KILASJATIM.COM, Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa pengelola perpustakaan memiliki peran sentral sebagai ujung tombak dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat serta peningkatan literasi baca siswa.
Hal tersebut disampaikan Gus Ipul saat membuka secara resmi Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan Tingkat Lanjut bagi Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Batch 3 Tahun 2026 di Novotel BSD City, Rabu (15/4/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 19 April itu diikuti 127 peserta dari berbagai Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.
“Teman-teman yang ikut pelatihan ini adalah orang penting, bahkan sangat penting. Lebih penting daripada menterinya dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Kalian ujung tombaknya,” ujar Gus Ipul.
Ia menegaskan, perpustakaan harus mampu menjadi ruang yang memotivasi siswa, meningkatkan minat baca, serta mendukung pencapaian target pembelajaran di Sekolah Rakyat.
Menurutnya, perpustakaan merupakan jantung literasi sekaligus ruang tumbuh masa depan bagi siswa, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Perpustakaan dinilai dapat menjadi alat mobilitas sosial yang membuka peluang bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup.
Selain sebagai sumber informasi, perpustakaan juga berfungsi sebagai ruang aman bagi anak untuk menemukan harapan serta menghindari dampak negatif dari penggunaan media digital yang tidak bijak.
“Perpustakaan juga menjadi pusat pembentukan karakter, mulai dari disiplin, rasa ingin tahu, hingga kemampuan berpikir kritis,” jelasnya.
Gus Ipul pun mengingatkan para peserta pelatihan untuk mengikuti kegiatan dengan serius dan menularkan ilmu yang didapat kepada guru serta tenaga kependidikan lainnya.
“Peran pengelola perpustakaan bukan sekadar penjaga buku, tetapi kurator pengetahuan, penggerak literasi, dan penjaga harapan anak bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan rencana penempatan perpustakaan di area paling depan Sekolah Rakyat permanen sebagai simbol pentingnya literasi. Untuk itu, Kementerian Sosial menggandeng Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam pengelolaan perpustakaan.
Sementara itu, Kepala Perpusnas RI, Aminudin Aziz, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia optimistis Sekolah Rakyat dapat menjadi model pendidikan yang mampu meningkatkan kesejahteraan anak-anak dari kelompok marjinal.
“Saya percaya Sekolah Rakyat bisa menjadi contoh bahwa anak-anak dari kelompok termarjinalkan, jika diberikan akses pendidikan dan bacaan yang baik, mampu berkembang bahkan melampaui rata-rata,” ujarnya.
Aminudin menambahkan, sepanjang tahun 2025 pihaknya telah menyalurkan bantuan buku ke 150 Sekolah Rakyat di 224 jenjang pendidikan, masing-masing 1.500 buku untuk tingkat SD dan SMP serta 1.000 buku untuk SMA.
Ke depan, berbagai program inovatif akan dikembangkan, seperti kegiatan membaca dan meresensi buku yang dikemas dalam Gerakan Literasi Sekolah Rakyat.
“Dengan dukungan Kementerian Sosial, kami yakin model pemberdayaan perpustakaan di Sekolah Rakyat akan menjadi inovasi yang berdampak luas,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono serta Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico.(ara)



