Ancaman Psikososial Meningkat, Guru Besar Umsura Minta Waspada

oleh -92 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Guru Besar Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., menyoroti meningkatnya ancaman masalah psikososial di masyarakat yang kerap luput dari perhatian. Ia menilai tekanan mental sehari-hari seperti stres, depresi, dan kesepian sering dianggap sepele, padahal berdampak serius.

“Psikososial itu adalah tekanan jiwa yang dialami masyarakat. Bentuknya bisa depresi, stres, merasa sendiri, mudah marah dan lain-lain. Masalah itu sebenarnya banyak di masyarakat, namun tidak terdeteksi atau tidak dianggap serius,” papar Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., usai dikukuhkan sebagai guru besar, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, persoalan psikososial yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi tindakan ekstrem di masyarakat. “Kita lihat masalah sedikit bisa pembunuhan. Itu adalah masalah psikososial yang sudah lama terpendam. Kalau tidak dicegah dan diantisipasi dari awal, maka kejadian tawuran, permusuhan, termasuk pembunuhan akan semakin sering,” tegasnya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu juga mengingatkan tenaga kesehatan agar menerapkan pendekatan holistik dalam pelayanan pasien, tidak hanya berfokus pada aspek fisik. “Dalam memberikan layanan jangan hanya ditanya mana yang sakit, tetapi juga bagaimana perasaannya, apakah bisa tidur nyenyak, bagaimana nafsu makannya, bagaimana hubungan dengan keluarga dan tetangga. Itu penting karena esensi sehat adalah holistik,” kata Prof. Mundakir.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., juga memaparkan hasil riset tentang kondisi psikologis pekerja migran Indonesia, khususnya perawat di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah. “Kami menemukan sebagian perawat migran diperlakukan tidak adil. Ada yang merasa kalah karena faktor bahasa, budaya, atau karakter yang dianggap terlalu lembut dibanding tenaga kesehatan lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, persoalan psikologis pekerja migran masih jarang diungkap, padahal skalanya cukup besar. “Fenomena ini belum banyak diungkap. Padahal masalah psikologis pada pekerja migran cukup besar dan perlu perhatian,” lanjut Prof. Mundakir.

Baca Juga :  Jatim Retreat 2026, Gubernur Khofifah Dorong Creative Financing Tanpa Bebani Masyarakat

Sementara itu, Ketua Senat Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., optimistis jumlah guru besar di kampus akan terus bertambah. “Alhamdulillah tiap tahun kita ada guru besar yang mendapat SK dari Menteri Pendidikan Tinggi Saintek. Capaian ini jangan berhenti sampai di sini. Kita ingin dosen-dosen mengejar jabatan fungsional akademiknya,” terang Prof. Sukadiono.

Ia menyebut potensi penambahan guru besar cukup besar mengingat banyaknya dosen dengan jabatan lektor kepala. “Kita punya stok lektor kepala yang cukup banyak. Kita berharap ke depan lektor-lektor kepala di Universitas Muhammadiyah Surabaya bisa segera melakukan akselerasi naik jabatan menjadi guru besar,” ujar Prof. Sukadiono.

Ia memperkirakan dalam waktu dekat akan ada tambahan profesor baru. “Dengan jumlah doktor yang cukup banyak, sekitar 40 persen dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya sudah bergelar doktor, saya kira tiap tahun minimal ada tiga orang yang bisa dikukuhkan menjadi guru besar,” tutup Prof. Sukadiono.(tok)