Kasus TBC di Surabaya Masih Tinggi, 4.191 Penderita Ditemukan hingga Mei 2026

oleh -105 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Ilustrasi. (Foto: dok kilasjatim)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Surabaya. Dalam lima bulan pertama 2026, sebanyak 4.191 kasus TBC ditemukan di Kota Pahlawan dari estimasi 11.412 kasus yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun ini.

Data Dinas Kesehatan Surabaya menunjukkan, ribuan warga yang terjangkit TBC tersebut ditemukan melalui kegiatan penelusuran kontak erat (tracing) dan skrining yang dilakukan secara rutin di berbagai wilayah.

Hingga Mei 2026, sebanyak 44.088 suspek atau terduga TBC telah diperiksa. Jumlah itu setara 71,54 persen dari target penemuan 61.624 suspek yang ditetapkan tahun ini.

Selain pemeriksaan suspek, skrining juga telah menjangkau 644.201 penduduk atau 45,78 persen dari target penduduk yang harus diperiksa. Besarnya jumlah warga yang disaring menunjukkan upaya pencarian kasus terus diperluas untuk menemukan penderita sejak dini dan mencegah penularan lebih luas.

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya dr Billy Daniel Messakh mengatakan kegiatan tracing dan screening dilakukan setiap pekan di lima area yang menjadi fokus pengawasan.

“Tracing dilakukan pada kontak erat pasien TBC, sedangkan screening dilakukan pada masyarakat yang tidak bergejala maupun yang tidak memiliki riwayat kontak,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).

Dari total 4.191 kasus yang ditemukan, sebanyak 4.078 merupakan TBC sensitif obat (SO) dan 113 kasus lainnya TBC resistan obat (RO).

Saat ini, 4.166 pasien masih menjalani pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan. Sebanyak 3.443 pasien TBC sensitif obat atau 84,43 persen telah memulai terapi, sedangkan untuk TBC resistan obat, 90 pasien atau 79,65 persen telah menjalani pengobatan.

Meski angka keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat mencapai 89,36 persen, temuan ribuan kasus dalam waktu lima bulan menunjukkan penyakit menular tersebut masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang besar.

Baca Juga :  Pengunjung Capai 86 Ribu, Pemkot Tepis Pengelolaan Mangrove Surabaya Belum Maksimal

Untuk memutus rantai penularan, petugas kesehatan juga melakukan investigasi kontak terhadap keluarga maupun orang yang tinggal serumah dengan pasien. Hingga Mei 2026 tercatat 2.461 investigasi kontak telah dilakukan dan 2.729 orang memperoleh terapi pencegahan.

Di tengah tingginya temuan kasus, upaya deteksi dini terus diperkuat. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi pemeriksaan baru yang memungkinkan deteksi TBC menggunakan sampel air liur atau saliva, sehingga diharapkan mempermudah proses pemeriksaan yang selama ini bergantung pada sampel dahak.

Billy menyebut pasien yang terdiagnosis TBC akan langsung menjalani terapi setelah hasil pemeriksaan keluar. Pengawasan terhadap kepatuhan minum obat juga dilakukan oleh petugas kesehatan bersama kader di tingkat kampung karena masa pengobatan yang cukup panjang kerap menjadi tantangan bagi pasien.

Temuan ribuan kasus hingga pertengahan tahun ini menjadi gambaran bahwa TBC masih menjadi ancaman kesehatan di Surabaya. Karena itu, deteksi dini, pengobatan tuntas, dan pelacakan kontak erat dinilai menjadi kunci untuk menekan penularan sekaligus mendukung target eliminasi TBC pada 2030.(cit)

No More Posts Available.

No more pages to load.