Telkom Rugi Investasi Rp881 Miliar di GoTo, Mufti Anam Beri Sorotan Tajam

oleh -3 Dilihat

KILASJATIM.COM, JAKARTA: Anggota DPR RI yang membidangi BUMN, Mufti Anam, meminta semua pelat merah dalam melakukan aksi investasi untuk lebih cermat dan dilakukan dengan prinsip good corporate governance (GCG). Hal ini agar investasi BUMN tidak salah arah dan malah berpotensi menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

”Harus hati-hati, harus cermat, berdasarkan GCG, dengan kajian matang dan obyektif. Sehingga investasi BUMN, misalnya ketika membeli saham perusahaan tertentu, benar-benar atas dasar pertimbangan bisnis, bukan orderan dari pimpinan tertentu. Itu GCG-nya harus diperhatikan, jangan ada benturan kepentingan karena orang-orang dekat dari pimpinan ada di perusahaan yang akan disuntik dana,” ujar Mufti Anam kepada media, Kamis (19/5/2022).

Seperti diketahui, publik tengah menyorot rugi investasi yang dialami PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di saham GoTo. Perusahaan telekomunikasi pelat merah itu mencatat kerugian yang belum direalisasi (Unrealized lost) dari perubahan nilai wajar atas investasi itu sebesar Rp881 miliar.

Mufti mengatakan, dalam melakukan investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio, BUMN harus memperhatikan sedikitnya tiga hal. Pertama, BUMN harus memiliki dan menjalankan prosedur operasional standar (SOP) atau manual/panduan dalam berinvestasi.

”Jadi ada prosedur baku dalam berinvestasi, bukan karena ada kepentingan-kepentingan tertentu yang di kemudian hari bisa membebani atau bahkan merugikan keuangan perusahaan,” jelas mantan ketua umum HIPMI Jatim tersebut.

Kedua, lanjut Mufti, adalah patuh pada prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG), di antaranya transparansi dan akuntabilitas. ”Kajian untuk investasi juga harus berdasarkan GCG, jadi jangan dibikin atau diarahkan karena ada pesanan tertentu. Dalam masalah GoTo misalnya perlu dicek, bagaimana GCG atas aksi korporasi Telkom di sana? Murni pertimbangan bisnis atau seperti apa, biar rumor di publik tidak liar. Bahwa harga saham naik-turun wajar memang iya, tetapi pertimbangan investasinya sudah sesuai GCG atau tidak, itu yang dipertanyakan publik,” papar Mufti.

“Kalau tidak ada kerugian yang belum direalisasi dari investasi di GoTo, kan pasti laba Telkom bisa jauh lebih besar,” paparnya.

Aspek ketiga, sambung Mufti, adalah prospek bisnis dalam investasi tersebut. “Kita harus belajar dari banyak investasi BUMN yang merugi. Kalau mau jujur, kan banyak investasi BUMN yang kemudian tak optimal. Termasuk di investasi langsung dengan masuk di bisnis tertentu, seperti BUMN bikin apartemen, pembangkit listrik, dan sebagainya,” jelasnya.

Mufti menambahkan, akibat dari investasi yang keliru, dampaknya pasti ke kinerja BUMN. Bagi BUMN dengan status perusahaan terbuka, dampak lanjutannya adalah pada harga sahamnya yang bisa merosot.

“Investor akan ragu mengakumulasi saham BUMN tersebut. Maka soal investasi ini harus benar-benar cermat, dan yang paling penting bebas dari kepentingan tertentu,” pungkasnya. kj3

No More Posts Available.

No more pages to load.