Jalan Berliku Para Pelatih Menuju Piala Dunia

oleh -433 Dilihat
Eri Irawan
Oleh
Eri Irawan
Penggemar Sepak Bola
Buku How to Win The World Cup karya Chris Evans

Roberto Martínez, pelatih Belgia yang membawa timnya ke semifinal Piala Dunia 2018, mengatakan, tidak ada juara dunia yang lahir karena kebetulan. Chris Evans dalam buku “How to Win The World Cup” menunjukkan betapa berlikunya jalan yang ditempuh seorang pelatih untuk menjadi juara dunia. Namun bagi kita di Indonesia, buku tersebut menunjukkan bagaimana jalan menuju Piala Dunia adalah jalan panjang yang berbatu.

Sukses menembus Piala Dunia, apalagi menjuarainya, membutuhkan keberanian dalam mengambil keputusan, kemampuan mengelola sumber daya manusia pemain, dan teguh menjaga visi di bawah tekanan hebat.

Yakinlah. Menangani tim nasional jauh berbeda dengan melatih klub sepak bola. Pelatih tim nasional bekerja dalam waktu singkat, dengan pemain yang datang dari berbagai klub, budaya taktik, dan karakter berbeda.

Seorang pelatih tim nasional harus punya kapasitas untuk mengelola keragaman pemain yang berasal dari liga dan gaya bermain berbeda. Dia harus jeli mengamati karakter pemain di tengah keterbatasan masa Latihan. Tugas utama pelatih tim nasional bukan mengajari pemain teknik dasar, melainkan menyatukan mereka menjadi sebuah tim yang efektif.

Sebuah tim akan solid dan efektif jika ada keseimbangan karakter, mentalitas, dan harmoni. Seorang pelatih membutuhkan pemain yang siap menerima peran apa pun demi kepentingan tim. Bukan pemain yang lebih tertarik untuk selalu menjadi pemain inti.

Dalam konteks ini, performa buruk seorang pemain di level klub tidak selalu jadi penghalang untuk terpilih dalam timnas. Perbedaan atmosfer dan peran pemain tersebut di timnas bisa menjadi penentu.

Para pelatih memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola atmosfer tim. Sebagian hanya berfokus pada urusan teknis sepak bola, sementara yang lain berusaha menciptakan lingkungan lebih rileks agar pemain merasa nyaman. Penting untuk memperhatikan keseimbangan antara disiplin dan kebebasan agar tidak menghadirkan suasana buruk yang dapat memicu ketidakpuasan dan memengaruhi performa di lapangan.

Namun sebelum itu, seorang pelatih harus melewati tantangan pertama, yakni mencari pemain dan menyusun komposisi skuad yang seimbang, mengelola ego pemain bintang, menciptakan suasana tim yang kondusif di bawah tekanan besar.

Memiliki terlalu banyak pemain berbakat dan hebat juga tak selamanya ideal. Kegagalan Jerman dalam Piala Dunia 1998 dikarenakan terlalu banyaknya pemain besar yang merasa layak menjadi pemimpin dan starter.

Ini mengakibatkan suasana tim tidak harmonis. Christian Ziege, pemain dengan 79 caps di Timnas Jerman, membandingkan pembentukan skuad dengan memasak: sebuah tim membutuhkan keseimbangan, bukan hanya kumpulan pemain hebat.

Keseimbangan ini juga menyangkut perpaduan usia. Pelatih Denmark, Morten Olsen, menilai penting untuk menghadirkan kombinasi pemain muda berbakat dan pemain senior yang stabil. Negara kecil, menurut dia, lebih sulit menjaga regenerasi karena keterbatasan pilihan pemain.

Montserrat adalah contoh tim nasional ”kecil” yang menghadapi keterbatasan pilihan tersebut. Pelatih Montserrat, Willie Donachie, terpaksa merekrut pemain keturunan dari luar negeri. Dia berburu pemain berdarah Montserrat di Inggris demi memperkuat tim nasional negara itu.

Baca Juga :  OTT BBM Solar Subsidi di Lumajang, Polda Jatim Amankan 25 Jeringen dan 1 Orang Sebagai Tersangka

Stategi Montserrat ini mengingatkan kita pada langkah PSSI yang membentuk tim diaspora yang mayoritas berkewarganegaraan Belanda untuk menghadapi Piala Asia dan Piala Dunia. Sebagaimana Montserrat di bawah komando Donachie, Timnas Indonesia di bawah Shin-Tae Yong mulai menunjukkan hasil positif setelah sebelumnya dianggap lemah.

Pemilihan pemain semakin sulit, ketika ada intervensi dari pihak luar. Menjelang Piala Dunia 1930, skuad Rumania ditentukan oleh Raja Carol II. Sementara itu di Inggris, pernah pada suatu masa, komposisi timnasnya ditentukan sebuah komite bentukan federasi yang beranggotakan beberapa orang penyeleksi, bukan pelatih saat itu, Walter Winterbottom (yang melatih Inggris pada 1946-1962).

Intervensi seperti ini banyak ditemui pada negara-negara berkembang di dunia sepak bola. Seorang pelatih harus bisa beradaptasi dengan budaya dan situasi setempat dan bermental kuar untuk menghadapi Ketidakstabilan, perubahan kebijakan, hingga campur tangan pihak pemerintah dan federasi.

Tugas seorang pelatih adalah menciptakan sistem yang mudah dipahami semua orang, sehingga pertemuan dan persiapan tim menjelang pertandingan berjalan efektif. Setiap pelatih dan setiap negara memiliki model pendekatan yang berbeda-beda.

