Bosch Lakukan Terobosan Gabungkan Teknologi Dengan Inovasi Lokal

oleh

*Kurangi Jejak Karbon Hingga Nol di 400 Lokasi di Dunia Pada 2020

 

SINGAPURA, kilasjatim.com: – Bosch, perusahaan penyedia teknologi dan layanan global terkemuka, mengakhiri tahun fiskal 2018 dengan nilai penjualan terkonsolidasi sebesar 14,09 triliun rupiah (839 juta euro) di seluruh Asia Tenggara – naik hampir lima persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sepanjang 2018, Internet
of Things (IoT) dan mobility solutions mendominasi permintaan di seluruh Asia Tenggara. Di Bosch, kami terus memperluas jangkauan solusi kami di sektor ini dengan menyelesaikan beberapa proyek ikonik dan memulai inisiatif baru,” ujar
Martin Hayes, presiden Bosch di Asia Tenggara.

Ditambahkan pihaknya juga mulai melihat hasil positif dari berbagai inovasi Industri 4.0 (I4.0) yang telah diedarkan sebelumnya, dengan proyek-proyek utama yang menghasilkan visibilitas dan permintaan lebih besar untuk solusi.

“Singkatnya, fokus strategi kami pada konektivitas mulai terbayarkan,” imbuhnya.

Secara umum Grup Bosch berharap pembangunan ekonomi global akan stabil pada 2019. Walaupun industri dan wilayah yang penting bagi perusahaan sedang menghadapi tantangan, Bosch berharap penjualan tahun ini tumbuh melebihi nilai yang dicapai pada 2018. Terlepas dari prospek jangka pendek, perusahaan terus mengintensifkan upaya memerangi perubahan iklim dan memperbaiki kualitas udara.

“Perubahan iklim bukanlah fiksi ilmiah, melainkan benar-benar terjadi. Jika kita ingin menanggapi Perjanjian Paris secara serius, maka aksi terhadap iklim jangan dilihat sebagai aspirasi jangka panjang. Justru perlu
diwujudkan dalam jangka waktu singkat,” papar Dr. Volkmar Denner, ketua dewan manajemen Robert Bosch GmbH, pada konferensi pers tahunan di
Renningen, Jerman.

Menurutnya, Bosch berkomitmen untuk memenuhi permintaan publik terhadap kualitas udara yang baik di perkotaan. Sebagai pemimpin inovasi, Bosch
ingin memberikan solusi teknologi untuk masalah ekologi. Inilah sebabnya, di satu sisi, Bosch mengintensifkan upayanya yang sudah berhasil untuk mengurangi CO2.

“Kami akan menjadi perusahaan industri besar pertama yang mencapai tujuan ambisius netralitas karbon dalam waktu setahun
lebih sedikit,” tegas Denner.

Rencananya, mulai 2020, 400 lokasi Bosch di seluruh dunia akan bebas dari emisi karbon. Di sisi lain, Bosch juga mengejar target yang ambisius terkait kualitas udara.

“Kami ingin mengurangi polusi udara dari lalu lintas menjadi hampir nol. Untuk mewujudkannya, kami sedang melihat kemungkinan di luar kap mobil,” ungkap Denner.

Dalam upaya ini, Bosch akan mendasarkan kegiatannya pada tiga pilar utama yakni mengembangkan teknologi powertrain berkadar polusi rendah, bekerja dengan pemerintaho kota untuk proyek-proyek untuk menjaga arus lalu lintas yang stabil serta menerapkan sistem manajemen mobilitas perusahaan di lokasi-lokasi pabrik Bosch.

Sedangkan peranserta Bosch di Indonesia banyak dilakukan dengan kerjasama berbagai pihak diantaranya kemitraan antara Bosch dengan
Pertamina di Indonesia baru-baru ini akan mengawali kemunculan stasiun-
stasiun pengisian daya kendaraan listrik (EV) guna mendukung transisi tersebut.
Langkah ini akan membawa Indonesia lebih dekat dengan ambisinya mewujudkan porsi kendaraan listrik sebesar 20 persen dari total penjualan di
dalam negeri pada 2025.

Inovasi lokal lainnya adalah Bosch Intelligent Microgrid Controller for Asia
(BIMA), solusi micro controller yang mengelola dan mengintegrasikan daya dari berbagai sumber energi, seperti panel surya, baterai atau generator, guna mewujudkan pasokan energi yang dapat diandalkan dan stabil. Dengan
kemampuan cloud-nya, sistem yang diperkuat AI ini secara terus-menerus menganalisis pola penggunaan dan pasokan untuk menghindari pemadaman dan menggunakan sumber energi paling ekonomis. Pemasangan pertama BIMA berlokasi di klinik Nimasi di Indonesia – sarana layanan kesehatan di area terpencil di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Sejak awal pengaktifan BIMA, klinik tersebut tak pernah lagi mengalami listrik padam.

Sebagaimana diketahui Bosch mempekerjakan sekitar 10.000 karyawan di Asia Tenggara, dengan 1.380 di antaranya bekerja pada bidang riset dan pengembangan.
Dampak positif dari I4.0 untuk mendorong pertumbuhan
Dengan banyak proyek I4.0 terdahulu yang kini telah beroperasi, Bosch
mengantisipasi makin ramainya perusahaan yang akan mengikuti langkah dalam menyongsong transformasi digital. Bosch telah membangun pengalaman manufaktur selama puluhan tahun dan mampu membuktikan manfaat dari solusi
I4.0 di pabrik-pabriknya sendiri di seluruh Asia Tenggara. Kontrol pabrik yang lebih cepat, lebih efisien dan fleksibel mendorong pemaksimalan hasil. Dengan
solusi Industri 4.0 dari Bosch, ketersediaan mesin hingga 15 persen lebih tinggi dapat terlaksana, kinerja produksi mencapai 5 hingga 10 persen lebih tinggi serta mengurangi downtime hingga 20 persen. (kj8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *