyarakat Klangor mulai menanam porang pada lahan-lahan yang dapat dimanfaatkan, sehingga hampir 100% warga Klangon saat ini telah menanam dan membudidayakan porang.

“Ke depan, untuk dapat menambah nilai tambah budidaya tanaman Porang diharapkan mengkolaborasikan tanaman porang dengan tanaman lainnya dengan sistem irigasi melalui mata air pegunungan. Melalui Pemerintah Daerah juga harapkan budidaya tanaman porang juga dapat diadopsi dan dikembangkan di wilayah lainnya,” imbuhnya.

Sala satu Petani Porang Paidi, menyampaikan, tanaman Porang dianggap hanya bisa tumbuh pada wilayah hutan di lereng gunung. Namun demikian pada tahun 2010 dikembangkan pola rekayasa tanam tanaman Porang pada lahan perkebunan lainnya, seperti contoh pada naungan tanaman singkong dengan modal seminimal mungkin.

“Melalui rekayasa tanam tanaman Porang dengan lahan perkebunan/lahan pertanian didapatkan satu umbi porang (katak) dapat menghasilkan 7 bulbil tanaman porang. Saat ini telah dibuka laboratorium terbuka untuk pembelajaran rekayasa tanam budidaya porang yang dapat dipelajari masyarakat luas,” kata Paidi.

Sementara itu, Dr. Doddyk Pranowo, STT., M.Si – Akademisi Universitas Brawijaya, menegaskan, peluang bisnis berbahan baku porang yang memiliki potensi besar saat ini banyak menjadi produk olahan makanan seperti mie shirataki, beras konyaku, mie shirataki instant, pasta porang, konyaku, boba dan turunan makanan lainnya yang dapat digolongkan sebagai healthy food.

Selain itu produk turunan porang juga dapat diolah sebagai bahan baku produk kecantikan seperti butiran pembersih wajah, spons pembersih wajah, supplement diet, pengental alami, pembersih wajah, dsb.

“Namun demikian sebelum menjadi produk olahan akhir, umbi porang terlebih dahulu diolah menjadi chips yang dikeringkan melalui pengeringan oven atau dikeringkan secara manual (penjemuran matahari). Setelah menjadi chips yang kering, umbi porang diolah menjadi tepung porang sampai dengan ekstrak Glukomannan,” jelas Doddyk.

Ke depan, diharapkan adanya dukungan inovasi dalam mempopulerkan produk olahan porang menjadi fokus pengembangan pasar porang dalam negeri, sehingga tanaman porang tidak hanya dinikmati oleh pasar luar negeri namun juga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. (kj2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *