Keterlambatan Sandar Kapal Picu Kelangkaan Kontainer di Sejumlah Pelabuhan

oleh -2637 Dilihat
????????????????????????????????????

KILASJATIM.COM, Surabaya – Keterlambatan waktu sandar dan bongkar muat kapal kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya arus logistik pada akhir 2025 hingga awal 2026. Sejumlah kapal yang tiba di beberapa pelabuhan dilaporkan harus menunggu hingga 5–6 hari untuk dapat sandar dan melakukan proses bongkar muat barang.

Buruknya layanan bongkar muat di pelabuhan diduga disebabkan oleh keterbatasan serta kondisi peralatan yang sudah tua dan kerap mengalami gangguan. Kondisi ini membuat produktivitas terminal pelabuhan menurun tajam dan berdampak pada kelancaran distribusi barang.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mengatakan keterlambatan tersebut terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Menurutnya, waktu sandar kapal yang sebelumnya maksimal tiga hari kini bisa mencapai enam hari, sehingga memicu terjadinya kekurangan kontainer.

“Kalau biasanya maksimal tiga hari, sekarang bisa sampai enam hari. Saya melihat beberapa kapal menunggu pembongkaran lebih lama. Ini karena beberapa alat bongkar muat atau crane sudah tua, misalnya di Terminal Peti Kemas Nilam dan TPK Mirah,” kata Sebastian, Kamis (29/1/2026).

Ia menilai PT Pelindo seharusnya segera melakukan peremajaan peralatan bongkar muat di berbagai terminal. Sebab, alat yang sudah tua membuat kinerja bongkar muat tidak optimal.

“Idealnya Container Processing Area bisa menangani 30–40 kontainer per jam, tetapi sekarang hanya sekitar 10 kontainer. Kalau alat diperbarui, proses bongkar muat pasti lebih cepat,” ujarnya.

Akibat molornya proses bongkar muat, lanjut Sebastian, pengiriman barang menjadi terganggu karena terjadi kelangkaan kontainer di beberapa pelabuhan. Kondisi ini membuat jadwal pengiriman perusahaan forwarder ikut tertunda.

“Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit. Sejak Desember sudah sulit mendapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itupun hanya sebagian,” ungkapnya.

Baca Juga :  Blibli PHK 270 Karyawan, Upaya Efisiensi di Tengah Kerugian Rp 1,84 Triliun

Ia menambahkan, dalam kondisi normal perusahaannya bisa mendapatkan 20–40 kontainer per hari dan mengirim hingga 1.000 ton barang. Namun saat ini, dengan hanya memperoleh sekitar 10 kontainer per hari, volume pengiriman turun menjadi sekitar 250 ton.

Keterlambatan bongkar muat juga terjadi di TPK Berlian, Pelabuhan Tanjung Perak. Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Steven H. Lesawengen, menyebutkan keterlambatan tersebut disebabkan alat bongkar muat yang belum siap.

“Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian karena alat belum siap,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, manajemen TPK Berlian dan TPK Mirah belum memberikan keterangan meski telah dihubungi media. Sementara itu, manajemen TPK Nilam Tanjung Perak membantah adanya kerusakan alat bongkar muat di terminal tersebut.

Sementara itu, perwakilan Terminal Petikemas Semarang (TPKS), Komang, menjelaskan bahwa keterlambatan sandar dan bongkar muat kapal masih dalam batas kewajaran dan dipengaruhi faktor eksternal, terutama kondisi cuaca.

“Keterlambatan ini wajar karena cuaca yang tidak menentu. Kami juga sudah melakukan sosialisasi kepada pengguna jasa agar dapat mengantisipasi kondisi ini,” ujarnya.

Komang mengakui trafik kapal dan bongkar muat pada periode Desember hingga Januari meningkat tajam seiring tingginya aktivitas distribusi barang menjelang akhir dan awal tahun.

“Traffic memang naik di Desember hingga Januari. Ditambah cuaca yang kurang bersahabat, sehingga pelayanan menjadi terhambat,” katanya.

Untuk mengurangi dampak keterlambatan, TPKS menyiapkan sejumlah langkah antisipatif, di antaranya penambahan empat unit container crane, pembangunan dermaga sepanjang 275 meter, serta perluasan area stacking.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas terminal, mempercepat waktu tunggu kapal, serta menekan biaya operasional pelayaran dan biaya logistik nasional.

“Pelabuhan adalah kunci sistem logistik yang efisien. Jika layanan pelabuhan buruk, daya saing menurun, biaya meningkat, dan harga barang ke konsumen menjadi lebih mahal,” tegas Sebastian.(fan)

No More Posts Available.

No more pages to load.