ISNU–Unusa Dorong Deteksi Dini Bullying Lewat Sosiometri

oleh -702 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Tingginya kasus perundungan di lingkungan sekolah mendorong Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Surabaya bersama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar workshop nasional deteksi dini bullying bagi guru SD hingga SMA di Surabaya. Workshop yang digelar Senin (12/1/2026) di Gedung Unusa Tower ini menekankan pentingnya penggunaan analisis sosiometri sebagai alat pemetaan relasi sosial siswa untuk mencegah perundungan sejak dini.

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menyampaikan bahwa sekolah merupakan ruang mikrososial yang rawan konflik apabila tidak dikelola dengan pendekatan berbasis data. Menurutnya, penanganan kasus bullying selama ini masih bersifat reaktif. “Selama ini penanganan bullying sering seperti pemadam kebakaran, baru bertindak setelah ada laporan. Padahal kita bisa mencegah lebih awal,” terang Tri Yogi.

Ia menjelaskan, sosiometri memungkinkan sekolah beralih dari pendekatan reaktif ke prediktif. Dengan memetakan hubungan antarsiswa, guru dapat mengenali siswa yang terisolasi sebelum menjadi korban, serta siswa yang mendominasi secara negatif sebelum menjadi pelaku. “Sosiometri berfungsi sebagai radar psikososial. Ketika ada siswa yang tidak dipilih oleh teman-temannya dan terisolasi, itu sinyal bahaya yang harus segera ditindaklanjuti,” katanya.

Tri Yogi menegaskan, analisis sosiometri memiliki tiga kekuatan utama dalam pencegahan perundungan, yakni mengidentifikasi risiko sejak dini, memahami struktur kekuasaan di lingkungan siswa, serta memungkinkan intervensi yang lebih cerdas dan tepat sasaran. “Tugas guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa sendirian di tengah keramaian sekolah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Sruji Bahtiar, menyoroti perundungan dari perspektif nilai keagamaan. Menurutnya, perbaikan hati dan pembentukan karakter menjadi fondasi utama dalam mencegah kekerasan. “Apa yang kita pikirkan akan memengaruhi ucapan, dan ucapan yang diulang akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan itulah yang akhirnya membentuk karakter dan mentalitas,” tutur Bahtiar. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pembinaan moral, pengetahuan, dan regulasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan beradab.

Baca Juga :  Konsorsium PTV Jatim Gelar Pelatihan Digital Marketing, Dukung UMKM

Dalam kesempatan yang sama, Pakar Sosiologi Universitas Negeri Jember, Dr. Rojabi Azharghany, memaparkan hasil penelitiannya di sejumlah boarding school tingkat SMP dan SMA. Ia menemukan bahwa beban aktivitas dan tanggung jawab mental yang berlebihan kerap menjadi akar perundungan. “Sering kali satu anak dibebani tanggung jawab besar untuk mengambil keputusan. Dari situ muncul relasi kuasa yang berujung pada perundungan,” jelas Rojabi. Ia menilai, praktik yang kerap dianggap sebagai ‘pendidikan mental’ justru berpotensi melanggengkan kekerasan, terutama ketika dilakukan oleh anak yang sama-sama masih dalam tahap perkembangan.

Rojabi menegaskan bahwa sosiometri membantu memetakan pihak-pihak yang terlibat, baik pelaku maupun korban, sehingga intervensi dapat dilakukan secara menyeluruh. “Langkah awal yang penting adalah mengakui bahwa perundungan itu salah. Tidak ada cara instan, tetapi menumbuhkan empati pada anak didik harus menjadi perhatian utama setiap pendidik,” pungkas Rojabi.(tok)

No More Posts Available.

No more pages to load.