Masih Terpuruk, Ini Strategi UMKM di Bali Agar Bertahan

oleh

 

KILASJATIM.COM, BALI – Dampak pandemi Covid-19 masih terasa di pulau Bali. Sebagai salah satu pulau tropis yang banyak diincar turis, Bali pun tak luput dari keterpurukan.

Pariwisata yang menjadi penggerak utama lajunya ekonomi di Bali mendadak lumpuh, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga merasakan dampak pandemi COVID-19.

Namun, ada strategi yang harus dilakukan para pelaku UMKM agar bisnis usahanya tetap bertahan dan produktif di masa pandemi COVID-19.

Menurut akademisi Universitas Warmadewa (Unwar) Bali, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, S.E., M.Si., strategi yang paling relevan adalah ‘Survival Method’.

Dikatakan, kunci kelangsungan hidup UMKM tergantung kemampuannya menjaga ‘cashflow’ dalam jangka panjang. Pasalnya, tidak ada yang tahu kapan pandemi COVID-19 akan berakhir.

Caranya, para pelaku UMKM harus mengupayakan efisiensi pengeluaran, menunda ekspansi bisnis, mengatur gaji karyawan, mengatur jam kerja (shift), menjaga komunikasi dengan stakeholder, berinovasi, jemput bola, dan memaksimalkan marketing online.

“Jika sebelumnya ada rencana ekspansi bisnis, tolong tunda dulu. Di era pandemi ini para pelaku usaha harus benar-benar hati-hati. Utamakan kebutuhan primer, jaga cashflow agar tidak kolaps,” ujar Putu.

Merujuk hasil riset tentang keputusan konsumen, dijelaskan bahwa sebanyak 20% ditentukan oleh logika. Sementara, 80% berdasarkan emosi konsumen.

Hal inilah yang harus dimanfaatkan oleh pelaku UKM dengan mengedepankan aspek emosional konsumen. Artinya, pelaku UKM mesti mengurangi nasfu meraup untung besar.

Namun, pihaknya menyarankan agar para pelaku UMKM mendonasikan sebagian keuntungan untuk mengurangi beban sesama manusia akibat COVID-19.

“Sekarang bukan momentum tepat meraup untung banyak. Malah ujian bagi pengusaha agar lebih empati dan peduli terhadap sesama,” lanjut Putu.

Kaprodi Magister Managemen Pascasarjana Unwar ini mengajak seluruh pelaku usaha agara mampu bersaing secara sehat. Mengingat akhir-akhir ini banyak muncul pengusaha ‘dadakan’ yang rata-rata berasal dari karyawan yang dirumahkan oleh perusahaanya.

“Yang penting itu ‘new marketing’ strategi. Contohnya, ada tukang cukur yang mendatangi konsumen ke rumahnya. Usahanya tetap jalan, karena menjaga komunikasi dengan baik ke pelanggan. Dengan terbatasnya aktivitas manusia, strategi baru yang inovatif sangat mutlak diperlukan,” tutup Putu. (Rie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *