Proyek Ambisius BI di Tahun 2026 QRIS Ekspansi ke 8 Negara dengan Target Transaksi 17 miliar 

oleh -418 Dilihat

Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Willy Togi, yang hadir  sebagai pembicara di Capacity Building Media BI Jawa Timur 2026 di Bandung, Sabtu (14/2/2026). (kilasjatim.com/nova)

KILASJATIM.COM, Bandung –  Bank Indonesia menargetkan pada 2026. QRIS tak lagi sekadar alat bayar domestik, tetapi diposisikan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru berbasis digital. Targetnya  17 miliar transaksi dalam setahun dengan  ekspansi ke 8 negara  dengan 60 juta pengguna dan 45 juta merchant aktif.

 Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Willy Togi, yang hadir  sebagai pembicara di Capacity Building Media BI Jawa Timur 2026 di Bandung, Sabtu (14/2/202 ) menyampaikan, sejak diluncurkan pada 2019 dengan 1,6 juta pengguna, kini jumlahnya melonjak menjadi sekitar 43 juta pengguna pada 2025 dengan total transaksi mencapai 15,51 miliar.

“Target tersebut  sesuai dengan tema QRIS tahun ini yakni Kemerdekaan 17-8-45. 17 miliar transaksi, hadir di 8 negara dan 45 juta merchant.  Pertumbuhan QRIS selama enam tahun terakhir menjadi indikator kuat transformasi sistem pembayaran nasional. Pertumbuhannya eksponensial. Dan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi soal perubahan perilaku ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ditambahkan Willy, pengembangan QRIS ke depan sepenuhnya mengacu pada Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030. Fokus di 2026 berada pada penguatan inovasi dan internasionalisasi. Target 17 miliar transaksi menunjukkan dorongan agar QRIS semakin menjadi pilihan utama masyarakat dalam bertransaksi.

Dari sisi akseptasi, Bank Indonesia menargetkan 45 juta merchant. Ia menekankan bahwa mayoritas merchant QRIS adalah pelaku usaha mikro.

 “95 persennya adalah usaha mikro, artibya , digitalisasi pembayaran justru bertumpu pada sektor ekonomi akar rumput. Dengan satu QR code standar nasional, pelaku UMKM dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital . Artinya, perluasan merchant bukan hanya soal kuantitas, sekaligus memperkuat inklusi keuangan,” paparnya.

Ketika UMKM mendaftar sebagai merchant dan membuka rekening, mereka otomatis masuk dalam sistem keuangan formal. Dampaknya, akses pembiayaan menjadi lebih terbuka.

QRIS dirancang agar murah dan sederhana. tujuannya memfasilitasi pembayaran digital dengan selembar kertas . Kemudahan inilah yang membuat penetrasi ke usaha mikro berjalan cepat. Untuk menjaga pertumbuhan transaksi hingga 17 miliar, BI terus mendorong inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. QRIS tidak lagi diposisikan sekadar alat bayar, tetapi sebagai ekosistem ekonomi digital yang lebih luas.

Baca Juga :  Kembangkan TORASIK, UPZ PG Gandeng start up KO-IN

Willy mengajak semua pihak menjaga optimisme. “Inovasi pembayaran global sudah berkembang sejak 1960-an, sementara QRIS relatif baru. Namun,  dengan dukungan bersama, target 2026 realistis tercapai,” tegasnya optimis.

Setelah sukses di dalam negeri, Bank Indonesia memperluas langkah melalui QRIS antarnegara. Upaya lain untuk mencapai target adalah memperkuat ekspansi internasional. Dari delapan negara yang ditargetkan, sebagian sudah terjalin kerja sama cross-border QR payment linkage.

 Saat ini, ada empat negara yang sudah bekerjasama yaitu Thailand, Jepang, Malaysia dan Singapura. Sementara empat negara lain masih dalam penjajakan, yaitu Korea Selatan, China, India dan Uni Emirat Arab.

