KILASJATIM.COM, Surabaya – Inovasi di bidang pendidikan kembali hadir dari mahasiswa Universitas Surabaya. Chavel Aiko Ratu, mahasiswa tugas akhir Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), mengembangkan Rasaya, sebuah sistem informasi digital yang dirancang untuk membantu pemantauan dan penanganan kesehatan mental siswa di sekolah.
Rasaya bekerja dengan sistem berbasis peran yang melibatkan admin sekolah, guru dan wali kelas, serta siswa. Platform ini dapat diakses melalui laman web maupun aplikasi ponsel pintar. Data yang diinput pengguna diolah menjadi kesimpulan serta tren kondisi mental siswa, yang kemudian dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pihak sekolah.
Chavel menjelaskan bahwa ide pengembangan Rasaya berangkat dari keprihatinannya terhadap keterbatasan sekolah dalam mencatat kondisi psikologis siswa. “Berdasarkan wawancara dan kuesioner yang saya sebar, ternyata para siswa malu untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan secara langsung kepada gurunya. Jadi, guru juga tidak sepenuhnya paham terkait apa yang sedang dirasakan oleh siswanya,” terang Chavel.
Untuk memperkuat konsep, ia melakukan studi kasus menggunakan data dari salah satu SMA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Data tersebut kemudian ia diskusikan bersama dosen pembimbingnya sebelum mulai merancang sistem. Dalam pengembangannya, Rasaya memanfaatkan metode Lexicon-Based Sentiment Analysis untuk membaca emosi siswa, mengelompokkan data ke dalam kategori seperti stres akademik atau konflik sosial. Validasi sistem juga melibatkan psikolog anak dan remaja agar hasil analisis lebih akurat.
Rasaya dilengkapi berbagai fitur, seperti pelacak suasana hati harian, refleksi diri, laporan teman, riwayat emosi, hingga pemetaan tren kondisi mental per kelas dan angkatan. “Selain itu, ada beberapa program menarik seperti daily mood tracker, fitur lapor teman, refleksi harian, riwayat kondisi emosi, serta tren kelas dan angkatan. Jadi, sumber datanya bersifat multi informan dan tidak subjektif karena melibatkan guru, wali kelas, dan teman,” jelas Chavel.
Hasil analisis dari sistem ini diharapkan dapat membantu guru BK dan wali kelas dalam memberikan pendampingan yang lebih tepat dan terarah, sehingga penanganan kesehatan mental siswa dapat dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Meski demikian, Chavel mengakui proses pengembangan Rasaya bukan tanpa tantangan, terutama pada bagian machine learning. “Dari empat bulan pengerjaan, saya menghabiskan tiga bulan untuk merancang machine learning dengan jumlah revisi yang tidak terhitung. Jujur, itu sangat sulit dan menantang, tapi saya bersyukur bisa melaluinya dengan baik,” tuturnya.
Saat ini, Rasaya masih dalam tahap penyempurnaan setelah dipresentasikan dalam sidang akhir. Chavel berharap sistem ini dapat segera digunakan secara luas. “Saya sangat ingin Rasaya ini dapat membantu banyak pihak, baik sekolah, siswa, guru, dan orang tua secara tidak langsung. Jadi, saya sedang mempersiapkannya agar siap digunakan secara massal,” pungkas Chavel.(tok)




