Penularan HIV dan Sifilis di Indonesia Meningkat, Yuk Ketahui Pencegahannya!

oleh -371 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Penularan kasus human immunodeficiency virus (HIV) dan sifilis di Indonesia menunjukkan tren mengkhawatirkan. Juru Bicara Kementerian Kesehatan Muhammad Syahril mengatakan, penularan dalam beberapa tahun terakhir meningkat signifikan dan didominasi oleh ibu rumah tangga.

Syahril mengatakan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV mencapai 35 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari kasus HIV pada kelompok lainnya, seperti suami pekerja seks dan kelompok MSM (man sex with man).

“Aktivitas ini telah menyumbang sekitar 30 persen penularan dari suami ke istri. Dampaknya, kasus HIV baru pada kelompok ibu rumah tangga bertambah sebesar 5.100 kasus setiap tahunnya,” kata Syahril dalam keterangannya, Rabu (10/5/2023).

Ia mengatakan, penyebab tingginya penularan HIV pada ibu rumah tangga karena pengetahuan akan pencegahan dan dampak penyakit yang rendah serta memiliki pasangan dengan perilaku seks berisiko. Ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV juga berisiko tinggi untuk menularkan virus kepada anaknya. Penularan bisa terjadi sejak dalam kandungan, saat proses kelahiran, atau saat menyusui.

Secara umum, penularan HIV melalui jalur ibu ke anak menyumbang sebesar 20-45 persen dari seluruh sumber penularan HIV lainnya seperti melalui seks, jarum suntik, dan transfusi darah yang tidak aman.

Dampaknya, sebanyak 45 persen bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV akan lahir dengan HIV. Artinya, sepanjang hidup bayi tersebut akan menyandang status HIV positif.

“Saat ini, kasus HIV pada anak usia 1-14 tahun mencapai 14.150 kasus. Angka ini setiap tahunnya bertambah sekitar 700-1.000 anak dengan HIV,” ujar Syahril.

Terkait dengan proses deteksi, Kemenkes mencatat hanya 55 persen ibu hamil yang di tes HIV karena sebagian besar tidak mendapatkan izin suami untuk dites. Dari sejumlah 7.153 positif HIV, 76 persennya belum mendapatkan pengobatan ARV. Hal itu juga akan menambah risiko penularan kepada bayi.

Baca Juga :  HIPMI BPC Surabaya Tanda Tangani 25 MoU  

Melihat sumber infeksi, Syahril menilai penularan HIV masih akan terus terjadi. Sebab, dari 526.841 orang dengan HIV, baru sekitar 429.215 orang yang sudah terdeteksi atau mengetahui status HIV dirinya. Artinya, masih ada 100 ribu orang dengan HIV yang belum terdeteksi dan berpotensi menularkan HIV ke masyarakat.

Selain HIV, penyakit sifilis atau raja singa juga dilaporkan meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2016-2022). Peningkatannya dari 12 ribu kasus menjadi hampir 21 ribu kasus dengan rata-rata penambahan kasus setiap tahunnya mencapai 17 ribu hingga 20 ribu kasus.

Syahril mengatakan, persentase pengobatan pada pasien sifilis masih rendah. Pasien ibu hamil dengan sifilis yang diobati hanya berkisar 40 persen pasien. Sisanya, sekitar 60 persen tidak mendapatkan pengobatan dan berpotensi menularkan dan menimbulkan cacat pada anak yang dilahirkan.

“Rendahnya pengobatan dikarenakan adanya stigma dan unsur malu. Setiap tahunnya, dari 5 juta kehamilan, hanya sebanyak 25 persen ibu hamil yang diskrining sifilis. Dari 1,2 juta ibu hamil, sebanyak 5.590 ibu hamil positif sifilis,” kata Syahril.

Pencegahan

Dengan deteksi dan pengobatan dini, sifilis dapat disembuhkan. Komplikasi pun dapat dicegah. Sifilis bisa memiliki berbagai gejala bergantung pada stadium infeksi. Bahkan, beberapa orang tidak memiliki gejala sama sekali. Karena sifilis sangat menular pada tahap awal infeksi, penyakit ini mudah menyebar melalui kontak langsung dengan luka yang terinfeksi. Ini paling sering terjadi selama aktivitas seksual, termasuk seks vaginal, anal, dan oral. Sifilis juga dapat menyebar dari ibu ke anak selama kehamilan atau persalinan.

Dikutip dari laman HealthNews, Rabu (10/5/2023), gejala sifilis termasuk luka pada alat kelamin, ruam pada tubuh, dan masalah kesehatan lain. Tanpa pengobatan, bahkan jika gejalanya hilang, infeksi berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Empat tahap infeksi sifilis terdiri atas fase primer, sekunder, laten, dan tersier. Selama tahap primer, muncul gejala awal berupa luka yang disebut chancre. Biasanya berupa luka tunggal, tidak nyeri, kecil, menonjol, keras, dan terbuka, di tempat masuknya bakteri. Chancre dapat bertahan tiga sampai enam pekan.

Baca Juga :  Pemkot Terus Berupaya Tekan Kasus HIV Anak di Kota Surabaya

Berlanjut ke tahap sifilis sekunder, yaitu munculnya ruam setelah chancre menghilang. Ruam dapat muncul di mana saja di tubuh, tetapi paling sering menyerang telapak tangan dan telapak kaki. Gejala lain mungkin termasuk pembengkakan kelenjar getah bening, pertumbuhan seperti kutil, demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan nyeri otot dan persendian.

Pada tahap sifilis laten, sama sekali tidak ada gejala yang muncul, tetapi bakteri penyebab sifilis tetap ada di dalam tubuh. Tahap ini dapat berlangsung bertahun-tahun, dimulai dengan fase laten awal (tahun pertama setelah infeksi) dan fase laten akhir (lebih dari setahun setelah infeksi). Infeksi hanya bisa terdeteksi melalui tes darah.

Terakhir adalah sifilis tersier yang dapat terjadi bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun setelah infeksi awal. Pada fase tersebut dapat terjadi masalah kesehatan yang serius, seperti gangguan otak, jantung, saraf, mata, tulang, dan organ lainnya, dari rentang ringan hingga parah.

Mengingat sifilis adalah infeksi bakteri, penyakit ini bisa diobati dengan antibiotik. Namun, lamanya pengobatan bergantung pada stadium dan tingkat keparahan infeksi, selain juga kondisi kesehatan keseluruhan seseorang.

Ketika terdeteksi pada tahap awal, sifilis dapat diobati dan disembuhkan dengan satu suntikan penisilin. Namun, jika infeksi telah berkembang ke tahap selanjutnya, pengobatan mungkin memerlukan beberapa dosis penisilin.

Selama perawatan, penting bagi pasien untuk menyelesaikan seluruh rangkaian antibiotik yang diresepkan. Hindari kontak seksual untuk mencegah penyebaran sifilis ke orang lain. Pasien perlu memberi tahu pasangan seksual sehingga orang tersebut dapat menjalani tes dan pengobatan. (bbs/fiq)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.