Willy menjelaskan bahwa perluasan negara mitra akan membuka potensi transaksi wisata dan perdagangan. Ia menyebut penerimaan QRIS antarnegara juga tumbuh eksponensial.

“Masyarakat Indonesia maupun mancanegara juga sudah mulai muncul kepercayaannya. Kepercayaan ini menjadi modal utama untuk menambah negara mitra pada 2026,” katanya.

Dalam konteks internasional, BI tidak hanya mengejar jumlah negara, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur. Skema yang digunakan adalah penghubungan switching antarnegara dengan settlement berbasis Local Currency Transaction (LCT). Pendekatan ini membuat transaksi lebih efisien dan kompetitif dibanding sistem pembayaran yang telah ada, yang harus melalui pihak ketiga.

“Bukan saingan, tapi menyediakan alternatif lain,” jelas Willy mengenai mekanisme LCT. Dengan konversi langsung antar mata uang lokal, biaya transaksi bisa ditekan sehingga lebih menarik bagi pengguna dan merchant.

Skema ini memungkinkan wisatawan Indonesia membayar di luar negeri menggunakan aplikasi domestik tanpa perlu mengunduh aplikasi baru.

 Sebaliknya, wisatawan negara mitra juga dapat bertransaksi di Indonesia dengan sistem serupa. Dari sisi ekonomi, peluangnya besar. Dengan basis sekitar 43 juta merchant domestik, pelaku usaha Indonesia terutama mikro berpeluang menerima pembayaran langsung dari wisatawan mancanegara.

Baca Juga :  AXA Mandiri & Bank Mandiri Serahkan Klaim untuk Nakes COVID-19 yang Gugur dalam Tugas

 “Ketika cross-border aktif, merchant kita langsung bisa menerima pembayaran dari luar negeri. Ini potensi devisa dan penguatan ekonomi daerah,” jelas Willy.

Melalui skema tersebut, wisatawan Indonesia dapat bertransaksi di luar negeri menggunakan aplikasi pembayaran domestik tanpa perlu mengunduh aplikasi baru. Sebaliknya, wisatawan dari negara mitra juga dapat melakukan pembayaran langsung di Indonesia.

Dari sisi ekonomi, peluangnya dinilai sangat besar. Dengan jutaan merchant domestik, terutama pelaku usaha mikro, terbuka kesempatan menerima pembayaran langsung dari wisatawan mancanegara.

Willy menjelaskan bahwa perluasan negara mitra akan membuka potensi transaksi wisata dan perdagangan. Ia menyebut penerimaan QRIS antarnegara juga tumbuh eksponensial.

“Masyarakat Indonesia maupun mancanegara juga sudah mulai muncul kepercayaannya. Kepercayaan ini menjadi modal utama untuk menambah negara mitra pada 2026,” katanya.

Dalam konteks internasional, BI tidak hanya mengejar jumlah negara, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur. Skema yang digunakan adalah penghubungan switching antarnegara dengan settlement berbasis Local Currency Transaction (LCT).

Pendekatan ini membuat transaksi lebih efisien dan kompetitif dibanding sistem pembayaran yang telah ada, yang harus melalui pihak ketiga.

“Bukan saingan, tapi menyediakan alternatif lain,” jelas Willy mengenai mekanisme LCT. Dengan konversi langsung antar mata uang lokal, biaya transaksi bisa ditekan sehingga lebih menarik bagi pengguna dan merchant.

Sejumlah program disiapkan untuk mempercepat pencapaian target, salah satunya melalui kegiatan QRIS Jelajah Indonesia yang terbukti mampu meningkatkan volume transaksi.

Tahun ini, BI juga tengah menyiapkan program QRIS Jelajah Kuliner Indonesia, yang bertujuan mengangkat potensi kuliner daerah sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis pembayaran digital.

QRIS hari ini bukan sekadar alat bayar. Ini simbol kedaulatan sistem pembayaran Indonesia yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global. Dengan capaian dan target ambisius tersebut, QRIS berpotensi menjadi salah satu fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya. (nov)

No More Posts Available.

No more pages to load.