Saat menukangi timnas Korea Selatan jelang Piala Dunia 2002, Guus Hiddink melakukan persiapan jangka panjang selama empat bulan penuh bersama tim. Selama itu pelatih asal Belanda tersebut membangun fisik, disiplin, dan kepercayaan diri pemain melalui latihan intensif dan uji coba melawan tim kuat.

Hiddink menghapus jarak antara pemain senior dan junior sehingga setara di lapangan. Para pemain dituntut menunjukkan agresivitas dan emosi lebih besar saat bertanding. Mereka diyakinkan bahwa Korea Selatan layak bersaing dengan tim besar.

Hiddink tak menuntut banyak. Dia hanya meminta pemain menikmati momen dan tetap memainkan gaya mereka sendiri. Pendekatan psikologis itu membantu Korea Selatan tampil tanpa rasa takut, dan menjadi semifinalis pertama Piala Dunia dari Asia.

Berbeda dengan Phillipe Troussier. Pelatih asal Prancis itu menangani tiga level tim nasional Jepang sekaligus, mulai dari junior hingga senior, untuk menciptakan kesinambungan filosofi bermain. Dengan mayoritas pemain berasal dari liga domestik, Federasi Jepang memberikan ruang kepada Troussier untuk mengatur pemusatan latihan dan membangun kohesi tim dalam jangka panjang.

Beratnya Tekanan Publik

Beragam persiapan yang dilakukan pelatih menyongsong Piala Dunia bisa hancur karena tekanan publik. Media sosial, televisi, dan perhatian publik menjadikan para pemain terus-menerus berada dalam sorotan. Apalagi publik sangat berharap terhadap capaian tim nasional. Pelatih tim nasional tidak boleh terlalu larut dalam euphoria emosi pendukung dan harus tetap realistis dalam mengalkulasi segala kemungkinan.

Jürgen Klinsmann memilih bersahabat dengan tekanan tersebut saat menangani timnas Jerman pada Piala Dunia 2006. Timnya ditempatkan di pusat kota Berlin agar lebih dekat dengan masyarakat. Para pemain hidup di tengah publik dan membuat tim terasa menjadi bagian dari komunitas, sebuah pendekatan yang cukup baru untuk sepak bola internasional saat itu karena biasanya tim memilih markas yang tertutup demi privasi dan menjaga fokus di Piala Dunia. Kebijakan Klinsmann itu sedikit-banyak ikut membantu terciptanya suasana tim yang hangat, hingga Jerman tampil cukup impresif di Piala Dunia 2006, meskipun tak juara. Publik mengingat kiprah Jerman itu sebagai ”dongeng musim panas”.

Baca Juga :  Ombudsman Jatim Desak Polisi Transparan Soal Penangkapan Kasus Unjuk Rasa 30–31 Agustus

Pergantian Mendadak

Dalam beberapa kasus jelang Piala Dunia, federasi sepak bola sebuah negara bisa mendadak mengganti pelatih di fase krusial, sebagaimana dilakukan PSSI yang mengganti Shin Tae-Yong di tengah kualifikasi grup Zona Asia. Pergantian ini berpotensi menghancurkan seluruh hasil positif dari fase kualifikasi hanya dalam hitungan bulan.

Federasi mencari sosok baru yang diharapkan mampu memperbaiki keadaan dalam waktu singkat. Namun itu tidak gampang tentu saja. PSSI membawa mantan pemain Belanda Patrick Kluivert menggantikan STY. Namun reputasi sebagai mantan pemain hebat bukan jaminan sukses.

Kendati pernah bermain di Ajax Amsterdam dan mengenakan jersey Timnas Belanda yang identik dengan total football, Kluivert bukanlah Rinus Michels yang melatih Belanda hanya beberapa bulan sebelum Piala Dunia 1974. Karisma dan kejeniusan Michels berhasil menjadikan Belanda sebagai ”tim kalah” yang paling dikenang dalam sejarah. Saat itu Belanda tampil ciamik di Piala Dunia 1974, meskipun akhirnya kalah di laga final melawan Jerman Barat.

Dalam kasus Kluivert yang menggantikan STY, mungkin lebih mirip ketika Fernando Hierro masuk menggantikan Julen Lopetegui yang telah mempersiapkan timnas Spanyol dalam jangka waktu lama untuk Piala Dunia 2018. Permainan Spanyol yang tajam dan efektif mendadak hilang digantikan dominasi penguasaan bola tanpa daya rusak. Saat disingkirkan Rusia di 16 besar Piala Dunia 2018, Spanyol mendominasi penguasaan bola hingga 75%, dan melakukan lebih dari 1.100 operan (dibanding Rusia 285 operan),.

Tentu saja selalu ada pengecualian. Pelatih Mário Zagallo berhasil membawa Brasil menjuarai Piala Dunia 1970 setelah menggantikan João Saldanha hanya tak sampai 3 bulan sebelum turnamen dimulai. Tim Brasil saat itu disebut sebagai juara dunia dengan generasi yang dianggap salah satu tim terbaik sepanjang sejarah. Namun yang harus diingat, hari itu Brasil memiliki skuad terbaik yang memainkan sepak bola indah. Ada Pelé, Jairzinho, Rivellino, Tostão, hingga Gérson.

Akhirnyam tidak ada formula pasti untuk sukses di Piala Dinia. Setiap negara dan setiap era memiliki karakter berbeda. Strategi yang berhasil untuk satu tim belum tentu efektif bagi tim lain. Namun patut dicatat: keberhasilan tim underdog lahir dari kecerdikan pelatih, disiplin taktik, serta kemampuan memanfaatkan peluang. Indonesia bisa berharap dari sini. (*)