Pemkab Banyuwangi Cetak Ratusan Petani Milenial Lewat Program Jagoan Tani

oleh -407 Dilihat

KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong regenerasi petani melalui berbagai program inovatif, salah satunya Jagoan Tani. Sejak digulirkan pada 2021, program ini berhasil melahirkan ratusan petani milenial yang kini aktif mengembangkan sektor pertanian dengan pendekatan modern dan kreatif, Jumat (1/5/2026).

Sejak menjabat sebagai Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah. Berbagai program dirancang untuk menarik minat generasi muda agar terjun ke dunia pertanian yang selama ini identik dengan pekerjaan konvensional.

“Banyuwangi memiliki potensi sangat besar di pertanian. Karena itu sektor ini menjadi salah satu program prioritas kami. Regenerasi penting agar anak-anak muda tertarik dengan pertanian,” ujar Ipuk, Kamis (30/4/2026).

Salah satu program unggulan yang digagas adalah Jagoan Tani. Melalui program ini, pemerintah daerah memberikan pendampingan intensif, menghadirkan mentor dan praktisi, serta menyediakan stimulus modal bagi generasi muda untuk membangun usaha di sektor pertanian.

“Program ini kami arahkan untuk anak muda. Dengan kreativitas mereka, sektor pertanian bisa menjadi tulang punggung pangan sekaligus penggerak ekonomi daerah,” tambah Ipuk.

Hasil program tersebut mulai terlihat di berbagai desa. Banyak anak muda kini terjun ke sektor pertanian dengan inovasi yang bernilai ekonomi tinggi, mulai dari budidaya hingga pengolahan dan pemasaran produk.

Salah satunya adalah Paul Corneles Hariyono, pemuda asal Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo. Lulusan Teknik Sipil ini sukses mengembangkan greenhouse melon hidroponik premium di desanya.

Meski tidak memiliki latar belakang pertanian, pria yang akrab disapa Neles itu melihat potensi besar yang dimiliki Banyuwangi.

“Kita punya lahan subur, sinar matahari sepanjang tahun, air melimpah, dan iklim yang baik. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujarnya.

Baca Juga :  PMI Banyuwangi Gelar Sosialisasi Strategi Program Kesiapsiagaan Gempa Bumi Fase 2

Melalui usaha bertajuk “Virgin Farm”, Neles mulai mengembangkan budidaya melon sejak tiga bulan terakhir. Saat ini ia menanam sekitar 550 batang melon varietas premium seperti sweet lavender, sweet honey, dan dalmatian. Melon tersebut dikenal memiliki rasa lebih manis dan tekstur renyah, dengan harga jual berkisar Rp30.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

Tak berhenti di situ, Neles juga berencana mengembangkan lahannya menjadi destinasi wisata petik buah guna menambah nilai ekonomi usaha.

Selain Neles, kisah sukses juga datang dari Rega, pemuda 29 tahun asal Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo. Ia berhasil menerapkan sistem integrated farming di lahan seluas satu hektare.

Rega mengombinasikan budidaya tanaman jeruk dan jagung dengan peternakan domba serta perikanan nila. Ia memelihara lebih dari 100 ekor domba berbagai jenis, seperti cross merino, cross texel, dan cross batur.

Dalam sistem tersebut, limbah peternakan dimanfaatkan sebagai pupuk organik, batang jagung diolah menjadi silase untuk pakan ternak, dan air kolam ikan digunakan sebagai nutrisi tanaman. Pendekatan ini dinilai lebih efisien, ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan produktivitas lahan.

Keberhasilan para petani milenial ini menjadi bukti bahwa sektor pertanian memiliki prospek cerah jika dikelola dengan inovasi dan pendekatan modern. Program Jagoan Tani pun diharapkan terus melahirkan generasi baru petani yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.(zul)

No More Posts Available.

No more pages to load.