KILASJATIM.COM, Surabaya – Kelompok usia produktif 24–44 tahun mendominasi kunjungan pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya sepanjang 2025. Data rumah sakit menunjukkan lonjakan signifikan, dengan total 77.920 kunjungan rawat jalan dan 8.068 pasien rawat inap dalam setahun.
Pada rentang usia 24–44 tahun tercatat 27.010 kunjungan rawat jalan dan 3.779 pasien rawat inap. Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Kelompok usia 45–64 tahun menyusul dengan 18.118 kunjungan rawat jalan dan 2.423 pasien rawat inap. Sementara usia di atas 65 tahun mencatat 5.853 kunjungan rawat jalan dan 452 pasien rawat inap.
Dari sisi diagnosis, skizofrenia menjadi kasus terbanyak baik rawat jalan maupun rawat inap.
Untuk rawat jalan, tercatat 17.826 kunjungan dengan diagnosis skizofrenia. Disusul gangguan perkembangan pervasif (7.952 kunjungan) dan gangguan hiperkinetik (2.371 kunjungan).
Sementara pada layanan rawat inap, skizofrenia juga mendominasi dengan 4.984 pasien, diikuti gangguan psikotik nonorganik (480 pasien) serta gangguan mental akibat disfungsi otak dan penyakit fisik (420 pasien).
Direktur RSJ Menur Surabaya, drg. Vitria Dewi, menyebut sebagian besar pasien rawat inap menunjukkan perbaikan kondisi. Namun, kepatuhan minum obat dan kontrol rutin tetap menjadi kunci.
“Setelah rawat inap biasanya membaik, tetapi pasien harus tetap minum obat dan kontrol secara rutin,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Rata-rata lama rawat inap saat ini sekitar 14 hari, turun signifikan dibanding beberapa tahun lalu yang bisa mencapai 35–40 hari.
Vitria menjelaskan, pemicu gangguan kejiwaan berbeda di tiap kelompok usia. Pada anak-anak, faktor yang sering muncul antara lain persoalan relasi dengan orang tua, pola asuh, kecanduan game online, hingga perundungan di sekolah.
Sementara pada usia dewasa muda dan produktif, tekanan ekonomi dan pekerjaan menjadi pemicu dominan.
“Tekanan ekonomi sangat berpengaruh, mulai dari PHK, sulit mencari pekerjaan, hingga masalah pinjaman online. Bahkan ada yang datang dengan kondisi percobaan bunuh diri,” ungkapnya.
Data ini menjadi alarm bahwa isu kesehatan mental di Jawa Timur, khususnya pada usia produktif, semakin serius. Di tengah tuntutan ekonomi dan sosial yang kian kompleks, akses layanan kesehatan jiwa dan dukungan lingkungan menjadi krusial untuk mencegah kondisi yang lebih berat. (FRI/cit)




