KILASJATIM.COM, Sampang – Produksi garam di Kabupaten Sampang mengalami penurunan akibat tingginya curah hujan yang terjadi secara berulang dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi cuaca tersebut menghambat proses produksi garam di tambak-tambak garam rakyat yang bergantung pada cuaca panas dan stabil.
Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Sampang, Moh. Mahfud, mengatakan hujan yang turun di luar perkiraan musim kemarau berdampak langsung terhadap kualitas maupun kuantitas produksi garam.
“Hujan menyebabkan kadar air di petak tambak meningkat, sehingga proses kristalisasi garam tidak bisa berlangsung secara sempurna,” ujar Mahfud, Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, produksi garam membutuhkan cuaca panas yang stabil agar proses penguapan air laut berjalan optimal hingga masa panen. Ketika hujan turun secara tiba-tiba, petak tambak berisiko gagal panen.
Menurut Mahfud, gangguan cuaca juga membuat sebagian petani memilih menghentikan sementara aktivitas produksi guna mencegah kerugian yang lebih besar.
“Kami mencatat ada sejumlah petak tambak yang terpaksa dikosongkan karena kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk dilakukan produksi,” katanya.
Dinas Perikanan Sampang terus melakukan pemantauan di lapangan untuk mengetahui kondisi riil produksi garam di sentra-sentra utama, sekaligus sebagai dasar penyusunan langkah antisipasi ke depan.
Dampak cuaca ekstrem tersebut dirasakan langsung oleh petani tambak garam. Salah satunya Mohdi, petani garam di Kecamatan Pangarengan, yang mengaku kesulitan menentukan waktu panen akibat cuaca yang tidak menentu.
“Cuaca yang sering berubah membuat kami sulit menentukan waktu panen, karena hujan bisa turun kapan saja,” ujar Mohdi.
Ia menambahkan, keterbatasan produksi akibat cuaca turut memengaruhi harga jual garam di tingkat petani.
“Saat ini harga garam di tingkat petani mencapai sekitar Rp150 ribu per karung,” pungkasnya.(sam)




