KILASJATIM. COM, Malang– Dua tahun lalu, pada Agustus 2023, ibunya meninggal tepat dibulan perayaan kemerdekaan republik ini. Ketika ratusan orang berpesta, berjoget di jalan depan rumahnya yang ber halaman luas.
Kabar kematian itu kami terima dari grup WhatsApp. Menurut kawan kami, ibunya Waluyo meninggal karena serangan jantung. Sebab, seminggu sebelumnya beliau opname di rumah sakit setempat, dengan keluhan sama.
“Ibuku meninggal karena tidak kuat mendengar suara sound horeg, mengganggu ritme jantung desibel e keduwuren,” katanya saat di warung kopi, Rabu (16/7/2025).
Sebelum acara karnaval desa, ia sudah meminta pada panitia agar jalannya truk pengangkut sound horeg di percepat, ketika melintas di rumahnya. Ibunya sedang sakit. Panitia yang juga rekannya berkata ” Siap, oke, aman.”
Nyatanya tidak demikian, malah berhenti cukup lama. Suara menggelegar, para penari yang mengiringi truk berjoget-joget. Ia tidak bisa berkata, protes tak digubris. Dari pada ramai dikeroyok warga desa. Waluyo, memilih mengamankan ibunya, dengan memeluk dan menutup kedua telinga sang ibu.
Malang tak dapat diuntung, sepanjang malam ibunya sulit bernafas, selang oksigen telah dipasang ibunya tak tertolong. Menjelang pagi.
Kabar duka menyebar, pada hari yang sama tiga orang meninggal pasca karnaval. Semuanya orang tua yang memiliki riwayat jantung. Dua orang meninggal di rumah dan seorang meninggal di rumah sakit.
“Kita menuntut siapa? Tidak ada yang bertanggung jawab. Mau protes dianggap tidak mendukung kegiatan warga. Malah dimusuhi,” cerita bapak dua anak ini.
Maka ketika kejadian viral, kericuhan antara warga dan peserta karnaval di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang pada Minggu (13/7/2025) lalu. Peristiwa tersebut terjadi karena seorang warga meminta mengecilkan volume sound horeg, yang mengganggu keluarganya yang sakit dan anak kecil setempat. Tapi peserta karnaval tidak terima. Terjadilah cek-cok yang terekam kamera, sampai viral di media sosial.
Kejadian itu mengingatkan akan kepergian ibunya. Ia tidak menyalahkan protes warga karena volume yang tinggi. Sebab tidak semua orang sehat, tidak semua orang tahan dengan suara keras.
“Aku suka musik, di sudut rumah ku ku pasang salon pengeras, tapi tidak ngawur, tidak sampai menggangu orang lain,” kata kontraktor yang tinggal di Desa Kedok, Turen, Kabupaten Malang.
Sebab itu ia merasa heran, ketika awal tahun 2025 lalu Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) menyampaikan peluang sound horeg berpeluang mendapat (HAKI) Hak Atas Kekayaan Intelektual. Dengan kreativitas menciptakan panggung berjalan, memadukan musik modern dan tradisional dengan sentuhan kekinian.
“Tapi kita bisa apa, secara pribadi aku kurang setuju, mengganggu ketenangan orang lain,” imbuhnya.
Sementara dalam halaman Wikipedia, sound horeg lahir di Malang pada 2014. Meroket pasca pandemi Covid-19 ketika orang bosan di rumah dan butuh hiburan. Musik hingar bingar mendapat tempat hingga melahirkan konten kreator audio terkenal seperti Brewok Audio.
Fenomena ini melahirkan kreativitas tinggi dikalangan pelaku seni audio, melalui inovasi dan teknologi, suara dan desain panggung bergerak. Sound horeg, memicu kontroversi, desibel suara yang sangat tinggi melahirkan polusi suara. Bagi mereka yang tidak tahan suara keras. (TQI)

