Foto Ilustrasi
KILASJATIM.COM, Jakarta – Curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya kawasan Jabodetabek sebagai hub penerbangan nasional, berdampak signifikan terhadap operasional berbagai sektor bisnis, termasuk industri penerbangan. Asosiasi maskapai nasional Indonesia National Air Carrier Association (INACA) mencatat kondisi ini berimbas langsung pada penurunan pendapatan atau omzet para operator penerbangan.
Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto menjelaskan, cuaca ekstrem sangat memengaruhi ketepatan jadwal penerbangan. Kondisi tersebut membuat penumpang hanya memiliki dua pilihan yang kurang menguntungkan, yakni penundaan (delay) atau pembatalan (cancellation) penerbangan.
“Ya benar, cuaca ekstrem berpengaruh bagi operasi penerbangan, baik berupa hujan deras dengan durasi yang cukup lama maupun badai tropis. Hal ini khususnya memengaruhi ketepatan waktu take off maupun landing yang selalu didasari prinsip keselamatan atau safety first,” ujar Bayu, Senin (26/1/2026).
Bayu menuturkan, dampak cuaca buruk ini menyebabkan berkurangnya jam terbang atau utilisasi pesawat. Selain itu, gangguan operasional juga berdampak pada kepadatan di bandara akibat penumpukan penumpang yang mengalami penundaan maupun pembatalan penerbangan.
“Demikian juga dampak di bandara akibat penumpukan pax yang tertunda ataupun pembatalan sehingga terminal keberangkatan menjadi lebih padat,” jelasnya.
Menurut Bayu, kerugian pendapatan yang dialami maskapai dapat mencapai dua digit. Kerugian tersebut berasal dari biaya operasional yang tetap harus dikeluarkan, seperti bahan bakar avtur dan biaya kru, serta potensi kehilangan pendapatan akibat penundaan dan pembatalan penerbangan.
“Saat terjadi extreme weather dan terjadi delays atau cancel flight, kerugian omzet bisa mencapai 20–25 persen, karena perlu waktu recovery agar operasi kembali normal,” tutur Bayu.
Untuk menyiasati dampak cuaca buruk tersebut, Bayu mengatakan maskapai mengedepankan komunikasi yang persuasif dan transparan kepada penumpang. Pasalnya, faktor cuaca merupakan kondisi yang sulit diprediksi secara sempurna dan tidak dapat dikendalikan dalam waktu singkat.
“Bagi penumpang juga harus memahami fenomena extreme weather ini apabila terjadi keterlambatan atau pembatalan penerbangan,” pungkasnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, BMKG memprakirakan wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara berpotensi mengalami peningkatan intensitas hujan hingga akhir Januari 2026.(den)




