KILASJATIM.COM, Malang- “…biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatanya, manusianya, amal dan perbuatanya, cita-citanya semua, itulah arus selatan ke utara. Segala-galanya datang dari selatan. Majapahit jatuh. Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapalbesar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaaanya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil, menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan makin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.” Pesan ini disampaikan Senapati Wiranggaleng usai mengusir bangsa Perangi, Portugis dari Tuban, dalam buku Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer.
Membaca Kembali karya sastra yang pertamakali diterbitkan pada 1995 oleh penerbit Hasta Mitra, seperti menyaksikan keadaan negeri ini. Ketika kita tidak memiliki kedaulatan akan laut, sebagai simbol urat nadi perekonomian, sumber penghidupan. Selat Malaka yang menjadi Sumpah Gajah Mada, jatuh ketangan bangsa Perangi dan berhasil di bebaskan oleh Adipati Unus. Kini, menjadi selat tersibuk sebagai pintu masuk perdagangan Indonesia saat ini.
Konon, hari ini kapal berbagai negara pun terlihat di sana, dari kapal Rusia sampai kapal Perang Amerika, ditengah pertikaian perang yang tidak berkesudahan dengan Iran. Begitu pula kapal China dan negara lain, hilir mudik membawa berbagai keperluan dagang. Maka tidak heran berbagai produk dari luar negeri masuk ke Indonesia, dari beras, gula, cabe, kedelai, pakaian bekas, bahkan garam dan masih banyak lagi. Sebentar lagi daging dan telur pun didatangkan dari negeri Atas Angin, seperti yang telah disampaikan beberapa waktu lalu. Semuanya demi mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Dalam buku setebal 768 halaman, Pramoedya telah meriset perjalanan sejarah Nusantara, era tumbangnya Majapahit hingga kejayaan bandar Tuban. Wilayah kabupaten yang yang dipimpin Sang Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Masa itu bandar Tuban tumbuh pesat, menggeser bandar Gresik yang sebelumnya menjadi persingahan dan perlintasa keluar masuknya komoditas rempah-rempah yang menjadi rebutan negeri kulit putih.
Melalui bahasa sastra Pram, menceritakan kejayaan dan kejatuhan waktu itu, akibat tipu muslihat, permainan politik kotor Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa seorang Syahbandar. Kecakapannya dalam bersilat lidah, didukung kemampuan menguasai berbagai bahasa, termasuk bahasa lokal membuat laki-laki asal Moro ini, dipercaya Sang Adipati untuk mengurusi arus keluar masuknya kapal, dari dalam dan luar negeri.
Alih-alih untuk kesejahteraan warga Tuban, ia bekerja untuk keuntungannya sendiri. Melipat gandakan kekayaan pribadi. Memanipulasi dengan ilmu agama, menjual informasi dan membius orang-orang tidak berdosa. Menjatuhkan martabat dan menghalalkan yang haram sesuai kehendaknya. Sungguh menyebalkan, tetapi itulah pelajaran yang harus kita ambil.
Disisi lain hadir seorang anak desa Galeng, tokoh protagonis bergelar Senapati Wirangaleng yang patriotik, cerdik-pandai, berwibawah, teguh pada keyakinan dan berbudi luhur. Memimpin pasukan hingga membebaskan Selat Malaka dari bangsa perangi. Di sisi lain ada sosok Idayu, perempuan cantik, penari ulung yang menolak menjadi selir adipati. Memilih berdiri disamping Galeng. Dengan berbagai peristiwa, menguji keberadaannya sebagai perempuan, istri dan ibu dari anak yang tidak diinginkan, Gelar. Sungguh situasi yang sulit dimasanya. Tetapi, ia tetap menjadi ibu yang bertanggung jawab dengan segala keberanian dan cintanya sebagai manusia yang beriman.
Epos, jatuh bangunya sebuah peradaban ini sangat menarik dibaca dan diulas bersama, sebagai pembelajaran untuk kita, hari ini. Ketebalan buku, menjadi berat bagi kalian untuk memulai membacanya. Namun, Rabu Bertutur, sebuah komunitas literasi bermarkas di Rumah Buku Kleermaker, Turen, Kabupaten Malang sedang menggelar close reading “Arus Balik” setiap Rabu malam.
“Close reading ini sengaja digelar untuk mewadahi teman-teman yang ingin membaca berbagai buku, bukan hanya Pram. Bukan hanya Arus Balik yang kita baca, Dunia Sophie juga kita baca. Sebagai tempat belajar filsafat dasar. Biasanya kalau bukunya tebal kita agak mikir, malas membaca tepatnya. Dengan membaca bersama kita jadi semangat, jika ada hal yang tidak tahu bisa langsung didiskusikan,” kata Ludfan, saat dijumpai di Rumah Buku Kleermaker, Senin (4/5/2026).
Hal senada dibenarkan A. Elwiq pr. pemilik dan pengelolah Rumah Buku Kleermaker, kegiatan membaca bersama sengaja digelar untuk meningkatkan budaya literasi. Selain wadah belajar memahami isi bacaan. Dalam sebuah naskah sering kali ditemukan istilah baru, nama tempat, jabatan, nama orang yang menunjukkan identitas asal dan jabatan pada satu masa tertentu, makanan, pakaian dan masih banyak lagi.
“Di sini kita belajar bersama, tidak ada yang lebih pintar atau paling tahu. Saling melengkapi. Belajar menghargai bagaiamana setiap orang menilai sebuah peristiwa terjadi. Paling penting, kita pernah membaca buku tersebut sekali seumur hidup. Harus kita akui, melihat tebalnya buku kadang-kadang enggan membaca sampai habis,” ucapnya sambil tertawa.
Arus balik – pada Bab 44,halaman 745, di akhir paragraf. Sang Senapati mengangkat telunjuk memberi peringatan: “Makin kuat mereka menguasai jalan rempah-rempah, makin gelap pojokan kita. Apabila mereka tak dihalau dari tempat-tempat mereka berkuasa sekarang ini, bahkan dibiarkan semakin kuat juga, nasib Jawa dan Nusantara sudah dapat ditentukan-ambruk entah sampai berapa keturunan.” (TQI)




