KILASJATIM.COM, Mojokerto — Jurnalis bukan sekadar peliput saat bencana terjadi. Mereka adalah garda terdepan dalam membangun ketangguhan masyarakat melalui komunikasi yang tepat, empatik, dan berkelanjutan. Hal ini ditegaskan pakar kebencanaan Prof. Eko Teguh Paripurno dalam kegiatan edukasi “Jurnalis Tangguh Bencana” yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Selasa–Rabu (30–31 Juli 2025) di kawasan Pemandian Air Panas Alam Cangar, Tahura Raden Soerjo, Pacet, Mojokerto.
“Komunikasi kebencanaan harus dilakukan sejak sebelum bencana terjadi. Saat pra-bencana, peran jurnalis sangat penting untuk membangun ketangguhan masyarakat,” kata Prof. Eko.
Menurutnya, pemahaman jurnalis terhadap risiko dan kerentanan menjadi kunci agar pemberitaan tak sekadar menyajikan peristiwa, tetapi juga mampu mengarahkan solusi berbasis komunitas.
“Jurnalis perlu memahami konteks risiko agar informasi yang disampaikan bisa mendorong penyelesaian mandiri di tingkat lokal,” ujarnya.
Prof. Eko juga mengingatkan bahwa peran jurnalis dalam isu kebencanaan tidak berhenti saat berita tayang. Mereka juga bertanggung jawab dalam memperkuat kesiapsiagaan publik dan membangun daya tahan sosial.
Kegiatan ini diikuti puluhan jurnalis dari Pokja Grahadi dan Pokja Indrapura. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas media menjadi langkah strategis untuk memperkuat komunikasi risiko.
“Saat peliputan, jurnalis harus mampu menjelaskan informasi kebencanaan dengan bahasa yang baik dan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat,” kata Gatot.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah dan media harus terus diperkuat demi penanganan bencana yang lebih cepat, tepat, dan dipercaya publik.
“Ke depan, kolaborasi ini harus makin solid agar bisa menghasilkan informasi yang menjadi acuan bagi warga dalam menghadapi bencana,” ujarnya.
Edukasi ini juga menghadirkan Komunitas Banyu Bening yang memperkenalkan inovasi pemanfaatan air hujan sebagai sumber air darurat. Inovasi ini menjadi contoh konkret bagaimana masyarakat bisa bertahan secara mandiri dalam kondisi krisis.
Selain itu, jurnalis senior Bahana Patria Gupta turut berbagi pengalaman dan menekankan pentingnya empati dalam meliput peristiwa bencana.
Ketua Pokja Wartawan Grahadi, Fatimatuz Zahroh, menyampaikan bahwa kegiatan edukasi ini telah berlangsung selama tiga tahun terakhir dan terus berkembang, baik dari sisi materi maupun pendekatan.
“Materinya semakin kaya dari tahun ke tahun. Saya optimistis, jurnalis di Jawa Timur akan semakin tangguh dalam meliput isu kebencanaan,” tutupnya. (FRI)




