KILASJATIM.COM, Surabaya – Di tengah duka mendalam akibat runtuhnya bangunan mushala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, proses pemulasaraan jenazah para santri dilakukan dengan penuh kehormatan dan ketelitian sesuai tuntunan syariat.
Tim dari NU Center Jawa Timur yang dipimpin Modin Ahmad Sholeh menjadi garda terdepan dalam penanganan jenazah sejak hari pertama tragedi. Bersama dua rekannya, Modin bertugas di RS Bhayangkara Surabaya selama 24 jam penuh, memastikan setiap jenazah diperlakukan secara layak.

“Kami bertiga siaga tanpa henti. Setiap jenazah kami tangani dengan penuh hormat dan hati-hati,” ujar Modin Sholeh di sela kesibukannya, Selasa (7/10/2025).
Menurutnya, kondisi jenazah korban sangat beragam. Sebagian masih utuh, namun banyak yang mengalami kerusakan akibat tertimpa material bangunan. Karena itu, proses pemulasaraan disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing korban.
“Ada jenazah yang tidak bisa dimandikan menggunakan air karena tubuhnya rapuh. Dalam kasus seperti itu, kami hanya membersihkan bagian yang memungkinkan,” jelasnya di depan ruang autopsi.
Modin menjelaskan, tidak semua jenazah dimandikan secara lengkap karena sebagian korban dianggap wafat dalam keadaan syahid, sesuai ketentuan fikih Islam bagi mereka yang meninggal akibat musibah besar.
“Korban yang syahid tidak perlu dimandikan. Cukup dirapikan dan dishalatkan, karena kematiannya sudah menjadi kesaksian di hadapan Allah,” tutur Modin. “Yang penting, seluruh bagian tubuh dirawat dengan baik dan tidak ada yang tercecer.”
Bagi Modin dan timnya, tugas ini bukan sekadar tanggung jawab, melainkan panggilan iman. “Kami akan terus siap kapan pun dibutuhkan. Ini bukan sekadar tugas, tapi ibadah,” ujarnya dengan suara bergetar.(FRI)


