KILASJATIM.COM, Jakarta – Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, menjadi cerita yang tak terlupakan bagi keluarga besar SMAN 1 Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.
Pada 17 Agustus 2026, dua sosok dari generasi berbeda yang sama-sama memiliki ikatan dengan SMAN 1 Tenggarang berada di tempat yang sama. Keduanya adalah Adi Poernomo, alumni yang lulus pada 2015 dan kini bertugas sebagai Protokol Pimpinan Badan Gizi Nasional, serta Angelica Theona Putri, siswi SMAN 1 Tenggarang yang mendapat amanah sebagai Pengibar Bendera Pusaka.
Meski datang dengan tugas berbeda, keduanya membawa satu nama yang sama di belakang perjalanan mereka: SMAN 1 Tenggarang.
Bagi Adi, berada di Istana Merdeka merupakan bagian dari perjalanan profesional yang telah ditempuh sejak meninggalkan bangku sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Tenggarang pada 2015, ia terus mengembangkan pendidikan dan karier hingga dipercaya menjalankan tugas di lingkungan Badan Gizi Nasional.
Sementara bagi Angel, berada di Istana Merdeka menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan sebagai pelajar. Amanah sebagai Pengibar Bendera Pusaka menuntut kesiapan fisik dan mental, kedisiplinan, ketekunan serta kemampuan bekerja dalam tim.
Dua perjalanan itu kemudian bertemu pada momentum yang sama.
Angel menjalankan tugasnya dalam rangkaian upacara kemerdekaan, sedangkan Adi hadir menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Pertemuan tersebut menjadi simbol bahwa proses pendidikan yang dijalani di sebuah sekolah dapat melahirkan cerita berbeda pada setiap generasi.
Kepala SMAN 1 Tenggarang, Ahmad Junaidi, S.Ag., M.Pd.I., mengaku bangga melihat dua generasi dari sekolahnya dapat berada di Istana Merdeka dalam momentum bersejarah tersebut.
“Ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar SMAN 1 Tenggarang. Adi telah menunjukkan kiprahnya setelah menjadi alumni, sementara Angel sekarang sedang menjalankan amanah sebagai siswa. Keduanya membuktikan bahwa setiap generasi mempunyai ruang untuk berprestasi dan memberikan kontribusi,” ungkapnya.
Menurut Ahmad, prestasi alumni dan siswa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sebuah sekolah. Karena itu, ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya.
“Sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat membangun karakter dan keberanian untuk meraih cita-cita. Kami berharap kisah Adi dan Angel dapat menginspirasi siswa-siswa lainnya agar terus belajar, berprestasi dan membawa nama baik almamater,” katanya.
Pertemuan dua generasi tersebut juga memperlihatkan bagaimana sebuah almamater dapat menjadi penghubung perjalanan lintas waktu.
Adi telah menapaki dunia profesional setelah lulus pada 2015. Angel masih duduk di bangku sekolah, tetapi sudah memperoleh kesempatan menjalankan tugas dalam sebuah perhelatan kenegaraan.
Keduanya berada pada fase kehidupan yang berbeda, namun memiliki titik awal yang sama.
Dari SMAN 1 Tenggarang, Bondowoso, perjalanan itu membawa mereka hingga ke Istana Merdeka. Satu hadir sebagai profesional, satu lainnya sebagai pelajar yang dipercaya mengemban amanah kebangsaan.
Bagi SMAN 1 Tenggarang, kisah tersebut bukan sekadar tentang pertemuan dua orang di Istana. Lebih dari itu, menjadi gambaran bahwa setiap generasi dapat melanjutkan jejak prestasi dan pengabdian dengan cara masing-masing.
Dari alumni kepada siswa, dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya, nama SMAN 1 Tenggarang kembali hadir dalam sebuah cerita di panggung kemerdekaan Indonesia.(wan)
