Adira Finance Catat Pertumbuhan Laba Bersih Tahun 2022 Sebesar 32 Persen

oleh -664 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi global mengalami perlambatan di tahun 2022 sebagai dampak dari lonjakan inflasi yang cukup tinggi disertai eskalasi geopolitik yang masih berlanjut mengakibatkan meningkatnya harga pangan dan bahan bakar minyak dunia. Dalam merespon kenaikan inflasi tersebut, Bank Sentral di berbagai negara terus mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter agresif.

Pada 2022, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 425bps menjadi kisaran 4,25%-4,50% dan memberikan tekanan pada pasar keuangan global serta nilai tukar terutama di negara berkembang. Worldbank memperkirakan perekonomian global akan tumbuh sekitar 2,9% di 2022, lebih rendah dari tahun 2021 sebesar 5,9%.

Di tengah perlambatan ekonomi global, perekonomian Indonesia terus menunjukkan tren yang cukup baik tercermin dari pertumbuhan PDB di tahun 2022 yang tumbuh menjadi 5,3% y/y. Hal ini didukung meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, daya beli yang tetap terjaga dan kinerja ekspor yang kuat.

Kementerian Keuangan memproyeksikan prospek pertumbuhan ekonomi domestik akan tetap tumbuh di atas 5% pada 2023. Namun demikian, potensi risiko tekanan ekonomi global, serta kenaikan suku bunga di negara maju masih perlu diperhatikan.
Di sisi lain sebagai respon dalam menghadapi tantangan dari luar, Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI7DRR sebanyak 5 kali menjadi 5,50%
sepanjang tahun 2022.

Selain itu, Pemerintah juga melakukan kenaikan harga bahan bakar minyak untuk memperbaiki defisit anggaran fiskal. Sepanjang tahun 2022 penjualan industri mobil baru ritel tercatat tumbuh sebesar 17% menjadi 1,0 juta unit.

Pertumbuhan tersebut didorong perpanjangan masa berlakunya insentif pajak PPnBM dan membaiknya
iklim bisnis. Sementara itu, penjualan sepeda motor baru ritel tercatat mencapai 5,3 juta unit atau hanya tumbuh sebesar 4% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut relatif kecil
dibandingkan pertumbuhan penjualan mobil, terutama karena terkendalanya proses produksi akibat kelangkaan chip semikonduktor dan berbagai suku
cadang otomotif lainnya di pertengahan tahun 2022, meskipun daya beli masyarakat sudah membaik.

Namun demikian, mengingat prospek pertumbuhan ekonomi cukup baik, dan produksi kendaraan berangsur pulih, pertumbuhan industri otomotif diharapkan akan berlanjut di tahun 2023.

Baca Juga :  Kolaborasi Danamon, Adira Finance, dan MUFG di IIMS Surabaya 2024, Dorong Pertumbuhan Otomotif Jawa Timur

I Dewa Made Susila, Direktur Utama Adira Finance mengatakan, membaiknya pertumbuhan penjualan industri otomotif berdampak positif pada kinerja Adira Finance di 2022. Perusahaan mencatatkan pembiayaan baru meningkat sebesar 22% y/y menjadi Rp31,7 triliun terutama didorong dari pertumbuhan segmen pembiayaan mobil.

” Adira Finance berhasil membukukan pertumbuhan piutang yang dikelola sebesar 10% menjadi sebesar Rp44,6 triliun, setelah sempat mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir karena dampak pandemi Covid-19.” Kata I Dewa Made Susila melalui siaran resminya yang dikirim ke redaksi kilasjatim.com

Pembiayaan syariah sebesar Rp9,6 triliun atau berkontribusi 21% dari total piutang yang dikelola pada tahun 2022, meningkat dari tahun 2021 sebesar 18%.
Sementara pembiayaan baru di segmen syariah dibukukan meningkat 20% menjadi Rp6,6 triliun di tahun 2022. Pertumbuhan ini sejalan dengan langkah strategis yang dilakukan Perusahaan dengan terus memberikan penyaluran pembiayaan produk syariah secara agresif serta peningkatan jaringan usaha syariah.

