KILASJATIM.COM, Surabaya – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur mendorong penggunaan energi terbarukan berbasis tenaga surya untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian, di tengah mulai terasa dampak antrean bahan bakar minyak (BBM) dan keterbatasan air.
Ketua DPD HKTI Jatim Arum Sabil mengatakan, ketergantungan alat pertanian terhadap BBM kini menjadi persoalan serius di lapangan.
“Traktor dan pompa air masih bergantung pada BBM, sementara antrean mulai terjadi. Padahal pertanian tidak boleh berhenti,” ujarnya usai pertemuan di Gedung Negara Grahadi, Rabu (1/4/2026).
Menurut Arum, kondisi tersebut mendorong percepatan inovasi irigasi berbasis tenaga surya sebagai alternatif energi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Selain faktor energi, petani juga dihadapkan pada persoalan ketersediaan air. Ia menyebut debit air terus menurun, diperparah kerusakan jaringan irigasi dan alih fungsi lahan.
“Saluran banyak terputus, sehingga petani kesulitan mendapatkan air, terutama saat kemarau yang diprediksi lebih panjang,” jelasnya.
Sebagai solusi, HKTI mendorong penggunaan pompa air tenaga surya untuk mengangkat air dari sumber yang lebih rendah ke lahan pertanian. Teknologi ini dinilai lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Sejumlah inovasi bahkan mulai dikembangkan petani muda, seperti pompa tenaga surya portabel yang bisa dipakai bergantian. Ada pula alat multifungsi yang dapat digunakan sebagai pompa air sekaligus perontok gabah.
“Teknologinya sederhana, bisa mobile, bahkan bisa dipasang di kendaraan. Ini sangat membantu petani,” kata Arum.
Namun, ia mengakui pengembangan teknologi tersebut masih membutuhkan dukungan pemerintah, mulai dari pembiayaan, pendampingan, hingga distribusi ke kelompok tani.
HKTI juga mendorong program pemberdayaan lebih tepat sasaran, khususnya kepada kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan), disertai pelatihan agar pemanfaatan teknologi berjalan optimal.
Selain itu, akses permodalan dan ketersediaan pupuk tepat waktu dinilai tetap menjadi kebutuhan mendesak di sektor pertanian.
“Ini realitas di lapangan. Petani tidak bisa berjalan sendiri, perlu dukungan agar produksi tetap terjaga,” pungkasnya. (FRI/cit)




