KILASJATIM.COM, Surabaya – Fenomena pusaran angin dari awan hingga menyentuh permukaan terjadi dua hari berturut-turut di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Peristiwa ini dipicu kondisi atmosfer yang tidak stabil selama masa peralihan musim.
Observer BMKG Trunojoyo Madura, Lavia Farareta, menjelaskan wilayah Madura saat ini memasuki periode pancaroba, yakni peralihan dari musim hujan ke kemarau. Kondisi ini membuat atmosfer menjadi lebih labil dan memicu perubahan cuaca ekstrem dalam waktu singkat.
“Cuaca bisa berubah cepat dari cerah menjadi hujan lebat disertai angin kencang. Pada fase ini, potensi puting beliung dan waterspout juga meningkat,” ujar Lavia, Jumat (24/4/2026).
Selain faktor pancaroba, BMKG juga mencatat adanya pengaruh gelombang atmosfer, seperti gelombang Kelvin ekuatorial, yang turut meningkatkan potensi hujan di wilayah tersebut. Kelembapan udara yang tinggi dan pola belokan angin di sekitar Madura semakin memperkuat pembentukan awan hujan disertai angin kencang.
BMKG memperkirakan kondisi ini masih akan berlangsung setidaknya dalam sepekan ke depan. Masyarakat diminta waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai angin kencang.
Lavia menambahkan, fenomena puting beliung relatif sulit diprediksi karena berskala kecil dan terjadi dalam waktu singkat. Meski begitu, ada sejumlah tanda yang bisa dikenali, seperti udara terasa panas dan lembap, munculnya awan cumulonimbus yang tinggi dan gelap, serta perubahan arah angin yang membentuk pusaran.
“Dampaknya bisa merusak, mulai dari menerbangkan atap hingga menumbangkan pohon, bahkan berisiko menimbulkan korban,” ujarnya.
Sebelumnya, pusaran angin terpantau di Selat Madura dekat Jembatan Suramadu pada Rabu (22/4), lalu kembali muncul di darat pada Kamis (23/4) di area persawahan dekat Universitas Trunojoyo Madura.
Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan rumah dalam dua kejadian tersebut. Meski demikian, BMKG mengimbau warga untuk terus memantau informasi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.(cit)