“Secara regional, pembiayaan baru Adira Finance wilayah Jawa Timur di 2022 tercatat mencapai Rp2,4 triliun, naik 8% y/y jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong
pertumbuhan pembiayaan baru segmen mobil dan non otomotif masing-masing sebesar 28% y/y dan 28% y/y.
Secara keseluruhan, area Jawa Timur berkontribusi sekitar 8% dari total pembiayaan baru Adira Finance.”
kata Kanwil Jawa Timur.

Terkait jaringan usaha, per 31 Desember 2022 Adira Finance telah mengoperasikan 459 jaringan usaha di seluruh Indonesia dengan didukung sekitar 17 ribu karyawan, untuk melayani sekitar 1,7 juta konsumen.
Untuk mendukung pembiayaan produk ramah lingkungan dan untuk menerapkan keuangan keberlanjutan, Adira Finance telah mulai menyalurkan pembiayaan kendaraan listrik, yang nilainya meningkat signifikan di kuartal IV-2022 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Peningkatan ini didukung dengan meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya konsep “green living”, penambahan infrastruktur pengisian baterai kendaraan listrik oleh Pemerintah, serta munculnya beberapa produsen kendaraan listrik.

Dari sisi keuangan, Adira Finance membukukan laba bersih yang tumbuh sebesar 32% y/y menjadi sebesar
Rp1,6 triliun terutama disebabkan penurunan pada biaya bunga dan biaya kredit di sepanjang tahun 2022.
Beban bunga tercatat turun sebesar 34% menjadi Rp729 miliar dampak adanya penurunan pada jumlah pinjaman dan biaya pendanaan. Disamping itu, sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi dan bisnis, biaya kredit tercatat menurun sebesar 35% y/y menjadi Rp907 miliar.

Baca Juga :  Dirut SIG Donny Arsal, Raih Penghargaan Top Leader on CSR Commitment 2023

Dengan demikian, Return on Asset
(ROA) dan Return on Equity (ROE) Perusahaan masing-masing menjadi 8,6% dan 17,4% di tahun 2022. Per posisi Desember 2022, kualitas aset Perusahaan
menunjukkan perbaikan yang ditandai rendahnya gross NPL konsolidasi yang dikelola dilevel 1,7%, dari sebelumnya sebesar 2,3% pada tahun 2021.
Penurunan ini didukung aktivitas ekonomi yang berangsur pulih sehingga mempengaruhi kapasitas pembayaran konsumen serta aktivitas penagihan yang intensif.

Dari sisi pendanaan, Perusahaan terus melakukan diversifikasi sumber pendanaannya melalui dukungan
berkelanjutan dari pembiayaan bersama dengan Perusahaan induknya, Bank
Danamon dan memperoleh pinjaman eksternal yang meliputi pinjaman bank dan obligasi. Per posisi Desember 2022,
Pembiayaan Bersama mewakili 47% dari piutang yang dikelola.

Sementara itu, total pinjaman Perusahaan pada Desember 2022 tercatat turun 4% menjadi Rp 10,5 triliun, terdiri dari pinjaman bank baik dalam negeri dan luar negeri dan obligasi, & sukuk masing-masing
memberikan kontribusi 48%:52%. Hasilnya, gearing ratio turun menjadi 1,0 kali di tahun 2022 dari sebelumnya 1,2 kali di 2021, yang didukung dari pertumbuhan jumlah ekuitas dari meningkatnya saldo laba.

“Pada awal tahun 2023, Adira Finance berhasil mempertahankan peringkat tertinggi domestik dengan penilaian idAAA/Stable dari Lembaga pemeringkat dalam negeri Pefindo. Disamping itu, Adira Finance juga mempertahankan peringkat internasional oleh Lembaga Pemeringkat Moody’s dengan peringkat Baa1/stable, dan peringkat BBB dari Lembaga Pemeringkat internasional Fitch Rating. Kami berharap peringkat ini dapat mempermudah Perusahaan untuk memperoleh akses pendanaan yang lebih kompetitif dan optimal dari dalam negeri maupun luar negeri.” pungkas I Dewa Made Susila. (nov)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.