Banjir Rob Terjang 207 Tambak di Sedati, Kerugian Petambak Capai Rp20 Miliar

oleh -498 Dilihat
KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Gelombang banjir rob kembali menerjang kawasan pesisir Kabupaten Sidoarjo dan menyebabkan kerugian besar bagi para petambak. Sebanyak 207 tambak di Dusun Gisik Kidul, Desa Tambakcemandi, Kecamatan Sedati, terendam air laut, mengakibatkan ribuan ikan yang hampir memasuki masa panen hanyut terbawa arus.

Akibat peristiwa tersebut, total kerugian yang dialami para petambak diperkirakan mencapai Rp20 miliar. Selain kehilangan hasil budidaya, mereka juga harus menghadapi kerusakan tanggul serta berbagai fasilitas tambak yang membutuhkan biaya besar untuk perbaikan.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Tambakcemandi, Thohir, mengatakan banjir rob kali ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

“Kurang lebih ada 207 tambak yang terdampak rob. Banyak ikan yang sudah mendekati masa panen hanyut terbawa air laut. Kalau dihitung secara keseluruhan, kerugian petambak diperkirakan mencapai Rp20 miliar,” ujar Thohir, Sabtu (6/6/2026).

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Yunan Khoiron, menilai kerusakan kawasan mangrove di sepanjang pesisir menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dampak banjir rob. Menurutnya, berkurangnya vegetasi mangrove membuat gelombang pasang laut lebih mudah masuk ke kawasan tambak maupun permukiman warga.

“Adanya rob yang menerjang tambak para warga ini disebabkan oleh rusaknya mangrove yang ada di pesisir Sidoarjo, sehingga air dengan mudah bisa langsung menerjang tambak milik warga,” kata Yunan.

Ia menjelaskan, mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami yang mampu menahan gelombang laut, mencegah abrasi, serta mengurangi intrusi air asin ke daratan. Namun, menurunnya luasan mangrove dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan perlindungan alami terhadap wilayah pesisir semakin melemah.

Kondisi tersebut membuat kawasan tambak di Kecamatan Sedati menjadi lebih rentan saat terjadi pasang laut tinggi. Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo, banjir rob di wilayah pesisir umumnya terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada periode Mei–Juni dan November–Desember.

Baca Juga :  Peringati HUT ARSADA, RSUD Sidoarjo Barat Gelar Donor Darah Massal

Fenomena yang terus berulang tersebut menjadi ancaman serius bagi sektor perikanan budidaya yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pesisir.

“Fenomena ini hampir terjadi setiap tahun. Karena itu perlu ada langkah jangka panjang untuk mengurangi dampaknya, salah satunya dengan memperkuat kembali kawasan mangrove di sepanjang pesisir,” ujarnya.

Yunan menegaskan rehabilitasi mangrove kini menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi risiko kerusakan akibat banjir rob. Karena itu, pihaknya berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kelautan dan Perikanan dapat memberikan dukungan berupa program penanaman dan pemulihan mangrove secara masif, khususnya di kawasan pesisir yang rawan terdampak rob seperti Tambakcemandi dan sekitarnya.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah provinsi untuk membantu rehabilitasi mangrove di pesisir Sidoarjo. Mangrove menjadi pelindung alami yang sangat penting bagi tambak dan masyarakat pesisir,” katanya.

Selain mendorong rehabilitasi mangrove, Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo juga terus melakukan patroli rutin untuk mencegah kerusakan mangrove akibat aktivitas penebangan liar. Edukasi kepada nelayan dan masyarakat pesisir juga terus digencarkan agar ekosistem mangrove yang tersisa tetap terjaga dan mampu berfungsi sebagai benteng alami menghadapi ancaman banjir rob di masa mendatang.(TAM)