Nyeri Dada Tak Selalu Jantung, Dokter Ubaya Jelaskan Perbedaan dengan GERD

oleh -581 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Munculnya anggapan di masyarakat bahwa penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) dapat langsung memicu serangan jantung mendapat tanggapan dari kalangan medis. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP., menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat secara ilmiah.

“GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, bisa meningkatkan risiko gejala serangan jantung. Terdapat dua organ yang berbeda, namun tetap terhubung karena berada dalam satu tubuh yang sama,” jelas dr. Jordan.

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu menerangkan bahwa hubungan antara GERD dan gangguan jantung tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan berbagai faktor risiko. Inflamasi pada lambung akibat GERD, misalnya, dapat memicu peningkatan aktivitas saraf simpatik yang berdampak pada naiknya tekanan darah dan detak jantung. “Namun, hal tersebut membutuhkan waktu dengan alur yang beragam. Tidak ada penderita GERD akut yang langsung mengalami gagal jantung dalam jangka waktu singkat,” tegas dr. Jordan.

Ia juga mengingatkan bahaya diagnosis mandiri yang kerap terjadi ketika masyarakat merasakan nyeri dada. Menurutnya, kemiripan gejala antara gangguan lambung dan jantung tidak bisa dijadikan dasar kesimpulan tanpa pemeriksaan medis. “Ketika terdapat gejala serupa, khususnya nyeri pada bagian dada, penegakan diagnosis harus dilakukan di fasilitas kesehatan melalui anamnesis dan rangkaian pemeriksaan khusus,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, dr. Jordan membagi faktor risiko penyakit jantung menjadi dua kelompok, yaitu yang tidak dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan. Faktor yang tidak dapat dikendalikan meliputi usia, jenis kelamin, dan genetik. Sementara faktor yang dapat dikendalikan mencakup kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah, gaya hidup, hingga kebiasaan sehari-hari. “Kenali faktor risikonya. Ketika Anda sudah sadar terkait faktor risiko yang melekat pada diri Anda, Anda sudah memiliki akses terhadap tahap pencegahan untuk memperlambat proses memburuknya kondisi. Kita tidak dapat mengendalikan usia, namun dapat mencegah akselerasi kerusakannya,” tuturnya.

Baca Juga :  Satlantas Polres Gresik dan Jasa Raharja Gelar Ramp Check untuk Antisipasi Kecelakaan Bus Pariwisata

Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih serius menjaga kesehatan jantung melalui pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, mengelola stres, tidak merokok, cukup istirahat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Di akhir pernyataannya, dr. Jordan menekankan pentingnya berkonsultasi dengan tenaga medis profesional saat mengalami keluhan kesehatan. “Jangan melakukan diagnosis sendiri. Segera datangi tenaga medis profesional agar penanganan tepat dapat diberikan dan risiko pemburukan kondisi bisa dihindari,” pungkas dr. Jordan.(tok)

No More Posts Available.

No more pages to load.