Apel besar tersebut diikuti jajaran Forkopimda, antara lain Komandan Kodim 0822 Letkol Arh. Achmad Yani, Kapolres Bondowoso AKBP Harto Agung Cahyono, Kepala Kejaksaan Negeri, Pengadilan Negeri, personel TNI/Polri, BPBD, relawan, organisasi masyarakat, serta perwakilan instansi pendidikan.
Dalam sambutannya, Bupati Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa Bondowoso merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Karena itu, kewaspadaan kolektif seluruh elemen menjadi hal mutlak.
“Bencana tidak bisa kita tolak, namun risikonya bisa kita kurangi melalui kesiapsiagaan, kedisiplinan, dan kerja sama lintas sektor,” tegas Bupati.
Ia menekankan empat komitmen penting dalam upaya penanggulangan bencana, yaitu:
-
Pemetaan dan sosialisasi wilayah rawan bencana yang terus diperbarui disertai edukasi mitigasi kepada masyarakat.
-
Koordinasi lintas sektor antara BPBD, TNI, Polri, relawan, dan instansi teknis yang semakin terintegrasi melalui sistem komando yang cepat dan responsif.
-
Kesiapan peralatan dan logistik di setiap posko agar selalu siaga dan mampu bergerak cepat saat dibutuhkan.
-
Keterlibatan masyarakat melalui pelatihan dan simulasi kebencanaan untuk membangun budaya tanggap bencana di semua lapisan.
Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel dan relawan yang selama ini telah berdedikasi menjaga Bondowoso dari berbagai ancaman bencana.
“Semangat gotong royong dan solidaritas adalah kekuatan terbesar kita dalam menjaga kemanusiaan,” ujarnya.
Apel kesiapsiagaan ini disebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi seluruh unsur Pentahelix — pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media — dalam mewujudkan Bondowoso yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.(wan)