Khofifah Pimpin Tanam Tebu Perdana di Kediri, Jatim Perkuat Target Swasembada Gula Nasional

oleh -178 Dilihat

KILASJATIM.COM, Kediri – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin kegiatan tanam tebu perdana dalam rangka program bongkar ratoon serentak di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat target swasembada gula nasional yang dicanangkan pemerintah.

Dalam kegiatan itu, Khofifah didampingi Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, Direktur Utama Sinergi Gula Nusantara Mahmudi, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, serta jajaran kepala perangkat daerah Pemprov Jawa Timur. Sejumlah kepala daerah lain juga mengikuti kegiatan secara daring.

Khofifah mengatakan program bongkar ratoon dilakukan serentak di 11 kabupaten dengan total 15 titik tanam. Kabupaten Kediri dipilih sebagai pusat kegiatan karena memiliki areal tebu terluas dibanding daerah lain.

“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 kabupaten. Yang areanya paling luas berada di Kabupaten Kediri, sehingga dipusatkan di Desa Ngletih bersama Kelompok Tani Tebu Semoga Jaya,” ujar Khofifah, Sabtu, 23/5/2026.

Menurut dia, program tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas tebu sekaligus memperluas lahan tanam di Jawa Timur. Pemerintah pusat menargetkan pengembangan tebu nasional seluas 97.970 hektare pada 2026, dan Jawa Timur mendapat porsi terbesar yakni 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

Khofifah menegaskan, Jawa Timur memiliki komitmen kuat mendukung program swasembada gula nasional. Ia menyebut provinsinya saat ini menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional.

“Target tahun ini adalah swasembada gula konsumsi, sedangkan tahun depan diharapkan bisa mencapai swasembada gula konsumsi dan industri,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem pasca panen, terutama dalam proses distribusi dan penyerapan hasil gula petani. Menurut Khofifah, petani harus mendapatkan kepastian pasar dengan harga yang layak setelah proses penggilingan selesai.

Baca Juga :  Khofifah Ajak Masyarakat Jatim Doa Bersama dan  Mengheningkan Cipta 60 Detik

Khofifah mengungkapkan, salah satu persoalan yang sempat menghambat penyerapan gula petani adalah membanjirnya gula rafinasi di pasar. Karena itu, pemerintah kini memperketat pengawasan impor gula rafinasi agar tidak masuk ke pasar konsumsi.

“Kalau gula rafinasi merembes ke pasar konsumsi, itu sangat mengganggu harga gula petani tebu,” ujarnya.

Selain itu, Khofifah menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, petani, pabrik gula, dan pelaku industri untuk meningkatkan daya saing sektor pergulaan nasional. Ia optimistis Jawa Timur mampu menjadi garda terdepan penguatan industri gula Indonesia.

Data Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat produksi gula kristal putih Jatim pada 2025 mencapai 1.343.995 ton atau tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Sementara itu, Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil mengapresiasi kinerja sektor pertanian Jawa Timur yang dinilai berhasil menjaga produktivitas sejumlah komoditas strategis, termasuk gula.

“Jawa Timur punya prestasi besar. Kami optimistis program bongkar ratoon ini mampu mendukung target swasembada gula nasional,” kata Ali.

Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian kepada kelompok tani berupa pompa air, rice transplanter, handtractor rotary, cultivator, serta paket adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. (Den)

No More Posts Available.

No more pages to load.