Hari Anak Nasional, SD Raden Patah Hidupkan Permainan Tradisional saat MPLS

oleh -203 Dilihat
Oleh
Frizal
Reporter
Hari Anak Nasional, SD Raden Patah Hidupkan Permainan Tradisional saat MPLS. (Foto: Frizal/kilasjatim)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dimanfaatkan SD Raden Patah Surabaya untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada para siswa. Kegiatan tersebut dikemas dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai upaya menanamkan pendidikan karakter sejak hari pertama masuk sekolah.

Kepala SD Raden Patah Surabaya Emelia Rahmawati mengatakan permainan seperti gobak sodor dan lompat tali dipilih karena tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengajarkan kerja sama, sportivitas, serta kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya.

“Melalui permainan tradisional, anak-anak belajar bekerja sama, sportif, saling menghargai, serta menerima kemenangan maupun kekalahan sebagai bagian dari proses belajar,” kata Emelia, Jumat (24/7/2026).

SD Raden Patah Kenalkan Permainan Tradisional saat MPLS. (Foto: Frizal/kilasjatim)

Pada tahun ajaran 2026/2027, SD Raden Patah memiliki 405 siswa, termasuk 72 peserta didik baru kelas I. Tahun ini sekolah juga mulai menerima tiga siswa inklusif sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pendidikan yang ramah bagi semua anak.

Selama MPLS, siswa dikenalkan dengan guru, teman, lingkungan sekolah, kegiatan mendongeng (storytelling), hingga edukasi memilah sampah organik dan anorganik untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Memasuki pekan kedua, kegiatan berlanjut melalui Masa Pengenalan Lingkungan Kelas (MPLK). Siswa mengikuti pengenalan ruang kelas, laboratorium, UKS, ruang kepala sekolah, tata usaha, hingga demonstrasi berbagai ekstrakurikuler agar mereka dapat memilih kegiatan sesuai minat dan bakat.

Menurut Emelia, tantangan terbesar setiap awal tahun ajaran adalah membantu siswa kelas I beradaptasi dengan lingkungan baru. Beberapa anak masih menangis, mudah lelah karena perubahan jam belajar, hingga belum terbiasa melakukan aktivitas sederhana secara mandiri.

Untuk mendukung proses adaptasi tersebut, sekolah melibatkan guru kelas, guru mata pelajaran, dan guru Al-Qur’an dalam pendampingan siswa, termasuk saat menghadapi anak yang mengalami tantrum.

Baca Juga :  ‘Agak Laen: Menyala Pantiku!’ Raih 4 Juta Penonton dalam Sembilan Hari Penayangan

Selain pendidikan karakter, sekolah juga terus mengembangkan potensi siswa melalui empat ekstrakurikuler unggulan, yakni panahan, Tapak Suci, futsal, dan tahfiz Al-Qur’an. Salah satu prestasi yang diraih adalah cabang panahan yang berhasil menembus kejuaraan tingkat nasional pada tahun lalu.

Emelia menilai keberhasilan siswa tidak lepas dari kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Sekolah berperan dalam pembinaan, sementara keluarga memberikan dukungan saat anak mengikuti latihan maupun kompetisi.

Ia berharap peringatan Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang yang aman, ramah, dan inklusif untuk membentuk karakter serta mengembangkan potensi setiap anak. (FRI)