Foto Kilasjatim.com Frizal
KILASJATIM.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong penerapan creative financing yang tidak menambah beban masyarakat serta perubahan mindset birokrasi guna menghadirkan layanan publik yang berkualitas. Hal itu disampaikannya saat menghadiri sekaligus memberikan arahan dalam kegiatan Jatim Retreat 2026 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Kamis (15/1/2026) Malam.
Kegiatan yang juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak tersebut diikuti 135 peserta dari unsur birokrasi, BUMD, RSUD, hingga penyelenggara layanan publik di Jawa Timur. Khofifah mengapresiasi penyelenggaraan forum tersebut yang dinilainya strategis untuk menyatukan arah kebijakan dan memperkuat komitmen bersama.
“Forum ini menjadi momentum untuk memastikan seluruh elemen birokrasi, BUMD, dan layanan publik bergerak dalam satu frekuensi yang sama di tengah tantangan fiskal yang semakin dinamis,” ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, tantangan pembangunan daerah kian kompleks seiring diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja APBN dan APBD serta adanya penyesuaian transfer ke daerah. Instruksi tersebut, menurutnya, memuat tiga mandat utama, yakni penguatan tata kelola belanja, optimalisasi sumber pendanaan kreatif, dan peningkatan kualitas layanan publik yang terukur.
“Tema Creative Financing & Value for Money sangat relevan. Creative financing bukan sekadar alternatif teknis pembiayaan, tetapi strategi kepemimpinan dan tata kelola untuk mengombinasikan APBD dengan berbagai sumber pembiayaan non-anggaran secara akuntabel dan patuh regulasi,” tegasnya.
Khofifah menyebut, terdapat tiga kunci dalam penerapan creative financing. Pertama, mencari sumber pendapatan baru. Kedua, mengubah pola pikir dari eksklusif menjadi inklusif. Ketiga, menggeser mindset dari revenue ke profit, serta dari spending or earning menjadi spending and earning.
Terkait pencarian sumber pendapatan baru, ia menegaskan pemerintah tidak boleh membebani masyarakat. Pemprov Jatim, kata dia, harus mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah untuk membuka ruang investasi dan mendorong pemberdayaan ekonomi, termasuk UMKM.
“Aset lahan milik pemprov tersebar di berbagai daerah. Banyak kepala daerah yang mengajukan kerja sama operasi (KSO). Jika dimaksimalkan, ini bisa menjadi sumber pendapatan baru tanpa membebani masyarakat,” jelasnya.
Selain aset, sektor perikanan juga dinilai memiliki potensi besar. Jawa Timur, lanjut Khofifah, memiliki Grand Parent Stock (GPS) untuk jenis ikan tertentu yang dapat dimaksimalkan guna mendukung program nasional, termasuk perluasan area budidaya ikan pada 2025.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) secara efektif dan efisien, khususnya dalam pelayanan perizinan agar dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat.
“Kerja kita adalah memberikan layanan publik terbaik kepada masyarakat. Jangan sampai spend of control terlalu jauh dan justru membebani masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Khofifah menegaskan perlunya perubahan mindset birokrasi, dari penghabis anggaran menjadi pencipta nilai, dari orientasi output menuju outcome, serta dari rutinitas menuju pemenuhan kebutuhan nyata masyarakat.
“Birokrasi harus menciptakan nilai dan dampak nyata. Ini hanya bisa terwujud jika ada keteladanan dan kontrol hingga ke UPT-UPT,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Guru Besar ITS Surabaya Prof. Mohammad Nuh sebagai narasumber. Ia menyoroti pentingnya kepemimpinan dan creative financing dalam pemerintahan. Menurutnya, kekuatan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh pemimpin, tetapi juga kualitas para pengikutnya.
“Dalam organisasi, followers itu 80 persen dan leader hanya 20 persen. Kepemimpinan akan kuat jika followership juga kuat,” ujarnya.
Dari sisi keuangan, Prof. Nuh menekankan perlunya sumber pendanaan di luar APBD untuk memperkuat fiskal daerah. Ia juga mendorong BUMD agar mengubah orientasi dari sekadar pendapatan menjadi keuntungan.
“BUMD harus bergeser dari revenue oriented ke profit oriented. Yang dicari bukan hanya pendapatan, tetapi keuntungan. Profitability adalah kuncinya,” tandasnya.(FRI)









